TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menegaskan bahwa satu hal yang tidak cocok bagi seseorang, belum tentu salah untuknya.
"Apabila seseorang tidak
merasa cocok dengan suatu hal, bukan berarti itu salah untuknya," lugasnya
kepada TintaSiyasi.ID, Selasa (14/04/2026).
Pria yang akrab disapa Om Joy
tersebut mempertanyakan, sejak kapan perbedaan diselesaikan dengan api dan sejak
kapan otoritas merasa cukup tanpa adu hujah.
"Tidak cocok, belum tentu
salah. Apalagi dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan tidak pernah
diselesaikan dengan pembakaran, tetapi dengan hujah,” tegasnya.
Para ulama besar, imbuh Om Joy, tidak
mendidik umat untuk takut pada buku. “Justru mereka melatih umat agar mampu
menguji, memilah, dan membantah dengan ilmu," tandasnya.
Kemudian ia mempertanyakan lagi,
jika sebuah buku dianggap berbahaya, pertanyaannya sederhana sebenarnya, yaitu di
mana letak kesalahannya.
"Jika kekhawatirannya adalah
santri “terpengaruh”, maka yang perlu diuji bukan bukunya, melainkan ketahanan
nalar dan kedalaman bimbingan,” debatnya.
“Santri tidak dididik untuk
steril dari perbedaan, tetapi untuk mengenali kebenaran dengan dalil, bukan
dengan pelarangan," jelasnya.
Maka menurutnya, membakar atau
membuang buku bukan tanda kemenangan pemikiran, tetapi justru isyarat bahwa
argumentasi belum dihadirkan, atau lebih jauh, tidak disiapkan.
Lalu katanya, satu hal lagi yang
lebih mengusik, mengapa pembakaran itu dipublikasikan. “Jika tujuannya menjaga
santri, cukup selesai di internal.
“Namun, ketika dipertontonkan ke
publik, itu bukan lagi sekadar tindakan, melainkan pernyataan sikap. Bahkan
demonstrasi kuasa,” bebernya.
"Sikap bahwa perbedaan tidak
dilawan dengan hujah, tetapi dengan pemusnahan. Sikap bahwa yang berbeda cukup
disingkirkan, bukan dijawab. Demonstrasi kuasa yang dibangun tanpa hujah,"
imbuhnya.
Ia mengatakan, hal tersebut
berbahaya karena yang lahir bukan tradisi ilmu, melainkan tradisi takut. “Di
atas rasa takut, kebenaran tidak pernah tumbuh sehat,” cetusnya.
"Dalam dunia ilmu, yang
seharusnya “dibakar” adalah kesalahan. Dan itu, hanya bisa dilakukan dengan
satu cara, yaitu dibantah, bukan dimusnahkan,” sebutnya.
“Jangan pernah dilupakan, ketika
buku dibakar, yang padam bukan sekadar kertas, tetapi keberanian berpikir. Dan
perlahan kewibawaan sang pembakar itu sendiri," tuntasnya.[] Nurmilati