TintaSiyasi.id -- Hari raya Idulfitri telah berlalu. Ada yang diliputi perasaan suka cita karena bisa berkumpul dengan keluarga, sanak saudara dan kerabat. Tapi ada keluarga yang merasakan kepedihan karena ditinggal pergi oleh orang tercinta.
Kecelakaan telah merenggut orang yang kita cintai. Berharap pulang dari rantau untuk bersua tapi kabar duka yang diterima.
Permasalahan kecelakaan lalu lintas di hari raya, tepatnya saat arus mudik atau arus balik ini sebenarnya sudah menjadi tragedi yang berlangsung secara terus menerus tiap tahun. Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik dan balik. Kecelakaan dan kemacetan saat mudik juga bisa menjadi bencana yang memakan korban jiwa yang tidak sedikit.
Dan seperti biasanya, pemerintah tidak punya upaya serius untuk mengatasi kecelakaan dan kemacetan parah yang terjadi. Hanya upaya upaya tekhnis yang tidak mencukupi, seperti hanya mengoptimalisasi lampu lalu lintas, penggunaan sistem manajemen lalu lintas yang mencakup penggunaan sensor dan kamera untuk memantau kondisi jalan. Dan memantau kondisi pemudik untuk melakukan keselamatan dirinya seperti memakai helm yang sesuai SNI, melengkapi surat surat kendaraan dan hal hal safety lainnya. Upaya ini sungguh tidak menyelesaikan akar masalah dari kemacetan kecelakaan lalu lintas tersebut.
Permasalahan mudik sebenarnya terkait erat dengan minimya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah, sehingga jumlah kendaraan pribadi terutama motor melampaui pertumbuhan panjang yang menyebabkan macet dimana mana. Negara tidak menyediakan transportasi publik yang efisien, murah dan nyaman hingga orang lebih pilih naik transportasi umum daripada kendaraan pribadi.
Infrastruktur jalan juga tidak memadai. Negara tidak mendesain jalan yang berintegrasi. Banyak kerusakan jalan, galian lobang yang tidak terurus dan tata kelola lalu lintas yang kurang teratur. Harusnya ada jalur khusus buat sepeda, pejalan kaki, mobil pribadi maupun kendaraan umum. Sehingga meminimalisir kemacetan yang terjadi.
Sistem Kapitalis membuat negara tidak mewujudkan fungsinya sebagai rain. Negara abai dalan menjamin keselamatan rakyat. Infrastruktur dibangun berdasarkan kepentingan bukan semata mata karena kemaslahatan umat. Seperti pembangunan kereta cepat Whoosh yang menelan biaya hampir Rp 118,37 T dengan jarak 142,3 KM. Sementara Saudi Arabia membangun proyek Saudi Land Bridge menelan biaya 116 T dengan jarak tempuh 1500 KM. Sungguh selisih angka yang membuat kita tercengang. Kemana saja larinya trilyunan itu. Mirisnya biaya yang digunakan adalah dari hasil hutang luar negri.
Di dalam paradigma Islam, negara memposisikan dirinya sebagai raa'in yang mengurusi rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, seperti arus mudik pada saat hari raya. Negara menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, murah dalam jumlah yang mencukupi. Negara juga sigap untuk memperbaiki jalan jalan yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan. Jalanan di desain dengan baik hingga mengurangi macet dan meminimalisir terjadinya kecelakaan.
Oleh: Umul Bariyah
Aktivis Muslimah