Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Guru Dikeroyok Siswa, Murid Dihina Guru: Cermin Pendidikan yang Kehilangan Nilai Islam

Sabtu, 24 Januari 2026 | 12:07 WIB Last Updated 2026-01-24T05:07:39Z

TintaSiyasi.id -- Dunia pendidikan kembali diguncang peristiwa yang memalukan sekaligus menyedihkan. Viral di media sosial, seorang guru SMK di Jambi dikeroyok muridnya sendiri. Peristiwa ini bukan sekadar berita kriminal biasa, tetapi potret buram pendidikan yang sedang kehilangan ruh dan arah. Menurut pengakuan sang guru, kejadian bermula saat ia menegur siswa di kelas ketika proses belajar berlangsung. Namun teguran itu justru dibalas dengan kata-kata tidak pantas dan teriakan kasar dari siswa. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 14 Januari 2026, sebagaimana dilansir detik.com (17/1/2026).

Di sisi lain, versi siswa juga mengungkap fakta yang tak bisa diabaikan. Salah satu siswa menyebut bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina murid dan orang tua, menyebut siswa bodoh dan miskin. Pernyataan ini membuka sisi lain dari konflik yang lebih dalam bahwa relasi guru dan murid yang telah rusak sejak lama. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai peristiwa ini sebagai pelanggaran hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak.

Kasus ini tidak bisa disederhanakan sebagai emosi sesaat atau konflik personal. Ini adalah problem struktural dari sistem pendidikan yang tidak sedang baik-baik saja. Relasi guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan adab justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Murid kehilangan batas sopan santun, guru kehilangan kelembutan dan wibawa. Keduanya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kehancuran marwah pendidikan.

Di satu sisi, tidak ada pembenaran atas tindakan murid yang mengeroyok guru. Itu adalah bentuk kedurhakaan adab, hilangnya rasa hormat, dan kegagalan kontrol diri. Namun di sisi lain, menutup mata terhadap praktik guru yang gemar menghina, merendahkan, dan melabeli murid dengan kata-kata kasar juga merupakan ketidakadilan.

Kata-kata yang melukai psikologis anak bukan pendidikan, tetapi kekerasan verbal yang merusak jiwa. Ketika hinaan dibungkus sebagai “cara mendidik”, maka yang lahir bukan generasi beradab, melainkan generasi penuh amarah.

Inilah buah pahit pendidikan dalam sistem sekuler-kapitalis. Pendidikan dijauhkan dari nilai Islam, dipersempit menjadi proses transfer pengetahuan dan pencapaian target akademik. Adab dikesampingkan, akhlak dianggap urusan privat, sementara sekolah berubah menjadi ruang kompetisi, tekanan, dan pelampiasan emosi. Guru dibebani administrasi dan target, murid ditekan oleh nilai dan standar pasar. Ketika ruh pendidikan dicabut, yang tersisa hanyalah manusia-manusia lelah yang mudah meledak.

Pendidikan dalam Pandangan Islam

Islam memandang pendidikan secara sangat berbeda. Pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia bersyakhshiyah Islamiah.

Rasulullah Saw menegaskan bahwa tujuan utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Ini menunjukkan bahwa akhlak adalah fondasi, bukan pelengkap. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan dan kekerasan.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid diajarkan untuk memuliakan guru (ta’dzim), bukan karena guru selalu benar, tetapi karena guru adalah perantara ilmu.

Sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan hinaan. Guru bukan algojo kelas, bukan pula pelampiasan frustrasi, melainkan figur teladan yang mencerminkan akhlak Islam. Tegas boleh, kasar tidak. Menegur adalah bagian dari pendidikan, tetapi merendahkan adalah bentuk kezaliman.

Islam juga menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Negara tidak sekadar menyediakan gedung dan kurikulum, tetapi memastikan pendidikan berlandaskan akidah Islam.

Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar. Negara memastikan guru dibina secara ruhiyah dan profesional, serta murid dididik dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan beradab.

Dalam sistem Islam, konflik guru dan murid tidak dibiarkan membusuk hingga meledak menjadi kekerasan. Negara hadir sebagai pengurus (raain), bukan penonton. Mekanisme pembinaan, koreksi, dan penyelesaian masalah dilakukan dengan adil dan beradab, menjaga kehormatan semua pihak, terutama anak-anak sebagai generasi masa depan.

Kasus guru dikeroyok murid dan murid dihina guru adalah alarm keras bahwa pendidikan kita sedang kehilangan nilai Islam. Selama pendidikan terus dijalankan dengan paradigma sekuler-kapitalis, selama adab disingkirkan dan akhlak dianggap nomor dua, maka konflik serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang.

Sudah saatnya kita berhenti menambal sulam dan berani bertanya lebih dalam, sistem pendidikan seperti apa yang sedang kita jalankan? Jika jawabannya adalah sistem sekuler, sistem yang justru menjauhkan Islam dari ruang kelas, maka jangan heran jika sekolah berubah menjadi arena konflik, bukan tempat pembentukan manusia beradab.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

Opini

×
Berita Terbaru Update