Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menghidupkan Waktu dengan Ketaatan

Rabu, 18 Maret 2026 | 16:14 WIB Last Updated 2026-03-18T09:14:55Z
TintaSiyasi.id -- Dakwah Ideologis–Sufistik tentang Nilai Kehidupan Seorang Mukmin

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ ۝
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝

Demi masa.
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.

Para ulama seperti Muhammad ibn Idris al-Shafi'i mengatakan bahwa surah ini merangkum seluruh jalan keselamatan manusia.

Empat syarat agar manusia tidak merugi adalah:
1. Iman (keyakinan yang benar kepada Allah)
2. Amal saleh (perbuatan nyata yang baik)
3. Tawasau bil-haq (menyeru kepada kebenaran)
4. Tawasau bis-sabr (saling menasihati untuk sabar)

Empat hal ini adalah pilar kehidupan seorang mukmin.
Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah waktu. Ia tidak terlihat oleh mata, tidak dapat disentuh oleh tangan, tetapi menentukan nilai seluruh kehidupan manusia. Setiap detik yang berlalu sejatinya adalah bagian dari umur yang berkurang. Karena itu para ulama salaf sering berkata:

“Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Barang siapa menyia-nyiakan waktunya, berarti ia menyia-nyiakan kehidupannya.”
Manusia sering merasa memiliki banyak harta, banyak kesempatan, dan banyak rencana. Namun pada hakikatnya modal terbesar manusia hanyalah waktu yang Allah titipkan kepadanya. Ketika waktu habis, maka seluruh kesempatan pun berakhir.

Dalam kitab Kifayatul Atqiya, para ulama memberikan nasihat yang sangat mendalam:
“Gunakanlah semua waktumu untuk ketaatan. Jangan biarkan waktu itu berujung sia-sia.”

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung falsafah hidup seorang mukmin. Ia mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh berjalan tanpa arah. Setiap detik harus memiliki nilai, setiap langkah harus memiliki tujuan, dan setiap aktivitas harus mendekatkan manusia kepada Allah.

Waktu adalah Amanah Ilahi

Jika manusia merenung dengan jujur, ia akan menyadari bahwa waktu adalah amanah yang sangat mahal. Tidak ada kekuatan apa pun yang mampu mengembalikan satu detik yang telah berlalu. Bahkan seluruh kekayaan dunia pun tidak mampu membeli kembali waktu yang hilang.

Karena itu Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan manusia tentang nilai waktu. Allah bersumpah dengan waktu dalam banyak ayat sebagai tanda bahwa waktu memiliki kedudukan yang sangat agung dalam kehidupan manusia.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sumpah Allah atas waktu menunjukkan bahwa:

1. Waktu adalah modal utama kehidupan manusia
2. Waktu adalah tempat manusia menanam amal
3. Waktu adalah ukuran keberuntungan atau kerugian manusia

Maka orang yang cerdas bukanlah orang yang hanya mengumpulkan kekayaan dunia, tetapi orang yang mampu memanfaatkan waktunya untuk kebaikan yang bernilai abadi.

Tanda Kuatnya Islam Seseorang

Salah satu ukuran kedewasaan iman adalah kemampuan seseorang menjaga waktunya dari hal-hal yang sia-sia. Hal ini ditegaskan dalam sabda Muhammad:

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”

Hadis ini adalah kaidah besar dalam membangun kepribadian Muslim. Ia mengajarkan bahwa kualitas iman tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuan seseorang meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.

Banyak orang terjatuh bukan karena dosa besar, tetapi karena terlalu larut dalam perkara yang tidak penting. Waktu habis dalam perbincangan kosong, kesibukan yang tidak bernilai, dan hiburan yang berlebihan.

Padahal seorang mukmin yang matang jiwanya akan selalu bertanya kepada dirinya:
• Apakah aktivitas ini mendekatkan aku kepada Allah?
• Apakah waktu yang aku gunakan membawa manfaat bagi akhiratku?
• Apakah langkah yang aku lakukan memberi kebaikan bagi manusia?
Jika jawabannya tidak, maka ia akan meninggalkannya dengan tenang.

