TintaSiyasi.id -- Analis Ekonomi dari Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan, kapitalisme liberal adalah sistem rapuh yang tidak menjamin keadilan.
"Sistem yang rapuh ini (kapitalisme) tidak akan pernah bisa menjamin keadilan, makanya kita harus sadar jangan pernah bergantung pada entitas yang lemah kapitalis liberal," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, sepanjang Maret harga minyak tercatat melonjak hingga 59 persen kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah.
"Nah di tengah kepanikan ini kita jadi melihat satu hal betapa rapuhnya tata ekonomi kapitalis liberal yang selama ini kita agung-agungkan, sistem ini seperti apa?" Tanyanya.
Ia menjelaskan, kondisi hari ini sama seperti yang digariskan Allah dalam surah Al Ankabut 41-43.
"Imam Ibnu Katsir menjelaskan perumpamaan orang yang bersandar pada kekuatan selain Allah itu seperti sarang laba-laba, rumah yang paling lemah, artinya siapapun yang bersandar pada kekuatan fisik, jabatan, atau kekayaan tanpa fondasi spiritual dan sistem yang kokoh pada akhirnya akan hancur sendiri," ujarnya.
Ia memaparkan, perbedaan pengeluaran sumber daya, contoh industri militer Iran, dikelola langsung oleh negara, ketika butuh rudal, negara tinggal instruksi, produksi langsung jalan, cepat, efisien, tanpa negosiasi panjang.
"Amerika Serikat dikelola swasta, baru-baru ini saja Departemen Pertahanan Amerika Serikat sempat terancam membatalkan kontrak senilai USD 200 juta atau sekitar 3,36 triliun rupiah dengan perusahaan AI Antropic hanya karena masalah kebijakan penggunaan teknologi," terangnya.
Bayangkan, ia mengungkapkan, di tengah krisis produsen alutsista malah sibuk nego kontrak dan skema bisnis bukan langsung memenuhi kebutuhan negara. "Akibatnya saat negara dalam kondisi krisis finansial atau butuh gerak cepat di medan tempur kebijakan jadi lambat," tegasnya.
Padahal, ia mengatakan, strategi tempur Amerika Serikat dirancang untuk Shock and Awe serangan cepat. Jika logistik harus menunggu tanda tangan kontrak, strategi itu menjadi gagal.
"Inilah gambaran nyata kapitalis liberal ketika menguntungkan, swasta meraup profit luar biasa tetapi giliran rantai pasok bermasalah, negara yang disuruh jadi 'tukang service' untuk menyelesaikan masalah," ujarnya.
Kondisi seperti ini, katanya, membuat masyarakat bertanya reflektif sebetulnya, negara dan pemerintah ini ada untuk kepentingan rakyat atau untuk kepentingan segelintir oligarki?
"Makanya kita harus sadar jangan pernah bergantung pada entitas yang lemah kapitalis liberal, karena selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba, saatnya kita ambil tata kelola berbasis Islam kaffah," pungkasnya. [] Alfia