Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jalan Kebenaran dan Bahaya Penyimpangan: Tafakur Sufistik atas QS. Hud Ayat 18—19

Rabu, 01 April 2026 | 18:45 WIB Last Updated 2026-04-01T11:45:13Z
TintaSiyasi.id-- Pendahuluan: Ketika Agama Menjadi Cahaya atau Justru Kegelapan

Dalam perjalanan hidup manusia, agama sejatinya adalah cahaya yang menuntun menuju Allah. Namun, cahaya itu bisa berubah menjadi kegelapan ketika manusia mulai mempermainkannya, menafsirkan tanpa ilmu, berbicara tanpa amanah, dan menggunakan agama untuk kepentingan duniawi.

Di sinilah Allah mengingatkan kita dalam QS. Hud ayat 18–19: tentang manusia paling zalim. Mereka yang berdusta atas nama-Nya dan menghalangi manusia dari jalan-Nya.

Allah Swt., Berfirman ;
QS. Hud: 18

> وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۚ أُولَٰئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Artinya:
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi berkata: ‘Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.’ Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.

QS. Hud: 19

 الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki agar jalan itu bengkok, dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya kepada kehidupan akhirat.”

Makna Ideologis: Siapakah Orang Paling Zalim?
Para ulama seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, dan Tafsir Al-Tabari menjelaskan bahwa:
Kezaliman terbesar bukan sekadar dosa pribadi, tetapi memanipulasi kebenaran atas nama Allah.

Ini mencakup:
Mengeklaim sesuatu sebagai ajaran Allah, padahal bukan

Menyembunyikan kebenaran demi kepentingan tertentu

Mengubah makna agama agar sesuai hawa nafsu

Dalam perspektif ideologis, ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap wahyu.

Dimensi Sufistik: Penyakit Hati yang Paling Halus

Dalam dunia tasawuf, dosa ini tidak selalu tampak kasar. Ia sering hadir dalam bentuk yang halus:

Berbicara agama untuk mendapatkan pujian

Menjadikan dakwah sebagai alat popularitas

Menjual ayat demi kekuasaan

Inilah yang disebut oleh para arifin sebagai:
“Hijab cahaya”—terlihat benar, tetapi sebenarnya menyesatkan.

Hati yang terjangkit penyakit ini kehilangan keikhlasan. Ia tidak lagi mencari Allah, tetapi mencari dunia dengan pakaian agama.

Menghalangi Jalan Allah: Kezaliman Kolektif

Ayat 19 mempertegas bahwa mereka bukan hanya sesat secara pribadi, tetapi juga:

Menghalangi orang lain dari jalan Allah

Bentuknya bisa beragam:

Menyebarkan keraguan terhadap kebenaran

Membuat agama tampak sulit dan menakutkan

Mengaburkan antara haq dan batil

Dalam istilah sufistik, ini adalah:

Zulm muta’addi (kezaliman yang menular dan merusak banyak jiwa)

Lebih berbahaya daripada dosa pribadi karena dampaknya luas dan berkepanjangan.

Membengkokkan Jalan Allah: Distorsi Kebenaran

Frasa “yabghūnahā ‘iwajā” (menginginkan jalan itu bengkok) menunjukkan upaya sistematis untuk:

Mengubah nilai menjadi relatif

Menjadikan kebatilan tampak indah

Mengganti prinsip dengan opini

Ini adalah tanda hati yang telah kehilangan nur (cahaya ilahi).

Orang seperti ini tidak lagi melihat kebenaran sebagai sesuatu yang harus diikuti, tetapi sesuatu yang bisa dimanipulasi.

Akar Masalah: Lemahnya Iman kepada Akhirat

Ayat ini ditutup dengan penegasan:
“Dan mereka itulah orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat.”

Inilah akar dari semua penyimpangan:

Ketika akhirat tidak diyakini, maka tidak ada rasa takut akan hisab

Tidak ada kehati-hatian dalam berbicara tentang agama

Dalam tasawuf:
Iman kepada akhirat adalah rem spiritual bagi hawa nafsu. Tanpanya, manusia akan bebas menabrak batas-batas Allah.

Refleksi untuk Para Dai dan Pencari Ilmu

Wahai para penyeru kebaikan…

Ayat ini bukan hanya peringatan bagi orang kafir, tetapi juga:

Cermin bagi para dai

Alarm bagi para penuntut ilmu

Ujian bagi setiap lisan yang berbicara tentang agama

Tanyakan pada diri:

Apakah aku menyampaikan kebenaran atau sekadar opini?

Apakah aku mengajak kepada Allah atau kepada diriku sendiri?

Apakah aku meluruskan jalan atau justru membengkokkannya?

Penutup: Menjaga Amanah Ilahi

Agama ini adalah amanah. Ia bukan milik kita untuk dipermainkan, tetapi titipan Allah untuk dijaga.

Barangsiapa menjaga lisannya dalam menyampaikan agama:

Allah akan menjaga hatinya dari kesesatan

Namun, siapa yang berani berdusta atas nama Allah:

Maka ia sedang membuka pintu laknat bagi dirinya sendiri

Doa Sufistik

Ya Allah… Jadikan kami hamba-hamba yang jujur dalam berkata tentang-Mu
Jangan Engkau jadikan kami sebab kesesatan bagi orang lain
Karuniakan kami hati yang lurus dan lisan yang amanah
Dan wafatkan kami dalam keadaan mencintai kebenaran…

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update