Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Agresi Zi#nis dan Penutupan Al-aqsa, di Mana Perisai Umat?

Jumat, 03 April 2026 | 16:35 WIB Last Updated 2026-04-03T09:35:29Z

Tintasiyasi.id.com -- Langit Gaza kembali memerah. Serangan udara Israel pada Minggu (8/3), menghantam tanah yang telah lama diliputi penderitaan. Warga sipil dan paramedis tak luput dari sasaran. 

Menunjukkan kebengisan Zionis yang tak menunjukkan empati ataupun rasa kemanusiaan.
Tak hanya di Gaza, agresi itu merayap ke Beirut. Bangunan runtuh, fasilitas umum hancur, dan ketakutan kembali mengisi ruang-ruang kota. 

Sekalipun klaim serangan menyasar pada kelompok Hezbollah, namun korban tetap berjatuhan. Sementara di wilayah timur Lebanon, serangan udara lainnya menewaskan tujuh orang dan melukai belasan lainnya. 

Kehancuran seakan menjadi pemandangan berulang, menihilkan nilai nyawa manusia di hadapan kepentingan kekuatan besar.
Namun luka yang tak kering itu tak diobati, umat masih ditusuk dengan bilah pisau tajam ketika akses ke Masjid Al-Aqsa ditutup bagi warga Palestina. 

Kiblat pertama umat tercederai kebengisan penjajah. Simbol kesucian dan kehormatan umat telah terinjak-injak. Realitas ini menegaskan bahwa penindasan terhadap kaum Muslimin terus berulang. 

Sementara dunia diam dan menyaksikan, seakan terbiasa. Kecaman dilontarkan, pernyataan diglorifikasikan, namun tak banyak yang benar-benar bertindak. Sebab dunia hari ini tidak berdiri di atas kebenaran hakiki, ia berdiri di atas kepentingan. 

Dalam sistem kapitalis-sekuler, yang kuat menentukan arah, yang lemah menanggung akibat, dan keadilan kehilangan maknanya.
Berbagai inisiatif politik internasional termasuk upaya-upaya perdamaian seperti Board of Peace digulirkan, berbagai skema politik ditawarkan dengan klaim membawa stabilitas, justru menyimpan kepentingan terbesar, yaitu mempertahankan kontrol dan pengaruh atas wilayah strategis Palestina.

Di sinilah akar persoalan itu terlihat jelas. Eksistensi entitas Zionis di Palestina bukan sekadar pemicu konflik regional, melainkan bagian dari konstruksi imperialisme negara Barat yang ditancapkan di jantung umat untuk mempertahankan kepentingan mereka. 

Selama realitas ini tidak diubah, selama itu pula penindasan akan terus berulang, sekalipun dalam bentuk dan nama yang berbeda.
Sungguh ironi, umat yang dahulu senantiasa memiliki perisai yang menaunginya, kini tercabik-cabik. 

Umat yang pernah berdiri sebagai satu kekuatan besar, kini tak sanggup hanya wilayah ataupun kehormatannya. Mereka tersekat batas imajiner nasionalisme, terjerat kepentingan masing-masing, dan tak memiliki satu kepemimpinan yang melindungi dan menyatukan arah, yaitu Khilafah Islamiyyah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

"Imam (pemimpin) itu adalah perisai. Kaum Muslimin berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Tanpa perisai itu, Gaza terus berdarah. Luka terus bertambah dan menyebar ke negeri-negeri Muslim lainnya. Tanpa Khilafah, Masjid Al-Aqsa akan terus berada dalam bayang-bayang dominasi penjajah. Ia tak berhenti pada pembatasan atau penutupan, mungkin suatu saat nanti akan ada penghancuran. Sungguh mengerikan.

Karena itu, perjuangan tidak bisa berhenti pada simpati atau kecaman semata. Butuh kesadaran mendalam akan urgensitasnya persatuan umat dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Yang hanya tegak dengan adanya perjuangan nyata, terorganisir, dan berlandaskan pada thariqah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. 

Daulah Khilafah yang mampu menantang dominasi global sebagai tandingan negara adidaya. Dengan menggaungkan dan merealisasikan jihad fii sabilillah untuk mengusir penjajah Zionis dari tempat-tempat persembunyian mereka. Membebaskan tanah kaum Muslimin dari cengkeraman imperialisme Barat.

Khilafah tidak akan bermanis muka. Ia tak melempar ucapan kosong, melainkan menerjunkan pasukan pembebasan secara nyata. Ia akan menolak segala perjanjian yang mengakui entitas Zionis eksis di tanah kaum Muslimin.

Sehingga, saat ini umat Islam dihadapkan pada dua pilihan. Tetap berada dalam kondisi tersekat-sekat batas semu nasionalisme yang melemahkan potensi kekuatannya, atau bangkit menyatukan kekuatan dalam satu shaf-shaf rapi di bawah komando seorang Khalifah. Yang akan mengakhiri seluruh bentuk penjajahan di negeri-negeri kaum Muslimin.

Sebab selama perisai itu belum kembali, luka ini akan terus menganga. Dan sejarah akan terus mencatat—bahwa ketika tempat suci dinodai dan darah kaum tertindas tertumpah, dunia memilih diam.

Tanpa perisai, luka akan terus terulang. Tanpa kekuatan yang menyatukan, tragedi hanya akan berganti nama. Dan tanpa arah yang jelas, penderitaan ini akan diwariskan ke generasi berikutnya.
Maka, mengembalikan perisai umat bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Wallahua’lam bishshowwab.[]

Oleh: Ainur Robiatul Adawiyah
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update