Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pandangan Hidup dalam Islam

Selasa, 24 Februari 2026 | 05:49 WIB Last Updated 2026-02-23T22:49:13Z
Akidah sebagai Asas Berpikir, Syariat sebagai Standar Amal, dan Ridha Allah sebagai Puncak Kebahagiaan

TintaSiyasi.id -- Islam bukan sekadar agama ibadah ritual. Ia adalah worldview (pandangan hidup) yang menyeluruh—mengatur cara berpikir, standar bertindak, dan tujuan akhir kehidupan manusia. Ia bukan hanya mengajarkan bagaimana shalat, tetapi juga bagaimana memandang dunia, menilai perbuatan, dan mendefinisikan kebahagiaan.

Jika dirumuskan secara sistematis, pandangan hidup Islam berdiri di atas tiga fondasi besar:
1. Aqidah Islam sebagai landasan berpikir (asas al-fikr)
2. Halal–haram sebagai miqyasul amal (standar perbuatan)
3. Ridha Allah sebagai makna dan puncak kebahagiaan
Tiga prinsip ini bukan teori abstrak. Ia adalah kerangka peradaban.

I. Aqidah Islam: Fondasi Cara Berpikir

Aqidah berasal dari kata ‘aqada yang berarti mengikat dengan kuat. Aqidah adalah keyakinan yang terikat kokoh dalam hati tanpa keraguan.
Namun dalam Islam, aqidah bukan sekadar doktrin teologis. Ia adalah cara memandang realitas.
Aqidah Islam menanamkan tiga kesadaran mendasar:
• Allah adalah Pencipta, Pengatur, dan Pemilik kehidupan.
• Manusia adalah hamba sekaligus khalifah.
• Dunia adalah ladang ujian, akhirat adalah tempat pertanggungjawaban.

Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An'am: 162)

Ayat ini adalah deklarasi worldview Islam.

1. Aqidah Melahirkan Keteguhan
Orang yang berpikir dengan asas aqidah:
• Tidak mudah panik dalam ujian
• Tidak sombong dalam keberhasilan
• Tidak putus asa dalam kegagalan
Karena ia sadar bahwa hidup berada dalam kendali Allah.

2. Aqidah Melahirkan Integritas
Ketika tauhid tertanam kuat:
• Ia jujur meski tidak diawasi
• Ia amanah meski tidak dipuji
• Ia istiqamah meski sendirian
Karena pengawas utamanya bukan manusia, tetapi Allah.
Tanpa aqidah, manusia mudah terombang-ambing oleh ideologi materialisme dan relativisme moral. Tetapi dengan aqidah, ia memiliki kompas yang tetap.
Aqidah adalah fondasi bangunan peradaban Islam.

II. Syariat: Halal dan Haram sebagai Standar Amal

Jika aqidah meluruskan cara berpikir, maka syariat meluruskan cara bertindak.
Islam tidak menyerahkan standar baik-buruk kepada selera manusia. Ukuran benar dan salah bukan berdasarkan opini mayoritas, bukan berdasarkan keuntungan ekonomi, tetapi berdasarkan hukum Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.”

1. Miqyasul Amal: Halal atau Haram?
Seorang muslim sebelum bertindak bertanya:
• Apakah ini halal?
• Apakah ini diridhai Allah?
• Apakah ini sesuai syariat?
Dalam bisnis → ia menghindari riba.
Dalam politik → ia menolak kedzaliman.
Dalam keluarga → ia menjaga amanah.
Standar ini melahirkan masyarakat yang beradab.

2. Kebebasan yang Terikat Nilai

Islam tidak mengekang kreativitas manusia. Tetapi kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang bermoral.
Manusia bebas berusaha, tetapi tidak bebas menipu.
Manusia bebas berbicara, tetapi tidak bebas memfitnah.
Manusia bebas mencari rezeki, tetapi tidak bebas merampas.
Ketika halal-haram dijadikan standar, lahirlah:
• Keadilan ekonomi
• Kejujuran sosial
• Stabilitas moral
Inilah kekuatan syariat sebagai sistem kehidupan.

