TintaSiyasi.id -- Umur umat Nabi Muhammad saw berkisar 60 sampai 70 tahun, yang melewatinya jumlahnya hanya sedikit.(HR.Ibnu Majah). Namun, alhamdulillah Allah Swt., memberikan berkah umur kita dengan adanya 'lailatulqadar' yaitu malam kemuliaan.
Keistimewaan malam qadar itu antara lain difirmankan Allah dalam Al-Quran :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
"Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Q.S. al-Qadr [97]:
Surah Alqadr tersebut menceritakan secara lengkap keistimewaan malam lailatulqadar. Di malam alqadar ini, Allah turunkan Al-Quran dari Lauhul Mahfudh ke Baitul 'Izzah (langit dunia). Beramal ibadah pahalanya dilipatgandakan sampai lebih baik beramal ibadah selama seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malaikat turun membawa keberkahan, rahmat, dan qadha' atau ketentuan tahunan (rezeki, kematian, dll.) atas perintah Allah.
Untuk meraih lailatulqadar, Rasulullah Saw., megnintensifkan beribadah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Sayyidah 'Aisyah R.A.:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Yang dimaksud dengan Rasulullah mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan. (Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 68).
Karena 'malam lailatulqadar ada di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah Saw., bersungguh-sungguh meraihnya dengan menghidupkan malam sepuluh terakhir Ramadhan dan bahkan membangunkan istri-istri beliau untuk beribadah di malam itu.
Bagaimana dengan kita?
Nabi saja yang sudah dijamin masuk surga, masih semangat beribadah di malam-malam terakhir Ramadhan. Bagaimana dengan kita yang masih berlumuran dosa, tetapi tak sungguh-sungguh untuk meraih malam lailatulqadar? Betapa ruginya kita kalau malas. Tahun depan kita belum tentu masih hidup di dunia ini. Untuk itu , yuk kita bersungguh-sungguh beribadah untuk meraih malam yang istimewa itu, tentu harus ikhlas karena Allah Ta'ala.
Diampuni Dosanya
Salah satu keutamaan beribadah di malam lailatulqadar adalah diampuni dosanya yang telah lalu, sebagaimana hadis dibawah ini,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.رواه البخاري ومسلم عن ابي هريرة
“Barang siapa yang mendirikan lailatulqadr karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu". (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Huraurah).
Kata قَامَ “mendirikan” pada hadis di atas dapat diwujudkan dalam bentuk i'tikaf, shalat, berzikir, berdo’a, membaca al-Qur-an, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Perlu mendapat perhatian dari kita bahwa 'qiyam lailatulqadar' yang mendapat ampunan dosa yang lalu syaratnya ada dua, yaitu iman dan ihtihsab (ikhlas). Konsuekuensinya amal ibadah itu harus sesuai dengan sunnah Rasul dan harus ikhlas, tidak riya' dan tidak sum'ah.
Shalat, misalnya yang dilandasi iman bahwa shalat itu harus sesuai sunnah Rasul, tentu harus 'ittiba' tuntunan Rasul. Harus tumakninah dan khusyuk, tidak terburu-buru.
Masalah shalat kita jangan main-main, jangan meremehkan rukun-rukun shalat, baik yang terkait dengan bacaan maupun gerakan shalat.
Dalam hadis ada disebutkan bahwa Rasul pernah menyuruh seorang yang jelek shalatnya untuk mengulang shalatnya sampai tiga kali. Ini sabdanya :
ارجع فصل فاءنك لم تصل
"Ulangi shalatmu karena sungguh kamu tidak shalat". (HR.Bukhari & Muslim).
Ini menunjukkan pelaksanaan shalat, apa pun shalatnya harus sesua sunnah Rasul. Betapa ruginya kalau seumur-umur shalatnya rusak sehingga tidak sah. Kalau tidak sah bagaimana akan dapat pahala, dapat ampunan Allah, dan bagaimana juga akan dilipatkan setara seribu bulan? Wallahu a'lam.
Syarat kedua: harus istihsab, yaitu mengharap pahala dari Allah alias ikhlas, tidak mengharap pujian atau sanjungan orang, kalau ibadahnya tidak ikhlas mungkin riya' atau sum'ah, jelas tak akan dapat pahala dari Allah, bahkan bisa terkena azab lantaran menduakan Allah Ta'ala.
Kapan lailatulqadar itu?
Untuk menentukan lailatulqadar itu, timbul beberapa pendapat dari para ulama. Yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat tadi adalah malam yang ganjil sesudah tanggal dua puluh bulan Ramadhan, yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29, dan yang lebih sangat diharap malam 27 Ramadhan.
Rasulullah Saw., bersabda :
عن ابن عمر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَن كان مُتَحَرِّيَهَا، فليترحها ليلةَ سبْعٍ وعشرينَ، رواه احمد
"Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda, barangsiapa yang ingin mengintai malam qadar, hendaklah diintainya pada malam dua puluh tujuh" ( HR.Ahmad).
Rahasianya, lailatulqadar tidak ditentukan supaya orang bersungguh-sungguh beramal ibadah karena mengharapkannya.
Saat penentuan awal Ramadhan tidak selalu seragam. Ada yang menggunakan metode rukyatul hilal dan ada pula yang menggunakan hisab.
Perbedaan ini membuat penghitungan malam ganjil dan genap menjadi relatif.
Oleh karena itu, jika seseorang hanya fokus pada satu jenis perhitungan, ada kemungkinan melewatkan malam yang sebenarnya merupakan lailatulqadar.
Daripada hanya terpaku pada tanggal tertentu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Cara paling efektif untuk menjemput lailatulqadar adalah dengan memperbanyak ibadah di seluruh malam sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik malam ganjil maupun genap.
Amaliyah lailatulqadar itu sejak magrib sampai waktu fajar. Dianjurkan agar mendapat berkah malam qadar itu, shalat fardhu dan tarawih-witir dilaksanakan secara berjamaah. I'tikaf utamanya di masjid. Ibadah-ibadah lainnya bisa dikerjakan di rumah, terutama untuk kaum hawa. Tentu tidak harus semalam suntuk beribadah untuk meraih malam kemuliaan itu.
Amalan Yang Dianjurkan :
- Melakukan i'ktikaf di masjid
- Shalat malam, seperti shalat tahajud, shalat witir, shalat tobat dan lainnya.
- Dzikir, istighfar, tahlil, dan tasbih
- Tilawah Al-Quran
- Mengajar atau belajar agama.
- Memperbanyak doa dan sedekah..
Dengan menjalankan ibadah secara konsisten sepanjang sepuluh malam terakhir, seorang Muslim tidak perlu khawatir melewatkan lailatulqadar. Peluang untuk meraih keberkahan malam mulia ini akan semakin besar.
Wallahu a'lam
Abd. Mukti
Pemerhati Kehidupan