Filosofi Waktu dalam Tasawuf

Para ulama tasawuf memiliki perhatian yang sangat besar terhadap waktu. Mereka memandang waktu sebagai nafas kehidupan ruhani.
Seorang arif pernah berkata:

“Waktu adalah pedang. Jika engkau tidak memanfaatkannya dengan baik, maka ia akan memotongmu.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa waktu dapat menjadi sumber kemuliaan atau sumber penyesalan. Orang yang mengisinya dengan dzikir dan amal saleh akan meraih kedekatan dengan Allah. 

Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakannya akan merasakan kehampaan dalam hidupnya.

Karena itu para ulama salaf sangat menjaga waktunya. Mereka membagi hidupnya dalam tiga aktivitas utama:
1. Waktu untuk Allah
dengan shalat, dzikir, tilawah, dan doa.
2. Waktu untuk ilmu
dengan belajar, membaca, dan mengajarkan kebenaran.
3. Waktu untuk pelayanan kepada manusia
dengan membantu, berdakwah, dan memberi manfaat.
Dengan pola hidup seperti ini, setiap detik kehidupan menjadi bernilai ibadah.

Penyakit Zaman: Kesia-siaan yang Tidak Disadari

Salah satu penyakit besar masyarakat modern adalah terlalu mudah menyia-nyiakan waktu. Teknologi yang seharusnya memudahkan kehidupan justru sering membuat manusia semakin lalai.
Berjam-jam waktu habis dalam aktivitas yang tidak memberi nilai bagi jiwa. Hati menjadi kosong, pikiran menjadi lelah, tetapi ruh tidak mendapatkan ketenangan.

Padahal kebahagiaan sejati tidak lahir dari kesibukan dunia yang berlebihan, tetapi dari kedekatan hati kepada Allah.
Orang yang hatinya dekat kepada Allah akan merasakan bahwa waktunya sangat berharga. Ia tidak akan rela membiarkan hari-harinya berlalu tanpa amal.

Mengisi Waktu dengan Amal yang Menghidupkan Jiwa
Seorang mukmin yang sadar akan nilai waktu akan berusaha mengisi hidupnya dengan amal yang menghidupkan jiwa. Ia memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan yang abadi.

Karena itu ia berusaha memperbanyak:
• dzikir yang menghidupkan hati
• tilawah Al-Qur'an yang menerangi jiwa
• ilmu yang membuka jalan kebenaran
• amal sosial yang memberi manfaat bagi manusia
• dakwah yang menyebarkan cahaya Islam

Dengan cara ini, hidup menjadi lebih bermakna, lebih tenang, dan lebih penuh keberkahan.

Menjadi Manusia yang Hidupnya Bernilai
Pada akhirnya kehidupan manusia tidak diukur dari panjangnya umur, tetapi dari keberkahan waktu yang digunakan untuk kebaikan.
Ada orang yang hidup puluhan tahun tetapi tidak meninggalkan kebaikan apa pun. Namun ada pula orang yang hidup singkat tetapi amalnya terus dikenang sepanjang zaman.
Maka orang yang bijak akan menjadikan setiap detik kehidupannya sebagai investasi untuk kehidupan akhirat.
Ia memahami bahwa suatu hari nanti manusia akan berdiri di hadapan Allah dan ditanya tentang umurnya:
• untuk apa ia gunakan
• bagaimana ia habiskan
• dan apakah ia isi dengan ketaatan atau kelalaian.

Penutup: Jadikan Waktu sebagai Jalan Menuju Allah
Wahai jiwa yang merindukan kedekatan dengan Tuhan, sadarilah bahwa waktu adalah jembatan menuju keabadian. Setiap detik yang berlalu membawa manusia semakin dekat kepada perjumpaan dengan Allah.
Karena itu jangan biarkan kehidupan habis dalam kesia-siaan. Gunakan waktu untuk kebaikan, untuk ilmu, untuk ibadah, dan untuk memberi manfaat bagi sesama.
Jika waktu diisi dengan ketaatan, maka hidup akan menjadi cahaya. Namun jika waktu dihabiskan dalam kelalaian, maka yang tersisa hanyalah penyesalan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang pandai menjaga waktunya, kuat imannya, jernih hatinya, dan penuh manfaat bagi umat manusia.
Sebab pada akhirnya, kehidupan yang paling indah adalah kehidupan yang setiap detiknya mendekatkan manusia kepada Allah.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update