"Serangan Amerika-Iran ini
seharusnya memberikan pelajaran bagi umat islam, setidaknya ada tiga hal,"
paparnya dalam acara Mbois bertajuk Pasca S3rang4n ke Iran, Bagaimana
Situasi dan Kepentingan Geopolitik berikutnya? di kanal YouTube Media
Umat, Selasa (03/03/2026).
Pertama, bersekutu dalam
bentuk apa pun dengan negara imperialis itu adalah bunuh diri secara politik. “Karena
negara-negara imperialis seperti Amerika ini akan memanfaatkan negeri-negeri
penguasa yang bersekutu hanya untuk kepentingan mereka,” ungkapnya.
Menurutnya, negara imperialis
yang permusuhannya teramat nyata terhadap umat Islam dan kaum Muslim akan
melakukan apa pun, bahkan menghancurkan negara dan penguasa mitra mereka kalau
itu penting mereka lakukan.
"Jadi prinsip pragmatisme
negara-negara kapitalis ini tidak mengenal kesetiaan dan kemuliaan.” lugasnya.
Hal itu, menurut Farid, yang
terjadi kalau dilihat Iran tidak lagi sepenuhnya tunduk. “Maka mereka akan
melakukan apa pun termasuk tidak peduli bahwa Iran selama ini sudah banyak
berkompromi dengan negara-negara barat," terangnya.
Kedua, Amerika dengan
mudah mencampakkan penguasa yang mereka anggap tidak lagi sejalan dengan
kepentingan mereka.
“Ini sebuah pola yang berulang,
bagaimana Amerika membunuh penguasa-penguasa yang selama ini melayani
kepentingan mereka. Sebagaimana terjadi pada Saddam Husein, Khadafi, Bashar
Asad, dan Usni Mubaram,” bebernya.
“Kesetiaan mereka tidak lagi
diperhitungkan oleh Amerika ketika Amerika menganggap mereka tidak lagi
bermanfaat,” tandasnya.
Ketiga, lemahnya sistem
negara bangsa. “Kalau kita lihat, meskipun mengklaim sebagai negara
revolusioner yang berbasis Islam, kenyataannya Iran tetaplah negara yang
berbasis nation state dan mengadopsi paham sektarian,” ujarnya.
“Alih-alih menyerukan persatuan
dunia Islam, Iran telah menjadi negara sektarian yang berpikir hanya untuk
kepentingan kemaslahatan negerinya sendiri,” sebut Farid..
"Dan ini kelemahan mendasar
dari negara bangsa yang telah memecah belah umat Islam, negeri-negeri
Islam, sehingga lemah dan tidak berdaya," sambungnya.
Persatuan Umat
Farid menegaskan pentingnya umat
Islam memiliki negara yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan akan
memosisikan diri mereka secara berimbang kepada Amerika.
“Di situlah pentingnya umat Islam
memiliki negara Khilafah ‘ala Minhaj An-Nubuwah,” lugasnya.
Itulah bukti kelemahan umat Islam
yang rapuh dari sisi Internal, yang disebutkan Farid puluhan negara bangsa
sibuk dengan kepentingannya sendiri. “Ketika ada gempuran tidak bisa
menangkalnya,” ucapnya menyayangkan.
"Karena apa yang terjadi
sekarang menunjukkan kelemahan kita sendiri dan ini seharusnya menjadi cermin
bagi negeri Muslim lain bahwa masalah terbesar umat ini bukan karena agresi
eksternal, tetapi karena kerapuhan internal kita,” bebernya.
Ia menyayangkan sikap
negeri-negeri Muslim yang ketika satu negeri digempur, yang lain hanya
menyampaikan keprihatinan dan tidak ada kekuatan kolektif yang menjadi daya
tangkal bersama.
"Di sinilah letak penting
kenapa umat Islam membutuhkan Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj An-Nubuwah
yang akan menyatukan umat Islam dan akan menjadi negara adidaya yang seimbang
dengan Amerika Serikat," pungkasnya.[] Sin