Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sesuatu yang Tidak Cocok, Belum Tentu Salah

Rabu, 15 April 2026 | 04:43 WIB Last Updated 2026-04-14T21:43:43Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menegaskan bahwa satu hal yang tidak cocok bagi seseorang, belum tentu salah untuknya.

 

"Apabila seseorang tidak merasa cocok dengan suatu hal, bukan berarti itu salah untuknya," lugasnya kepada TintaSiyasi.ID, Selasa (14/04/2026).

 

Pria yang akrab disapa Om Joy tersebut mempertanyakan, sejak kapan perbedaan diselesaikan dengan api dan sejak kapan otoritas merasa cukup tanpa adu hujah.

 

"Tidak cocok, belum tentu salah. Apalagi dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan tidak pernah diselesaikan dengan pembakaran, tetapi dengan hujah,” tegasnya.

 

Para ulama besar, imbuh Om Joy, tidak mendidik umat untuk takut pada buku. “Justru mereka melatih umat agar mampu menguji, memilah, dan membantah dengan ilmu," tandasnya.

 

Kemudian ia mempertanyakan lagi, jika sebuah buku dianggap berbahaya, pertanyaannya sederhana sebenarnya, yaitu di mana letak kesalahannya.

 

"Jika kekhawatirannya adalah santri “terpengaruh”, maka yang perlu diuji bukan bukunya, melainkan ketahanan nalar dan kedalaman bimbingan,” debatnya.

 

“Santri tidak dididik untuk steril dari perbedaan, tetapi untuk mengenali kebenaran dengan dalil, bukan dengan pelarangan," jelasnya.

 

Maka menurutnya, membakar atau membuang buku bukan tanda kemenangan pemikiran, tetapi justru isyarat bahwa argumentasi belum dihadirkan, atau lebih jauh, tidak disiapkan.

 

Lalu katanya, satu hal lagi yang lebih mengusik, mengapa pembakaran itu dipublikasikan. “Jika tujuannya menjaga santri, cukup selesai di internal.

 

“Namun, ketika dipertontonkan ke publik, itu bukan lagi sekadar tindakan, melainkan pernyataan sikap. Bahkan demonstrasi kuasa,” bebernya.

 

"Sikap bahwa perbedaan tidak dilawan dengan hujah, tetapi dengan pemusnahan. Sikap bahwa yang berbeda cukup disingkirkan, bukan dijawab. Demonstrasi kuasa yang dibangun tanpa hujah," imbuhnya.

 

Ia mengatakan, hal tersebut berbahaya karena yang lahir bukan tradisi ilmu, melainkan tradisi takut. “Di atas rasa takut, kebenaran tidak pernah tumbuh sehat,” cetusnya.

 

"Dalam dunia ilmu, yang seharusnya “dibakar” adalah kesalahan. Dan itu, hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu dibantah, bukan dimusnahkan,” sebutnya.

 

“Jangan pernah dilupakan, ketika buku dibakar, yang padam bukan sekadar kertas, tetapi keberanian berpikir. Dan perlahan kewibawaan sang pembakar itu sendiri," tuntasnya.[] Nurmilati

Opini

×
Berita Terbaru Update