Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Masyarakat Sejahtera dalam Semua Aspek Wahyu dari Allah Swt.

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:32 WIB Last Updated 2026-01-28T22:32:24Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia Aisyah Rahmat menyatakan bahwa masyarakat yang sejahtera dalam semua aspek mesti lahir dari wahyu Allah Swt..

 

“Masyarakat sejahtera mesti lahir dari wahyu Allah di mana al-Qur’an dijadikan sebagai dustur, pasti mereka akan sejahtera di semua aspek,” ujarnya dalam Roundtable Discussion bertajuk Wahyu An-Nur sebagai Lentera Pembinaan Masyarakat, Sabtu (24/01/2026).

 

Berdasarkan ayat 35 dari surah An-Nur, ia menjelaskan Allah sebagai nur (cahaya langit dan bumi) mesti dipahami dari aspek metaforanya, yaitu sebagai petunjuk dan ilmu Allah Swt..

 

“Harus kita pahami bahwasanya Allah ini sebagai nur, munawwir, yaitu cahaya langit dan bumi, bukan dipahami dari makna cahaya fisik tetapi metaforanya yaitu petunjuk dan ilmu Allah untuk diterapkan di muka bumi ini,” terangnya.

 

Ia turut menekankan kehidupan di dunia haruslah berpandukan wahyu Allah Swt., yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan dustur (undang-undang).

 

“Jadi dari sini kita memahami segala bentuk peraturan, kejelasan nilai, keharmonisan hidup berpunca dari wahyu yang menerangi kita. Ketika kita hendak menjalani kehidupan di dunia ini harus berpandu pada wahyu Allah Swt.,” jelasnya.

 

Melihat realitas dan situasi masyarakat, ia menzahirkan kekecewaan akan banyaknya konflik yang terjadi. “Bukan karena tidak adanya panduan namun berpalingnya umat Islam dari wahyu itu sendiri, yaitu al-Qur’an sebagai peraturan hidup.

 

“Jadi banyak konflik yang terjadi berpunca bukanlah dari kekurangan informasi, tetapi dari ketiadaan petunjuk yang benar karena tidak mengambil al-Qur’an sebagai dustur, sebagai undang-undang untuk menjalani kehidupan pada hari ini,” terangnya.

 

Menurutnya lagi, akibat tidak menjadikan al-Qur’an sebagai panduan hidup, maka manusia akan cenderung mengikuti hawa nafsu dan emosi.

 

“Apabila cahaya, nur Allah (wahyu) ini dikesampingkan, manusia akan menggantikan wahyu dengan hawa nafsu, persepsi dan emosi massa,” ujarnya.

 

Sekuler

 

Dengan nada kesal ia menyatakan dalam kehidupan hari ini, hukum dan syariat Islam diperlakukan semaunya dalam sistem kapitalis sekuler.

 

“Realitasnya bila kita hidup dalam sistem kapitalis pada hari ini, perkara yang halal jadi haram dan perkara yang haram menjadi halal, naudzubillahi min dzalik. Jadi itulah krisis moral yang berlaku,” ungkapnya.

 

Ia menyebut fungsi Al-Qur’a, yaitu sebagai jalan penyelesaian kepada kekeliruan yang berlaku untuk membimbing interaksi dan sosial masyarakat agar mendapat keridhaan Allah Swt..

 

“Wahyu itu bukan sekadar pemberi hukum tetapi sebagai jalan dan penyelesaian kepada kekeliruan yang berlaku dalam kehidupan manusia pada hari ini, yaitu sebagai lentera yang membimbing cara manusia berinteraksi dalam sistem sosial,” tegasnya.

 

Ia mengakhiri sesi penjelasan dengan seruan agar para hadirin dapat mendidik masyarakat menjadi generasi Al-Qur’an yang akan menerapkan Islam secara kaffah.

 

“Kita sebagai figur yang mendidik dan membina. Jadilah kita yang mendidik generasi kita agar menjadi generasi al-Qur’an yang bergerak, yang menerapkan al-Qur’an secara kaffah,” katanya menutup pembicaraan.[] Rahmah

Opini

×
Berita Terbaru Update