Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lebaran di Tengah Cekikan Utang

Jumat, 03 April 2026 | 16:29 WIB Last Updated 2026-04-03T09:29:50Z
Tintasiyasi.id.com -- Ramadhan adalah momen yang istimewa dan kerap ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia setiap tahunnya, lengkap bersama hari lebaran sebagai penutup.
 
Namun di tengah kegembiraan itu, tak sedikit keluarga yang tercekik hutang, terlebih di sini keluarga rakyat Indonesia. Sebelumnya Pihak OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Indonesia telah memperkirakan bahwa pinjol, multifinance, dan gadai akan meningkat selama ramadhan dan lebaran. 

Bahkan untuk memfasilitasi sekaligus melindungi masyarakat dari akun pinjol illegal, blog BloombergTechnoz.com (27 Maret 2026) memberi daftar 95 akun pinjol Legal yang telah di akui keamanannnya. Di lain sisi, akun Instagram @satgas_pasti menyatakan bahwa sepanjang tahun 2025 lalu terdapat 5.547 aduan mengenai investasi bodong.
   
Ini bukan fenomena tak disengaja, sebab daya tahan ekonomi sebagian besar keluarga Indonesia memang sedang melemah disamping meningginya harga barang-barang, bertambahnya ongkos mobilitas, serta meningkatnya tekanan kurs.

Belum lagi jaring pengaman sosial yang hingga hari ini tak sepenuhnya tepat sasaran., menyebabkan jumlah korban penipuan minim pengurangan.

Kapitalisasi momen ramadan dan lebaran telah menimbulkan beban ekonomi dan tekanan sosial dan bagi banyak keluarga. Di era digitalisasi, alih-alih memperbaiki daya beli keluarga yang sedang rapuh, solusi yang disodorkan justru semakin merapuhkan ekonomi keluarga. 

Belum lagi di tengah menurunnya pertumbuhan upah, sirkulasi ekonomi rakyat justru difasilitasi utang, menyebabkan keluarga semakin bergantung pada utang ribawi guna menggenapkan kebutuhan rutin atau semi rutin mereka. 

Ini adalah alarm genting bahwa keluarga hari ini membutuhkan sistem ekonomi yang benar-benar mampu menjamin kesejahteraan, bukan sekadar narasi ekonomi yang hanya ilusi basi.

Sistem ekonomi yang mampu menyediakan lapangan kerja secara merata, sistem ekonomi yang mampu meyeimbangkan distribusi ekonomi yang merata di seluruh keluarga, bukan hanya berpusat pada penguasa kapital, sistem ekonomi yang stabil dari sisi mata uang hingga harga barang. Adakah sistem ekonomi sempurna seperti itu? Tentu ada, Islam jawabannya.
  
Sistem Islam harus hadir sepaket dengan sistem politiknya. Sebab butuh kekuatan politik guna melepaskan belenggu ketergantungan negara dari globalisasi dan liberalisasi perdagangan sehingga negara mampu sepenuhnya menerapkan sistem ekonomi Islam demi melahirkan kembali kesehjateraan yang merata bagi seluruh masyarakat. 

Tak ketinggalan pula, bahwa dengan hadirnya sistem Islam secara kaffah akan mengembalikan momentum Ramadhan dan Lebaran sesuai pandangan Syariat dari sang pencipta, yaitu momentum dimana setiap sudutnya hanya ada ‘perlombaan’ mewujudkan ketaqwaan sebagaimana firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183). 

Taqwa disini tidak sekadar individu saja namun juga tatanan negara supaya terwujud baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (Negeri yang baik (aman, makmur, subur) dan berada dalam ampunan Tuhan Yang Maha Pengampun.

Untuk mewujudkan negara seperti ini, tentunya membutuhkan pemimpin yang bertaqwa dan bertanggung jawab penuh, pemimpin yang memenuhi urusan rakyatnya dengan penuh amanah, sebab ia tahu bahwa segala tindak tanduknya dalam menjalankan amanah kepempinan akan dipertanggungjawabkan seluruhnya di hadapan Allah SWT. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Oleh: Haniyah 
(Aktivis Muslimah)


Opini

×
Berita Terbaru Update