TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia Aisyah Rahmat menyatakan bahwa masyarakat yang sejahtera dalam semua aspek mesti lahir dari wahyu Allah Swt..
“Masyarakat sejahtera mesti lahir
dari wahyu Allah di mana al-Qur’an dijadikan sebagai dustur, pasti mereka akan
sejahtera di semua aspek,” ujarnya dalam Roundtable Discussion bertajuk Wahyu
An-Nur sebagai Lentera Pembinaan Masyarakat, Sabtu (24/01/2026).
Berdasarkan ayat 35 dari surah
An-Nur, ia menjelaskan Allah sebagai nur (cahaya langit dan bumi) mesti
dipahami dari aspek metaforanya, yaitu sebagai petunjuk dan ilmu Allah Swt..
“Harus kita pahami bahwasanya
Allah ini sebagai nur, munawwir, yaitu cahaya langit dan bumi, bukan
dipahami dari makna cahaya fisik tetapi metaforanya yaitu petunjuk dan ilmu
Allah untuk diterapkan di muka bumi ini,” terangnya.
Ia turut menekankan kehidupan di
dunia haruslah berpandukan wahyu Allah Swt., yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai
petunjuk dan dustur (undang-undang).
“Jadi dari sini kita memahami
segala bentuk peraturan, kejelasan nilai, keharmonisan hidup berpunca dari
wahyu yang menerangi kita. Ketika kita hendak menjalani kehidupan di dunia ini harus
berpandu pada wahyu Allah Swt.,” jelasnya.
Melihat realitas dan situasi
masyarakat, ia menzahirkan kekecewaan akan banyaknya konflik yang terjadi. “Bukan
karena tidak adanya panduan namun berpalingnya umat Islam dari wahyu itu
sendiri, yaitu al-Qur’an sebagai peraturan hidup.
“Jadi banyak konflik yang terjadi
berpunca bukanlah dari kekurangan informasi, tetapi dari ketiadaan petunjuk
yang benar karena tidak mengambil al-Qur’an sebagai dustur, sebagai
undang-undang untuk menjalani kehidupan pada hari ini,” terangnya.
Menurutnya lagi, akibat tidak
menjadikan al-Qur’an sebagai panduan hidup, maka manusia akan cenderung
mengikuti hawa nafsu dan emosi.
“Apabila cahaya, nur Allah
(wahyu) ini dikesampingkan, manusia akan menggantikan wahyu dengan hawa nafsu,
persepsi dan emosi massa,” ujarnya.
Sekuler
Dengan nada kesal ia menyatakan
dalam kehidupan hari ini, hukum dan syariat Islam diperlakukan semaunya dalam
sistem kapitalis sekuler.
“Realitasnya bila kita hidup
dalam sistem kapitalis pada hari ini, perkara yang halal jadi haram dan perkara
yang haram menjadi halal, naudzubillahi min dzalik. Jadi itulah krisis
moral yang berlaku,” ungkapnya.
Ia menyebut fungsi Al-Qur’a, yaitu
sebagai jalan penyelesaian kepada kekeliruan yang berlaku untuk membimbing
interaksi dan sosial masyarakat agar mendapat keridhaan Allah Swt..
“Wahyu itu bukan sekadar pemberi
hukum tetapi sebagai jalan dan penyelesaian kepada kekeliruan yang berlaku
dalam kehidupan manusia pada hari ini, yaitu sebagai lentera yang membimbing
cara manusia berinteraksi dalam sistem sosial,” tegasnya.
Ia mengakhiri sesi penjelasan
dengan seruan agar para hadirin dapat mendidik masyarakat menjadi generasi Al-Qur’an
yang akan menerapkan Islam secara kaffah.