Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lima Sifat Manusia yang Paling Utama, Nasihat Abu Laits As-Samarqandi untuk Menjadi Insan Mulia

Senin, 18 Agustus 2025 | 05:02 WIB Last Updated 2025-08-17T22:02:43Z
Tintasiyasi.ID-- Pendahuluan

Setelah menjelaskan tanda-tanda orang yang berakal dan waspada dari kelalaian, Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin melanjutkan dengan sebuah pertanyaan besar: "Siapakah manusia yang paling utama?"

Jawabannya beliau ringkas dalam lima sifat mulia yang jika ada pada seseorang, maka ia telah mencapai derajat manusia terbaik di sisi Allah. Kelima sifat ini adalah fondasi kemuliaan akhlak, keteguhan iman, dan keberkahan hidup.

1. Selalu Siap Mengerjakan Ibadah kepada Tuhannya

• Menjadi manusia utama berarti hati dan tubuh kita siaga untuk taat kapan pun panggilan Allah datang.
• Kesiapan ini bukan sekadar rajin shalat atau puasa, tetapi sikap batin yang mengutamakan Allah di atas segalanya.
• Orang seperti ini tidak merasa ibadah sebagai beban, melainkan sebagai kehormatan dan sumber ketenangan.
Allah ﷻ berfirman:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ketika hati selalu siap beribadah, hidup akan memiliki arah yang jelas, dan setiap aktivitas bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

2. Jelas Manfaatnya bagi Manusia

• Rasulullah ﷺ mengajarkan:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad)
• Menjadi bermanfaat berarti hadirnya kita membuat orang lain mendapatkan kebaikan: melalui ilmu, harta, tenaga, doa, atau sekadar senyuman yang tulus.
• Orang yang bermanfaat tidak membatasi kebaikannya hanya untuk keluarga atau kelompoknya, tetapi meluas kepada seluruh manusia tanpa memandang latar belakang.

3. Semua Orang Merasa Aman dari Kejahatannya

• Keutamaan ini mencerminkan keselamatan jiwa. Orang yang mulia tidak menjadi sumber rasa takut, sakit hati, atau kerugian bagi orang lain.
• Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
• Manusia utama adalah orang yang kehadirannya menenangkan, bukan menegangkan; membangun, bukan merusak.

4. Tidak Tamak terhadap Apa yang Dimiliki Orang Lain

• Tamak adalah penyakit hati yang membuat manusia tidak pernah puas dan selalu menginginkan milik orang lain.
• Orang yang utama merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, meski sedikit.
• Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
• Sifat ini membuatnya terhormat di mata manusia dan mulia di sisi Allah.

5. Selalu Mempersiapkan Diri Menghadapi Kematian

• Mengingat mati bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi untuk mengarahkan hidup agar tidak sia-sia.
• Orang yang mulia tidak menunda taubat, tidak menumpuk dosa, dan selalu mengisi waktunya dengan amal yang bermanfaat.
• Rasulullah ﷺ bersabda:

"Orang yang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." (HR. Tirmidzi)
Kematian adalah kepastian, dan mempersiapkan diri menghadapinya adalah tanda kesadaran spiritual tertinggi.

Refleksi: Jalan Menuju Kemuliaan

Jika kita renungkan, lima sifat ini adalah perpaduan kesalehan pribadi, kontribusi sosial, dan kesadaran akhirat.

1. Siap beribadah → hubungan kuat dengan Allah.
2. Bermanfaat bagi manusia → hubungan baik dengan sesama.
3. Tidak menyakiti → menjaga keamanan hati dan tubuh orang lain.
4. Tidak tamak → membersihkan hati dari penyakit dunia.
5. Siap menghadapi mati → mengarahkan seluruh hidup untuk bekal abadi.

Inilah yang membuat seseorang layak disebut manusia yang paling utama.

Penutup

Nasihat Imam Abu Laits As-Samarqandi ini bagaikan peta jalan menuju derajat manusia terbaik. Di tengah zaman yang penuh persaingan, sifat-sifat ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukanlah pada jabatan, kekayaan, atau ketenaran, melainkan pada kesiapan hati untuk taat, manfaat yang diberikan, keselamatan yang dijaga, kesederhanaan yang dipelihara, dan persiapan menghadapi kematian.

Semoga Allah menanamkan kelima sifat ini dalam diri kita, sehingga hidup kita menjadi cahaya bagi sekitar dan kematian kita menjadi pintu menuju ridha-Nya.

( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

Opini

×
Berita Terbaru Update