Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pelajaran Besar bagi Umat Islam Dari Perang AS-Israel versus Iran

Selasa, 07 April 2026 | 13:33 WIB Last Updated 2026-04-07T06:34:07Z

TintaSiyasi.id -- Ulama Ustaz Arief B Iskandar, memaparkan pelajaran besar umat Islam dari perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran.

"Di sinilah pelajaran terbesar harus dibaca oleh umat Islam. Negeri-negeri Muslim terus menjadi arena benturan global . Pasalnya, Dunia Islam tidak memiliki kepemimpinan politik tunggal yang melindungi seluruh wilayahnya," ungkapnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Ahad, (5/4/2026).

Ia menjelaskan, perang yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran ternyata tidak bergerak sesuai dengan skenario cepat yang dibayangkan oleh Donald Trump. Pada fase awal, Washington tampak sangat yakin bahwa tekanan militer besar akan segera mengguncang Teheran, memukul pusat kendali kekuasaan, lalu memaksa Iran menerima posisi baru: tunduk sepenuhnya di bawah kehendak Amerika Serikat.

"Akan tetapi, perang bukan sekadar hitungan teknologi, jumlah rudal atau superioritas udara. Ada unsur yang sering gagal dihitung oleh kekuatan besar: daya tahan politik internal lawan," ungkapnya. 

Kemudian, alih-alih Iran segera roboh, yang muncul justru perlawanan keras dari unsur militer paling ideologis di negeri itu: Garda Revolusi. Dari titik inilah kegelisahan Amerika mulai tampak jelas. Pernyataan Trump berubah-ubah. Dari ultimatum 48 jam, bergeser menjadi lima hari, lalu sepuluh hari. Bahkan kemudian muncul proposal 15 butir syarat yang, jika dibaca secara jernih, sesungguhnya bukan tawaran damai, melainkan format penyerahan politik total Iran kepada Washington. 

“Semua ini menunjukkan satu fakta: Amerika belum memperoleh hasil strategis yang diinginkan,” ujarnya.

Sejak awal, sasaran utama Amerika tampak bukan semata menghancurkan kemampuan militer Iran, melainkan mengubah posisi Iran dari negara yang masih memiliki ruang manuver geopolitik menjadi negara yang sepenuhnya jinak.

"Amerika memahami bahwa selama bertahun-tahun Iran memang bergerak dalam orbit pengaruh global Barat (AS) dalam banyak sisi, tetapi tetap menyisakan unsur pembangkangan strategis; terutama dalam isu nuklir, rudal, jaringan regional dan posisi di Selat Hormuz," tegasnya. 

Karena itu, ia mengatakan, serangan besar AS dilakukan dengan asumsi sederhana: pukul pusat kepemimpinan, habisi elit inti, lalu munculkan figur baru yang lebih kompromistis. Akan tetapi, kalkulasi itu meleset. Struktur internal Iran ternyata tidak runtuh secepat dugaan Washington. Garda Revolusi justru mampu mengendalikan keadaan, lalu merespon dengan serangan rudal dan drone ke berbagai sasaran, termasuk wilayah Israel dan pangkalan Amerika di kawasan Teluk.

"Di sinilah Amerika tersentak. Sebabnya, perang yang dirancang singkat berubah menjadi situasi yang memaksa mereka berhitung ulang," ungkapnya.

Ia memaparkan, perang ini sekaligus membuka realitas internal Iran sendiri. Pertama: Arus Garda Revolusi yang cenderung keras dan ingin Iran bergerak lebih independen. Kedua: Unsur sipil-politik yang tetap membuka ruang negosiasi.

"Karena itu tidak mengherankan jika rudal terus diluncurkan, sementara jalur komunikasi tetap hidup. Dalam politik global, perang sering bukan pengganti negosiasi, tetapi alat untuk memperkeras posisi tawar dalam negosiasi," tambahnya. 

Di tengah tekanan terhadap Iran, ia mengungkapkan, Israel juga mengarahkan perhatian ke selatan Lebanon. Pernyataan Israel Katz tentang pembangunan zona pengaman sampai Sungai Litani menunjukkan bahwa perang regional ini tidak berdiri sendiri. Ada desain wilayah yang terus diperluas sedikit demi sedikit. 

"Akan tetapi, target itu tidak mudah. Wilayah selatan Lebanon bukan ruang kosong. Ia menyimpan sejarah resistensi panjang. Karena itu jika tekanan Amerika terhadap Iran melemah maka daya tekan Israel pun ikut menurun," jelasnya. 

Allah SWT berfirman:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Katakanlah kepada orang-orang kafir, "Kalian pasti akan dikalahkan. Kalian pun pasti akan digiring ke dalam Neraka Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS Ali 'Imran [3]: 12).