III. Ridha Allah: Definisi Kebahagiaan Sejati

Inilah puncaknya.
Dunia modern mendefinisikan bahagia sebagai:
• Kekayaan materi
• Popularitas
• Kenyamanan fisik
Tetapi Islam mendefinisikan kebahagiaan dengan satu kalimat sederhana namun mendalam: ridha Allah.
Allah berfirman:
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Dan keridhaan Allah itu lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72)

Lebih besar dari surga sekalipun.

1. Ridha Allah Melahirkan Ketenangan
Seseorang bisa sederhana tetapi damai.
Bisa tidak terkenal tetapi bahagia.
Bisa hidup biasa tetapi luar biasa di sisi Allah.
Karena ukuran kebahagiaannya bukan dunia, tetapi penerimaan Allah.

2. Ridha Allah Mengubah Perspektif Hidup
Jika orientasi hidup adalah ridha Allah:
• Ujian menjadi ladang pahala
• Pengorbanan menjadi kemuliaan
• Kesederhanaan menjadi kehormatan
Kebahagiaan bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada siapa yang meridhai kita.

IV. Integrasi Tiga Pilar: Sistem Kehidupan Islam

Tiga prinsip ini membentuk satu sistem yang utuh:
Aspek Prinsip Islam
Cara berpikir Aqidah Tauhid
Cara bertindak Halal–Haram

Tujuan hidup Ridha Allah

Tanpa aqidah>>>manusia kehilangan arah.
Tanpa syariat>>>manusia kehilangan batas.
Tanpa ridha Allah>>>manusia kehilangan makna.

Peradaban Islam dibangun di atas tiga hal ini. Ketika umat menjaga aqidahnya, menegakkan syariatnya, dan mengejar ridha Allah, maka lahirlah generasi emas.

V. Tantangan Umat Kontemporer

Hari ini umat menghadapi tantangan besar:
• Sekularisasi pemikiran
• Relativisme moral
• Hedonisme gaya hidup
Akibatnya:
• Aqidah terpinggirkan
• Halal-haram dianggap kuno
• Kebahagiaan diukur dengan materi

Kita melihat banyak orang kaya tetapi gelisah.
Banyak yang terkenal tetapi hampa.
Banyak yang sukses tetapi rapuh jiwanya.
Karena mereka kehilangan orientasi Ilahi.

VI. Jalan Kebangkitan Umat

Kebangkitan umat tidak cukup dengan pembangunan fisik. Ia harus dimulai dari:
1. Revitalisasi aqidah di rumah dan sekolah
2. Penegakan nilai halal-haram dalam ekonomi dan politik
3. Pendidikan ruhani yang menanamkan orientasi ridha Allah
Jika keluarga menanamkan tauhid,
Jika pemimpin menjadikan syariat sebagai standar,
Jika individu mengejar ridha Allah,
Maka umat akan bangkit dengan sendirinya.

VII. Refleksi Diri
Mari bertanya dengan jujur:
• Apakah keputusan kita lahir dari aqidah atau hawa nafsu?
• Apakah standar kita halal-haram atau untung-rugi?
• Apakah tujuan kita ridha Allah atau pujian manusia?
Jawaban atas pertanyaan ini menentukan arah hidup kita.

Penutup: Kembali kepada Fondasi

Islam menawarkan pandangan hidup yang jernih, rasional, dan transenden.
Ia mencerdaskan akal dengan aqidah.
Ia mendisiplinkan perilaku dengan syariat.
Ia menenangkan jiwa dengan orientasi ridha Allah.

Jika kita ingin menjadi umat yang kuat, maka kita harus kembali kepada fondasi ini.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ عَقِيدَتَنَا، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا عَلَى وَفْقِ شَرِيعَتِكَ، وَارْزُقْنَا رِضَاكَ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ.

Ya Allah,
Teguhkan aqidah kami,
Luruskan amal kami sesuai syariat-Mu,
Dan jadikan ridha-Mu sebagai kebahagiaan terbesar dalam hidup kami.
Semoga lahir generasi muslim yang berpikir dengan tauhid, bertindak dengan syariat, dan hidup demi ridha Allah.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update