TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz M. Ismail Yusanto memparkan alasan mengapa Palestina harus terus dibela.
"Karena mereka adalah saudara kita sesama Muslim. Kalau logikanya kita baru membela mereka karena mereka punya jasa kepada kita, sama juga, lalu atas kewajiban apa mereka harus membela kita umat Islam di Indonesia. Kalau umpamanya kita diperlakukan seperti itu. Ini satu logika yang selfish, dan itu tidak ada tempat dalam ajaran Islam," ujarnya di akun YouTube, UIY Official, Rabu (2/4/2026).
Ia menyampaikan, ajaran Islam mengajarkan kepada masyarakat tentang persaudara universal, persaudaraan yang diikat oleh akidah Islam Innamal mu'minuna ikhwah (Qs. Al Hujurat 10)
Ia mengutip hadis,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
Dari Nu'man bin Basyir semoga Allah meridhoi keduanya berkata, bersabda rasulullah shalallahu alaihi wa salam :
“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”[HR. Al-Bukhari (no. 6011), Muslim (no. 2586) dan Ahmad (IV/270), dari Sahabat an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhuma, lafazh ini milik Muslim.
"Itu alasan paling mendasar, maka umat Islam yang benar itu enggak pernah tidak peduli terhadap apa yang terjadi menimpa saudara kita di berbagai belahan dunia, karena sesungguhnya kita pun dulunya juga satu," tegasnya.
Ia menjelaskan pandangan nasionalisme, yang menyebabkan Muslim hari ini baru berpihak kepada Palestina.
"Oh ya itu pasti nasionalisme, dan nasionalisme itu enggak akan berhenti, ketika misalnya ditarik ke Indonesia nanti ketika ada Jawa itu punya masalah lalu orang Aceh atau orang tempat lain akan mengatakan Kenapa kita harus membantu orang Jawa bukankah orang Jawa dulu menyusahkan kita, nanti Jawa juga begitu kita Jawa Tengah Jawa Barat itu Jawa Tengah ngapain kita harus membantu Jawa Barat mungkin kita Jawa Tengah juga susah yang Jawa Tengah juga begitu nanti," contohnya.
Sehingga, jika umat Islam mengadopsi tribalisme sangat bahaya sekali, serta upaya memecah belah persatuan umat Islam.
"Dan tidak akan pernah habis sampai ke akhirnya tetangga, kenapa kita membantu tetangga itu tetangga enggak pernah berjasa sama kita, di rumah akan begitu juga kakak adik gitu ngapain juga dia selama ini udah bikin susah kita ini begitu seterusnya sampai pada level yang sudah ndak masuk akal lagi tribalisme itu bahaya sekali," ungkapnya.
Ia menambahkan, penjajah tahu cara membelah umat Islam dengan ikatan shabiyah. "Itu memang dirasakan sebagai satu apa yang disebut dengan dalam bahasa animal instinct (ashabiyah) dan itu yang bisa melawan atau yang bisa menghilangkan adalah Islam, tetapi sebaliknya ketika Islam kendor maka itu (ashabiyah) bisa dibangkitkan lagi dan itu sebenarnya sudah berulangkali dipakai seperti di masa nabi," ungkapnya.
Ia mengutip perkataan nabi saat Haji Wada.
"Laa fadhla li-arabiyyin ala ajamiyyin wa laa li-ajamiyyin ala arabiyyin wa laa li-ahmara ala aswada wa laa aswada ala ahmara illa bi-ttaqwa,". Yang artinya: "Tak ada kelebihan orang Arab dari yang bukan Arab (ajam), yang bukan Arab dari orang Arab, yang berkulit merah dari yang berkulit hitam, dan yang berkulit hitam dari yang berkulit merah, selain dari ketakwaannya,".
"Itukan ditekankan dalam Haji Wada, nabi menghapus semua tribalisme, ashabiyah apapun nasionalisme, kebangsaan, kesukuan dan sebagainya," pungkasnya.[] Alfia