Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Terkikisnya Adab dan Makna Pendidikan, Islam Solusi Andalan

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:16 WIB Last Updated 2026-01-28T15:16:55Z

TintaSiyasi.id -- Kasus guru menyerang murid, kasus murid menyerang guru, dan berbagai kejahatan yang lahir dari dunia pendidikan tak hentinya terjadi hingga mengurangi rasa kepercayaan serta makna pendidikan.

Seperti yang baru-baru ini terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Seorang guru dikeroyok oleh muridnya, berawal dari lontaran kata yang ditujukan sebagai motivasi, tetapi sarat dengan kata sensitif kepada muridnya (red. tidak mampu atau miskin), hingga berubah menjadi pemicu emosi murid. Kini insiden tersebut sudah masuk jalur hukum sebab fisik korban mengalami luka serta nama guru tercoreng, baik di media sosial maupun kehidupan sosialnya, bahkan terancam dikeluarkan dari sekolah tempat ia mengajar. Langkah mediasi yang ditempuh pun hingga kini belum menemukan titik temu (news.detik.com, 17/1/26).

Siapa yang salah dalam insiden ini? Mengapa dunia pendidikan sikapnya tidak semulia ilmu yang diajarkannya? Apakah kurikulumnya tidak tepat sasaran, atau beban dunia pendidikan yang diemban masing-masing individu memang berat, sehingga sikap arogan dan sensitivitas menjadi pemicunya?

Landasan Pendidikan yang Salah dalam Sistem yang Merusak Kebenaran

Konflik yang terjadi, di mana murid menyerang atau mengeroyok guru, bukan hanya masalah pribadi atau emosional semata. Ini harus menjadi alarm serius atas problem dunia pendidikan yang semakin mengenaskan.

Di dalam sebuah sekolah, interaksi pasti akan terjadi, melibatkan emosi, serta jalinan emosional. Begitu pun relasi guru dengan murid, yang seharusnya dibangun atas dasar hormat, wibawa, dan keteladanan. Namun, mirisnya, kini yang terlihat justru adu kekuatan, ketegangan, hingga kekerasan yang tak terelakkan.

Pendidikan semestinya mengajarkan dan melahirkan nilai-nilai adab serta keluhuran atas ilmu yang dipelajarinya. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan banyak murid yang tidak sopan, melebihi batas, tidak segan, bahkan menyepelekan. Di sisi lain, terdapat pula guru yang mudah menghakimi, membandingkan, dan meremehkan hingga memunculkan luapan emosi spontan. Pada akhirnya, jebakan konflik kekerasan pun tak terhindarkan. Hilang fitrah untuk saling mengedepankan kebenaran. Jauh dari gambaran pendidikan ideal.

Landasan kebebasan yang diberikan negara, serta batas-batas kebenaran yang ambigu, menjadikan arah pendidikan semakin runyam. Kebebasan yang dipaparkan dalam kurikulum terbaru, yang mengusung kemerdekaan berpikir, justru melahirkan kerancuan standar bersikap.
Akibatnya, norma, adab, dan moral dilepaskan. Ekspresi disalurkan tanpa kendali. Buah dari pendidikan yang berasaskan kebebasan nyatanya menjadi boomerang bagi guru maupun murid.

Sistem kebebasan yang dilahirkan oleh kapitalisme-sekularisme hari ini, yang dielu-elukan Barat, disebarluaskan kepada generasi muda Muslim. Mereka menjadi jauh dari fitrah. Nilai kebebasan selalu berakhir pada kesengsaraan, terutama menjauhkan dari kebenaran dan nilai agama, yakni Islam itu sendiri. Hingga moral maupun adab sopan santun dalam bersikap semakin jauh, tidak mencerminkan pribadi terdidik.

Inilah pendidikan yang berdiri di atas asas kapitalisme-sekularisme. Pendidikan yang mencabik jiwa guru sebagai pengayom dan pemberi teladan. Pendidikan berasas kapitalisme-sekularisme juga melahirkan murid yang jauh dari fondasi kebenaran dan congkak tanpa sadar. Jauh dari sikap khidmat, hormat, dan beradab. Ketika pendidikan hanya menjadi formalitas mengajar untuk transfer ilmu, bukan keteladanan sikap dan penghormatan terhadap ilmu, maka nestapa tak terelakkan dan makna pendidikan pun hilang pada akhirnya.

Landasan Kebenaran dalam Islam Menyelamatkan Pendidikan

Islam bukan sekadar klaim sebagai yang paling benar, tetapi Islam memang satu-satunya standar kebenaran yang jelas dan sesuai porsinya. Islam dan pendidikan menyatu, saling melengkapi, dan saling menguatkan dalam memuliakan manusia.
Islam, dengan segala fitrah dan aturan syariat-Nya, menjadikan pendidikan bukan hanya berorientasi pada keuntungan atau mencetak manusia pintar semata, tetapi membentuk manusia beradab karena ilmu. Bahkan, adab sebelum ilmu menjadi prinsip penting dalam dunia pendidikan. 

Hasilnya adalah kemuliaan ilmu, kemuliaan akhlak, dan kemuliaan kepribadian. Terbentuklah pribadi terdidik yang mampu membentengi diri dengan ilmu dan menjauh dari pemicu permusuhan.

Murid diajarkan untuk ta’ẓīm kepada guru bukan semata karena sosok gurunya, melainkan karena ilmu yang diajarkannya. Sementara itu, guru yang berilmu mengajar dengan keteladanan, bukan hinaan atau peremehan. Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan tanggung jawab atas kebenaran. Guru pun membutuhkan bekal untuk menyampaikan ilmu, dan bekal itu adalah ilmu yang benar.

Islam memandang pendidikan sebagai perkara yang sangat penting. Bahkan, dalam sebuah negara yang berlandaskan Islam, pendidikan diatur sebagaimana Islam memerintahkan.
Kurikulum tidak disusun atas asas kebebasan, bukan pula semata untuk orientasi output yang menguntungkan atau menghantarkan murid agar layak bersaing di dunia kerja. Output pendidikan lebih dari itu, sesuai dengan makna pendidikan sejati, yaitu mencetak murid berkepribadian Islam.

Kurikulum juga harus menjaga akal dan jiwa. Oleh karena itu, kurikulum wajib berlandaskan akidah. Setiap materi yang diajarkan diarahkan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap Islam atau syakhsiyah Islam. Selain itu, guru disejahterakan dan pendidikan digratiskan tanpa syarat oleh negara dalam sistem Islam sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam mengayomi rakyat.
Dengan demikian, tidak ada beban, dan tidak akan ditemukan output pendidikan yang sengaja dicetak hanya untuk bersaing di pasar atau menjadi manusia penghasil keuntungan.

Sebaliknya, lahir manusia beradab yang berpegang pada kebenaran sesuai ilmu yang diajarkannya demi menjaga kemuliaan ilmu. Maka, terwujudlah pendidik dan peserta didik yang saling menjaga serta memuliakan ilmu.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Oleh: Nadia Ummu Ubay 
Pegiat Literasi

Opini

×
Berita Terbaru Update