TintaSiyasi.id -- Analis Ekonomi dari Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan saat ini ekonomi bukan lagi sekadar perdagangan tetapi alat strategi global.
"Ekonomi bukan lagi sekadar perdagangan tetapi alat strategi global dan mungkin ini adalah bentuk baru dari perang, bukan dengan senjata tetapi dengan modal dan investasi," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam politik global hari ini ekonomi tidak pernah benar-benar netral setiap angka selalu punya makna, setiap investasi adalah strategi.
"Ketika, Jepang mengalihkan investasi ratusan miliar dolar ke Amerika Serikat, yang terjadi bukan sekadar transaksi yang terjadi adalah pergeseran rantai pasok global," jelasnya.
Ia menambahkan, produksi mulai berpindah, teknologi strategis mulai dialihkan, dan ketergantungan pada Cina perlahan dikurangi.
"Selama ini Cina tumbuh sebagai pusat manufaktur dunia karena tiga hal utama, modal asing, tenaga kerja murah, dan integrasi global," ujarnya.
Disatu sisi ia mengajak melihat, jika Jepang harus menopang Amerika Serikat dengan 550 miliar dolar maka muncul satu pertanyaan reflektif apakah Amerika masih cukup kuat berdiri sendiri?
"Disatu sisi Amerika tetap pusat teknologi global tetapi disisi yang lain ia makin bergantung pada aliansi. Ini paradoks Amerika terlihat kuat tetapi kekuatannya sekarang bersifat kolektif, bukan mandiri, lalu bagaimana dengan Cina?" Jelasnya.
Ia menambahkan, Cina tidak akan runtuh tetapi pertumbuhannya bisa melambat ketika investasi asing mulai berkurang, rantai pasok terdiversifikasi dan akses teknologi makin dibatasi ini yang disebut sebagai decoupling bertahap, dan dari sini kita bisa melihat gambaran besarnya globalisasi yang dulunya menyatukan dunia, sekarang mulai terpecah.[] Alfia