Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Al-Qur’an: Mukjizat Abadi dan Sisi-Sisi Kemukjizatannya

Rabu, 18 Maret 2026 | 16:15 WIB Last Updated 2026-03-18T09:15:11Z
TintaSiyasi.id -- (Perspektif Yusuf Al-Qardhawi dalam “Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Qur’an”)

Pendahuluan: Kitab yang Tidak Pernah Usang oleh Zaman

Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci. Ia adalah cahaya yang tidak pernah padam, petunjuk yang tidak pernah tersesat, dan mukjizat yang tidak pernah habis untuk dikaji.

Jika mukjizat para nabi sebelumnya bersifat temporer—tongkat Nabi Musa yang membelah laut, atau mukjizat Nabi Isa yang menghidupkan orang mati—maka Al-Qur’an adalah mukjizat yang hidup sepanjang zaman, menembus batas ruang dan waktu.

Di sinilah letak keagungan yang ditegaskan oleh Yusuf Al-Qardhawi dalam karyanya Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Qur’an:
bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihayati, direnungi, dan dijadikan poros kehidupan.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ لَمَّا جَآءَهُمۡۖ وَإِنَّهُۥ لَكِتَٰبٌ عَزِيزٞ لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ تَنزِيلٞ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٖ  
“ Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia.
Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” ( QS. Fushshilat ayat 41-42)

Hakikat Al-Qur’an sebagai Mukjizat

Mukjizat adalah sesuatu yang melemahkan manusia untuk menandinginya. Dan Al-Qur’an menantang seluruh manusia:
“Maka datangkanlah satu surat yang semisal dengannya...”
Namun hingga hari ini, tidak ada satu pun yang mampu menandinginya—baik dari sisi bahasa, kandungan, maupun pengaruhnya terhadap jiwa manusia.
Al-Qur’an adalah mukjizat karena:
• Ia menantang akal, tetapi menenangkan hati
• Ia mengandung hukum, tetapi menyuburkan ruh
• Ia membimbing kehidupan dunia, sekaligus mengantarkan menuju akhirat

Sisi-Sisi Kemukjizatan Al-Qur’an Menurut Yusuf Al-Qardhawi

1. Kemukjizatan Bahasa (I’jaz Lughawi)
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, tetapi bukan bahasa Arab biasa. Ia memiliki:
• Keindahan susunan kata
• Kedalaman makna
• Harmoni bunyi yang menyentuh jiwa
Para penyair Arab terbaik pun tunduk. Bahkan mereka yang memusuhinya mengakui:
“Ini bukan perkataan manusia.”
Refleksi Sufistik:
Bahasa Al-Qur’an bukan hanya dipahami dengan akal, tetapi dirasakan dengan hati yang bersih. Hati yang kotor akan melihatnya biasa, tetapi hati yang hidup akan merasakan getaran ilahi.

2. Kemukjizatan Kandungan (I’jaz Ma’nawi)

Al-Qur’an memuat:
• Aqidah yang lurus
• Syariat yang adil
• Akhlak yang mulia
• Kisah yang penuh hikmah
Tidak ada kontradiksi, tidak ada kesalahan, tidak ada keraguan.
Refleksi:

Semakin dalam seseorang menggali Al-Qur’an, semakin ia menemukan bahwa dirinya lah yang belum memahami—bukan Al-Qur’an yang kurang menjelaskan.

3. Kemukjizatan Ilmiah (I’jaz ‘Ilmi)

Al-Qur’an berbicara tentang:
• Penciptaan manusia
• Peredaran langit dan bumi
• Fenomena alam

Yang baru dipahami manusia berabad-abad kemudian.
Namun, tujuan utamanya bukan sekadar sains, melainkan:
membangkitkan kesadaran akan kebesaran Allah.

Refleksi Sufistik:
Ilmu tanpa iman melahirkan kesombongan.
Tetapi Al-Qur’an menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketundukan kepada Allah.

4. Kemukjizatan Hukum (I’jaz Tasyri’i)

Al-Qur’an menghadirkan sistem hukum yang:
• Adil
• Seimbang
• Relevan sepanjang zaman

Ia mengatur hubungan:
• Manusia dengan Allah
• Manusia dengan sesama
• Manusia dengan dirinya sendiri
Refleksi:
Ketika manusia meninggalkan hukum Allah, ia akan membuat hukum sendiri—dan akhirnya terjerumus dalam ketidakadilan yang diciptakannya sendiri.

5. Kemukjizatan Pengaruh (I’jaz Ta’tsiri)

Inilah mukjizat yang paling terasa:
Al-Qur’an mampu:
• Mengubah orang jahil menjadi ulama
• Mengubah penindas menjadi pemimpin adil
• Mengubah hati keras menjadi lembut
Generasi sahabat adalah bukti nyata:
Mereka bukan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi menjelma menjadi Al-Qur’an yang hidup.
Refleksi Sufistik:
Al-Qur’an tidak akan mengubah hidupmu…
sampai engkau mengizinkannya masuk ke dalam hatimu.

Krisis Umat: Jauh dari Mukjizat yang Dimiliki

Menurut Yusuf Al-Qardhawi, problem utama umat bukan karena tidak memiliki Al-Qur’an, tetapi karena:
• Tidak menjadikannya pedoman hidup
• Tidak mentadabburinya
• Tidak mengamalkannya
Akibatnya:
Al-Qur’an hanya menjadi bacaan ritual, bukan panduan eksistensial.

Kembali kepada Al-Qur’an: Jalan Kebangkitan Umat
Kebangkitan umat tidak akan terjadi dengan:
• Retorika kosong
• Emosi sesaat
• Atau sekadar simbol keagamaan
Tetapi dengan:

1. Membaca Al-Qur’an dengan kesadaran
2. Memahami maknanya secara mendalam
3. Mengamalkan dalam kehidupan nyata
4. Mendakwahkan dengan hikmah dan keteladanan

Penutup: Jadilah Hamba yang Dihidupkan oleh Al-Qur’an
Al-Qur’an bukan hanya untuk disimpan di rak.
Ia bukan sekadar untuk dilombakan bacaannya.
Ia bukan hanya untuk didengarkan saat sedih.
Al-Qur’an adalah:
• Cahaya dalam gelap
• Kompas dalam kebingungan
• Obat dalam kegelisahan
Pertanyaan pentingnya:
Apakah kita sudah hidup bersama Al-Qur’an,
atau hanya hidup di sekitarnya?

Doa Penutup

Ya Allah…
Jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hati kami,
penyejuk jiwa kami,
dan penuntun langkah hidup kami.
Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang
yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak memahaminya…
yang memahami, tetapi tidak mengamalkannya…
Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update