Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Inilah Watak Asli Politik Kapitalisme Internasional

Kamis, 09 April 2026 | 20:11 WIB Last Updated 2026-04-09T13:11:27Z

TintaSiyasi.id -- Ulama Ustaz Arief B Iskandar, memaparkan watak asli politik kapitalisme internasional.

"Apa yang terjadi hari ini sekali lagi menunjukkan watak asli politik Kapitalisme internasional. Mereka berbicara tentang hukum internasional, tetapi melanggarnya ketika kepentingan berubah. Mereka berbicara tentang solidaritas, tetapi saling menekan ketika biaya membesar. Mereka berbicara tentang keamanan bersama, tetapi tetap mendahulukan keselamatan nasional masing-masing," paparnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Ahad (5/4/2026).

Ia menjelaskan, pernyataan Donald Trump tentang kemungkinan keluarnya North Atlantic Treaty Organization (NATO) dari payung keterlibatan Amerika bukan sekadar retorika politik domestik. Itu adalah pesan keras kepada Eropa: bahwa perlindungan Amerika tidak pernah gratis dan tidak pernah diberikan tanpa syarat.

Dalam logika politik Washington, lanjut dia, sekutu bukan mitra setara. Sekutu adalah pihak yang harus ikut membayar, ikut menanggung risiko dan ikut bergerak sesuai arah strategis yang ditentukan Amerika," ujarnya. 

Karena itu ancaman semacam itu lebih tepat dibaca sebagai instrumen tekanan: memaksa Eropa menerima pembagian beban baru di tubuh NATO; lebih besar biaya militernya, lebih luas keterlibatannya dan lebih tinggi tingkat kepatuhannya terhadap agenda Amerika.

Ia memaparkan, sejak awal, NATO selalu dipromosikan sebagai benteng pertahanan kolektif dunia Barat. Akan tetapi, di balik slogan solidaritas keamanan itu, yang bekerja sesungguhnya adalah kalkulasi kepentingan nasional masing-masing.

"Hari ini retakan itu makin nyata. Amerika ingin NATO tetap efektif sebagai alat mempertahankan hegemoninya. Sebaliknya, banyak negara Eropa mulai bertanya: sampai batas mana mereka harus ikut menanggung risiko global yang sesungguhnya lebih banyak lahir dari kepentingan strategis Amerika sendiri?" Tanyanya. 

"Tarik-menarik itulah yang kini mengemuka. Aliansi tetap dipertahankan, tetapi kesepahaman batin di dalamnya terus menipis," tambahnya. 

Ia mengatakan, bahwa, negara-negara Eropa memahami bahwa keterlibatan militer langsung dalam konflik besar dapat menyeret mereka ke konfrontasi yang sulit dikendalikan, apalagi jika berhadapan dengan Russia yang memiliki kekuatan nuklir. 

"Karena itu pilihan yang selama ini diambil sangat terukur: bantuan senjata, pelatihan militer, dukungan logistik, bantuan teknis; tetapi menghindari benturan langsung. Mereka ingin lawan melemah, tetapi diri sendiri tetap aman. Mereka ingin hasil politik tercapai, tetapi ongkos perang tidak sepenuhnya mereka tanggung. Singkatnya: mereka ingin memperoleh keuntungan tanpa jatuh ke jurang bahaya," ujarnya. 

Ia menjelaskan, masalah mendasarnya: Eropa tidak pernah benar-benar satu suara. Negara-negara Eropa Timur lebih keras karena merasa ancaman berada dekat di depan mata. Sebaliknya, Eropa Barat jauh lebih berhati-hati karena dibebani persoalan ekonomi, energi, stabilitas sosial, serta tekanan opini publik domestik. 

"Karena itu, walaupun berdiri dalam satu aliansi, langkah mereka sering berbeda irama. Letak geografis, ketergantungan energi, kapasitas militer, dan orientasi politik nasional membuat setiap negara membawa kalkulasi sendiri," ungkapnya. 

Amerika memandang Cina sebagai lawan strategis utama dalam jangka panjang. Akan tetapi, bagi Eropa, ancaman yang terasa paling dekat tetap Rusia. Perbedaan prioritas ini membuat hubungan trans-Atlantik makin tidak sederhana. Amerika ingin semua sekutunya bergerak dalam satu garis global. Sebaliknya, Eropa ingin tetap memiliki ruang untuk menjaga kepentingannya sendiri.

"Dalam isu Iran, sikap Eropa pun tidak sepenuhnya sejalan dengan Amerika. Bagi banyak negara Eropa, Iran bukan ancaman langsung terhadap NATO. Konflik antara Amerika dan entitas Yahudi dengan Iran lebih mereka baca sebagai konflik regional, bukan alasan otomatis untuk menyeret seluruh aliansi ke dalam keterlibatan penuh. Karena itu Eropa cenderung menjaga jarak," jelasnya. 

Akan tetapi, Amerika selalu memiliki satu metode tetap: menaikkan ongkos bagi siapa pun yang memilih tidak sepenuhnya ikut.

Oleh karena itu, di tengah retaknya blok-blok besar dunia, sesungguhnya umat Islam sedang disuguhi pelajaran besar: bahwa bangunan politik kapitalisme tidak pernah kokoh sebagaimana yang mereka tampakkan. Aliansi-aliansi besar ternyata dibangun di atas kepentingan, bukan kesetiaan. Kesepakatan mereka bertahan selama keuntungan masih seimbang. Ketika biaya membesar, tekanan pun dimulai.

"Sayangnya, pada saat dunia memperlihatkan retaknya kekuatan internal mereka, kaum Muslim justru masih tercerai-berai, tanpa kepemimpinan politik yang menyatukan," ungkapnya. 

Ia mengutip firman Allah SWT

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra'du: 11).

"Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa perubahan nikmat atau keadaan tidak akan terjadi sampai manusia mengubah sikap, amal dan orientasi mereka sendiri. Karena itu perubahan tidak lahir dari menunggu. Perubahan lahir dari kesadaran. Perubahan lahir dari perjuangan. Perubahan lahir dari kesungguhan menegakkan syariat Allah dalam kehidupan," terangnya. 

Ia mengingatkan, selama umat ini tidak memiliki kepemimpinan politik Islam yang hakiki, selama itu pula umat akan terus menjadi objek permainan kekuatan dunia. Selama umat ini tercerai dalam batas-batas nasionalisme, selama itu pula darah kaum Muslim tetap murah, negeri-negeri Islam tetap mudah ditekan dan kehormatan umat tetap dipertukarkan di meja-meja diplomasi global.

"Dunia sedang retak. Blok-blok besar sedang saling menekan. Akan tetapi, lebih menyakitkan dari semua itu adalah ketika umat yang memiliki Al-Quran justru belum bangkit menjadi kekuatan yang disegani," ungkapnya. 

Padahal, ia menegaskan, sejarah telah berkali-kali membuktikan: ketika umat ini bersatu di bawah hukum-hukum Allah, di dalam naungan institusi pemerintahan Islam global (khilafah), dunia tidak hanya menghormati mereka. 

"Dunia pun segan dan berhitung dengan sungguh-sungguh terhadap kekuatan umat Islam. Tidak seperti saat ini, saat umat Islam jauh dari hukum-hukum Allah SWT, juga saat Khilafah yang menaungi mereka tidak ada, maka dunia begitu mudah meremehkan, menghinakan bahkan terus menimpakan ragam kezaliman kepada mereka. Pertanyaannya: Sampai kapan semua ini akan berakhir?! Sampai kapan pula kita akan tetap diam?" Pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update