TintaSiyasi.id -- Dalam kitab monumental Tanbīhul Ghāfilīn, karya ulama besar mazhab Hanafi, Imam Abu Laits As-Samarqandi, beliau merumuskan lima sifat manusia paling utama yang menjadi pilar keselamatan dunia dan akhirat. Kitab ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi cermin muhasabah agar hati yang lalai kembali sadar.
Lima sifat itu adalah:
1. Selalu siap mengerjakan ibadah kepada Tuhannya.
2. Jelas manfaatnya bagi umat manusia.
3. Semua orang merasa aman dari kejahatannya.
4. Tidak tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain.
5. Selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Mari kita renungkan satu per satu.
Pertama. Selalu Siap Mengerjakan Ibadah kepada Tuhannya
Manusia utama adalah manusia yang hatinya selalu “siaga”. Ia tidak menunda ketaatan. Ketika adzan berkumandang, jiwanya bergetar. Ketika ada kesempatan sedekah, tangannya ringan. Ketika ada peluang berbuat baik, ia mendahului.
Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
“Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhanmu…” (QS. Ali Imran: 133)
Kesiapan beribadah adalah tanda hati yang hidup. Orang yang menunda-nunda kebaikan, sejatinya sedang tertipu oleh panjang angan-angan.
Kedua. Jelas Manfaatnya bagi Umat Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Manusia utama bukan hanya rajin ibadah personal, tetapi juga menghadirkan maslahat sosial. Ia menjadi solusi, bukan beban. Kehadirannya membawa ketenangan, bukan kegaduhan.
Ilmu, harta, jabatan, dan pengaruhnya tidak berhenti pada diri sendiri. Ia menyadari bahwa hidup adalah amanah untuk memberi.
Ketiga. Semua Orang Merasa Aman dari Kejahatannya
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
Lisan yang tajam, tangan yang zalim, hati yang penuh iri—itulah sumber kerusakan sosial. Manusia utama menjaga lisannya dari ghibah, fitnah, dan caci maki. Ia juga menjaga tangannya dari menyakiti dan merampas hak orang lain.
Keberadaannya membuat orang lain merasa aman, bukan was-was.
Keempat. Tidak Tamak terhadap Milik Orang Lain
Tamak adalah akar kehinaan. Orang tamak tidak pernah merasa cukup. Ia memandang rezeki orang lain dengan hasad.
Padahal Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ
“Janganlah engkau memanjangkan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada sebagian mereka.” (QS. Thaha: 131)
Sikap qana’ah melahirkan kemuliaan. Orang yang tidak tamak, hidupnya tenang. Ia tahu bahwa rezeki telah diatur oleh Yang Maha Adil.
Kelima. Selalu Mempersiapkan Diri Menghadapi Kematian
Inilah puncak kebijaksanaan. Manusia utama bukan yang paling panjang umurnya, tetapi yang paling siap perjumpaan dengan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan (kematian).”
Mengingat mati bukan membuat seseorang pesimis, tetapi justru melahirkan kesungguhan hidup. Ia berhati-hati dalam bertindak, jujur dalam bermuamalah, dan tulus dalam beramal.
Penutup: Menjadi Manusia yang Layak Dirindukan Surga
Lima sifat ini bukan teori, tetapi kompas kehidupan:
Hatinya hidup dalam ibadah.
Tangannya hidup dalam manfaat.
Lisannya bersih dari menyakiti.
Jiwanya bebas dari ketamakan.
Pandangannya jauh ke akhirat.
Demikianlah karakter manusia utama menurut Tanbihul Ghafilin karya Imam Abu Laits As-Samarqandi.
Semoga kita tidak sekadar mengagumi sifat-sifat ini, tetapi berjuang menanamkannya dalam diri, keluarga, dan masyarakat. Karena kemuliaan manusia bukan pada rupa dan harta, tetapi pada kesiapan hatinya menghadap Allah.
Dr.Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)