Ia mengutip, Imam Ibnu Katsir, di dalam Tafsiir al-Qur'aan al-'Azhiim (2/19), ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai ancaman politik terhadap kekuatan kufur yang merasa unggul, sekaligus kabar bahwa kemenangan hakiki berpihak kepada kaum Mukmin ketika mereka tegak di atas sebab-sebab pertolongan Allah. 

Lanjutnya, menurut Imam ath-Thabari dalam Jaami' al-Bayaan (6/287), ayat ini menunjukkan janji Allah SWT tentang kekalahan politik, militer dan moral orang-orang kafir yang memerangi risalah Allah-Nya. Artinya, ayat ini bukan sekadar janji (ancaman) akhirat terhadap kaum kafir, tetapi juga mengandung sunnatullah sejarah dunia tentang kepastian kekalahan mereka dari umat Islam. 

"Secara historis, kekalahan mereka atas kaum Muslim sudah terbukti berkali-kali pada era Daulah Islam pimpinan Baginda Rasulullah saw., era Khulafaur Rasyidin dan era Kekhilafahan Islam setelah itu selama berabad-abad lamanya. Hal itu, antara lain, dibuktikan dengan luasnya wilayah kekuasaan Daulah Islam atau Khilafah Islam saat itu, yang pernah menguasai hampir dua pertiga dunia," ungkapnya. 

Oleh karenanya, inilah urgensi Khilafah harus dibaca secara jernih. Imam al-Mawardi berkata dalam Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah

الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

Imamah (Khilafah) ditegakkan sebagai pengganti kenabian untuk menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama.

"Pernyataan ini menunjukkan bahwa syariah Islam tidak bisa hidup tanpa institusi politik dan pemerintahan Islam (khilafah). Sebabnya, tanpa kekuasaan (khilafah), hukum-hukum Islam yang bersifat publik tidak mungkin berjalan," jelasnya. 

"Hari ini Dunia Islam memiliki ragam sumberdaya yang amat besar. Selain sumberdaya manusia yang berjumlah tidak kurang dari dua miliar saat ini, mereka pun memiliki sumberdaya alam yang melimpah-ruah (minyak, gas); juga jalur laut strategis, posisi geografi sentral. Akan tetapi, dengan semua pontensi itu, umat Islam tampak tak berdaya. Mengapa? Sebabnya, mereka tercerai-berai. Akibatnya, saat satu negeri ditekan, negeri lain diam. Saat satu wilayah dibombardir, wilayah lain sibuk menghitung kepentingannya sendiri," tegasnya. 

Padahal, sejarah membuktikan: ketika umat memiliki satu kepemimpinan global (Khilafah Islam), dua imperium terbesar dunia Kekaisaran Persia Sasaniyah dan Kekaisaran Romawi Timur jatuh dan bisa dikuasai hanya dalam hitungan dekade. 

"Iran memang mampu memberikan pukulan terhadap musuh. Akan tetapi, pukulan parsial tidak identik dengan perubahan peradaban. Selama Dunia Islam tetap terpecah, selama tidak ada kepemimpinan tunggal umat, benturan hanya melahirkan siklus perang yang berulang," lugasnya. 

Allah SWT berfirman:

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan langkah kaki kalian (QS Muhammad [47]: 7).

Ia mengutip, Fakhruddin ar-Razi dalam Mafaatih al-Ghayb menjelaskan bahwa pertolongan Allah SWT pada ayat ini terkait dengan tegaknya loyalitas total pada syariah-Nya, bukan sekadar semangat emosional semata.

"Hari ini Amerika mungkin masih tampak dominan. Trump mungkin masih mengancam. Israel mungkin masih bergerak. Akan tetapi, sejarah belum selesai. Sebabnya, sesungguhnya yang paling ditakuti kekuatan besar dunia bukan hanya rudal, bukan hanya serangan drone, bukan hanya perang regional terbatas. Yang paling mereka takutkan adalah ketika umat Islam sadar bahwa kelemahan terbesar mereka bukan kurangnya sumberdaya, tetapi hilangnya kepemimpinan politik yang menyatukan. Begitu kesadaran itu bangkit, maka peta dunia dapat berubah. Sebabnya, darah kaum Muslim yang tertumpah dari Palestina hingga kawasan Teluk sesungguhnya sedang mengajukan satu pertanyaan besar: Sampai kapan umat sebesar ini hidup tanpa pelindung politik yang satu?" Paparnya.

Jika pertanyaan itu telah berubah menjadi kesadaran kolektif maka yang berguncang kelak bukan hanya satu pangkalan militer. Bukan hanya satu rezim. Akan tetapi, seluruh bangunan dominasi global yang selama ini berdiri di atas tercerai-berainya umat juga akan terguncang. 

"Ketika umat benar-benar kembali menegakkan kepemimpinan Islam global (khilafah), dunia akan menyaksikan bahwa janji Allah SWT tentang kemenangan umat Islam bukanlah slogan. Ia adalah kepastian sejarah," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update