Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tiga Pelajaran Bagi Umat Islam dari Serangan Amerika-Iran.

Minggu, 15 Maret 2026 | 08:37 WIB Last Updated 2026-03-15T01:37:42Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi serangan Amerika-Iran, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menyampaikan setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa diambil umat Islam.

 

"Serangan Amerika-Iran ini seharusnya memberikan pelajaran bagi umat islam, setidaknya ada tiga hal," paparnya dalam acara Mbois bertajuk Pasca S3rang4n ke Iran, Bagaimana Situasi dan Kepentingan Geopolitik berikutnya? di kanal YouTube Media Umat, Selasa (03/03/2026).

 

Pertama, bersekutu dalam bentuk apa pun dengan negara imperialis itu adalah bunuh diri secara politik. “Karena negara-negara imperialis seperti Amerika ini akan memanfaatkan negeri-negeri penguasa yang bersekutu hanya untuk kepentingan mereka,” ungkapnya.

 

Menurutnya, negara imperialis yang permusuhannya teramat nyata terhadap umat Islam dan kaum Muslim akan melakukan apa pun, bahkan menghancurkan negara dan penguasa mitra mereka kalau itu penting mereka lakukan.

 

"Jadi prinsip pragmatisme negara-negara kapitalis ini tidak mengenal kesetiaan dan kemuliaan.” lugasnya.

 

Hal itu, menurut Farid, yang terjadi kalau dilihat Iran tidak lagi sepenuhnya tunduk. “Maka mereka akan melakukan apa pun termasuk tidak peduli bahwa Iran selama ini sudah banyak berkompromi dengan negara-negara barat," terangnya.

 

Kedua, Amerika dengan mudah mencampakkan penguasa yang mereka anggap tidak lagi sejalan dengan kepentingan mereka.

 

“Ini sebuah pola yang berulang, bagaimana Amerika membunuh penguasa-penguasa yang selama ini melayani kepentingan mereka. Sebagaimana terjadi pada Saddam Husein, Khadafi, Bashar Asad, dan Usni Mubaram,” bebernya.

 

“Kesetiaan mereka tidak lagi diperhitungkan oleh Amerika ketika Amerika menganggap mereka tidak lagi bermanfaat,” tandasnya.

 

Ketiga, lemahnya sistem negara bangsa. “Kalau kita lihat, meskipun mengklaim sebagai negara revolusioner yang berbasis Islam, kenyataannya Iran tetaplah negara yang berbasis nation state dan mengadopsi paham sektarian,” ujarnya.

 

“Alih-alih menyerukan persatuan dunia Islam, Iran telah menjadi negara sektarian yang berpikir hanya untuk kepentingan kemaslahatan negerinya sendiri,” sebut Farid..

 

"Dan ini kelemahan mendasar dari negara bangsa yang telah memecah belah umat Islam, negeri-negeri Islam, sehingga lemah dan tidak berdaya," sambungnya.

 

Persatuan Umat

 

Farid menegaskan pentingnya umat Islam memiliki negara yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan akan memosisikan diri mereka secara berimbang kepada Amerika.

 

“Di situlah pentingnya umat Islam memiliki negara Khilafah ‘ala Minhaj An-Nubuwah,” lugasnya.

 

Itulah bukti kelemahan umat Islam yang rapuh dari sisi Internal, yang disebutkan Farid puluhan negara bangsa sibuk dengan kepentingannya sendiri. “Ketika ada gempuran tidak bisa menangkalnya,” ucapnya menyayangkan.

 

"Karena apa yang terjadi sekarang menunjukkan kelemahan kita sendiri dan ini seharusnya menjadi cermin bagi negeri Muslim lain bahwa masalah terbesar umat ini bukan karena agresi eksternal, tetapi karena kerapuhan internal kita,” bebernya.

 

Ia menyayangkan sikap negeri-negeri Muslim yang ketika satu negeri digempur, yang lain hanya menyampaikan keprihatinan dan tidak ada kekuatan kolektif yang menjadi daya tangkal bersama.

 

"Di sinilah letak penting kenapa umat Islam membutuhkan Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj An-Nubuwah yang akan menyatukan umat Islam dan akan menjadi negara adidaya yang seimbang dengan Amerika Serikat," pungkasnya.[] Sin

Opini

×
Berita Terbaru Update