Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Prinsip Abu Bakar Ketika Memegang Kekuasaan Adalah Paling Siap Dikoreksi

Sabtu, 04 April 2026 | 16:20 WIB Last Updated 2026-04-04T09:20:37Z

TintaSiyasi.id -- Praktisi Kesehatan Ustaz Ilman Silanas, menjelaskan prinsip Abu Bakar ketika memegang kekuasaan adalah paling siap dikoreksi. 

"Ketika memegang kekuasaan dan Abu Bakar telah membuktikan prinsip terbesar Adalah yang paling siap dikoreksi," ujarnya dalam acara Kisah Khilafah #5 Pidato Politik Abu Bakar Ash-Shiddiq Di Akun Youtube RayahTV, Kamis (25/2/2026).

Ia menceritakan, Abu Bakar As Siddiq menyampaikan pidato politik pertamanya ketika di baiat sebagai khalifah. 

"Bayangkan suasana Madinah saat itu Rasulullah SAW, baru saja wafat, umat tergoncang, kepemimpinan kosong, jika salah langkah umat bisa terpecah, di Saqifah Bani Saidah para tokoh Muhajirin dan Anshar melakukan bai'at in’iqad, akad politik antara umat dan pemimpin," paparnya. 

Keesokan harinya, ia melanjutkan, di Masjid Nabawi baiat taat dilakukan oleh kaum muslimin secara umum. Umar Bin Khattab berdiri menenangkan umat dan berkata 'bahwa Allah telah menyatukan urusan mereka kepada sahabat terbaik Rasulullah Abu Bakar'. Lalu Abu Bakar naik ke mimbar pidato. "Itu bukan sekedar ceremonial itu adalah deklarasi, prinsip negara," tegasnya. 

"Kalimat pertama Abu Bakar menghancurkan mentalitas kultus ‘aku telah diangkat memimpin kalian, padahal aku bukan yang terbaik diantara kalian', ini bukan retorik rendah hati, ini adalah pondasi politik pemimpin bukan maksum bukan tanpa salah," terangnya. 

Lalu Abu Bakar menetapkan kontrak sosial 'jika aku benar bantu aku jika aku salah luruskan aku'. "Artinya umat berhak mengawasi mengkritik dan mengoreksi pemimpin bukan hanya boleh tetapi wajib," tambahnya. 

Ia mengutip hadis Arbain An-Nawawiyyah.

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 55].

"Negara tidak berjalan dengan kepatuhan buta, tetapi dengan kontrol umat yang aktif, Abu Bakar melanjutkan 'kejujuran adalah amanah dan dusta adalah khianat'. Dalam politik modern kebohongan sering dianggap strategi, tetapi dalam manhaj Abu Bakar kebohongan adalah penghianatan terhadap hukum," tegasnya. 

Ia menjelaskan, dalam Al-Qur'an memerintahkan 'wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersama orang-orang yang jujur'.

"Nabi memperingatkan pemimpin pendusta tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, artinya krisis kepemimpinan bukan hanya krisis sistem, tapi krisis kejujuran," terangnya. 

Kemudian, Abu Bakar menetapkan prinsip revolusioner 'yang lemah diantara kalian kuat di sisiku sampai aku kembalikan haknya, yang kuat diantara kalian lemah di sisiku sampai aku ambil hak darinya'.

"Ini bukan slogan, ini dibuktikan suatu hari Abu Bakar tanpa sengaja memukul seorang rakyat setelah selesai membagikan harta ia memanggil orang itu dan berkata 'balaslah aku'. Umar menolak tetapi Abu Bakar berkata 'siapa yang akan menyelamatkanku dari Allah di hari kiamat', akhirnya ia memberi kompensasi hingga orang itu ridha," kisahnya. 

"Bayangkan kepala negara takut pada pengadilan Allah lebih daripada kehilangan wibawa politik itulah keadilan yang membuat yang lemah merasa aman," ujarnya. 

Dalam distribusi harta negara, ia mengatakan, Abu Bakar tidak membedakan antara sahabat senior dan muslim biasa, antara laki-laki dan perempuan, antara merdeka dan budak, semua mendapatkan bagian yang sama. 

"Ketika ada yang mengusulkan agar tokoh senior mendapatkan lebih, Abu Bakar menjawab 'keutamaan mereka pahalanya di sisi Allah, adapun ini adalah kebutuhan hidup dan persamaan lebih baik daripada diskriminasi'. Ini adalah konsep welfare state berbasis keadilan tanpa kasta politik," ungkapnya. 

Abu Bakar juga menegaskan, lanjutnya, tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad kecuali Allah timpakan kehinaan, tidaklah kemaksiatan menyebar kecuali Allah turunkan bala. "Pesannya jelas kekuatan umat bukan hanya militer dan ekonomi tetapi juga moral dan komitmen terhadap agama," lugasnya. 

Negara kuat lahir dari masyarakat yang bersih secara nilai. Dan klimaks pidatonya 'taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan rasulnya jika aku bermaksiat tidak ada kewajiban taat kepadaku'.

"Inilah prinsip yang sangat penting ketaatan kepada pemimpin bersyarat bukan mutlak, loyalitas tertinggi bukan pada Klkekuasaan tetapi kepada kebenaran," terangnya. 

Ia mengungkapkan, pidato Abu Bakar bukan sekedar sejarah Ia adalah blueprint kepemimpinan, pemimpin bisa dikritik, kejujuran adalah pondasi, keadilan tanpa memandang pandang bulu, persamaan di depan negara, moral sebagai kekuatan umat, ketaatan yang bersyarat kepada kebenaran.

"Bayangkan jika prinsip ini hidup hari ini bukan hanya sistem yang berubah tapi budaya politik kita karena pada akhirnya kepemimpinan yang benar bukan tentang siapa yang berkuasa tetapi tentang siapa yang paling takut kepada Allah," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update