Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perempuan yang Terlalu Sibuk dengan Perasaannya Akan Menghancurkan Dirinya Sendiri

Senin, 12 Januari 2026 | 04:15 WIB Last Updated 2026-01-11T21:15:14Z
TintaSiyasi.id -- Perasaan adalah fitrah perempuan. Ia diciptakan dengan hati yang lembut, empati yang dalam, dan rasa yang peka. Namun ketika perasaan dibiarkan memimpin hidup tanpa kendali akal dan iman, ia berubah menjadi bumerang yang perlahan menghancurkan diri sendiri.
.
Perempuan yang sibuk dengan perasaannya akan mudah terseret oleh sedih, kecewa, cemburu, marah, dan luka batin yang dipelihara. Ia menilai segalanya dari apa yang ia rasakan, bukan dari apa yang benar.
.
Akibatnya, keputusan diambil bukan berdasarkan hikmah, tapi emosi. Hubungan rusak, ibadah melemah, pikiran lelah, dan hati tidak pernah tenang.
.
Perasaan yang tidak ditundukkan akan menumbuhkan prasangka, memperbesar masalah kecil, dan membuat perempuan merasa selalu menjadi korban. Ia sibuk mengeluh, menuntut dimengerti, namun lupa memperbaiki diri.
.
Tanpa sadar, ia menghabiskan energi hidupnya untuk mengurusi apa yang ia rasakan, bukan apa yang Allah perintahkan.
.
Islam Tidak Mematikan Perasaan, Tapi Mengaturnya.

Islam datang bukan untuk meniadakan perasaan, melainkan menundukkannya di bawah iman dan akal sehat.
.
Iman sebagai kendali perasaan
Islam mengajarkan bahwa hati harus dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

Getar hati karena Allah, bukan karena ego atau luka pribadi.
.
Sabar, bukan reaktif
Islam mendidik perempuan untuk tidak reaktif terhadap perasaan. Sabar bukan lemah, tapi kemampuan menahan diri saat emosi ingin menguasai.
.
“Dan sungguh, orang-orang yang bersabar itulah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
.
Syukur sebagai penawar luka batin
Banyak perasaan negatif lahir karena fokus pada apa yang kurang. Islam mengalihkan hati pada syukur agar jiwa tidak tenggelam dalam kekecewaan.
.
Taat, bukan menuruti rasa
Islam mengajarkan bahwa ukuran benar dan salah bukan apa yang dirasa, tapi apa yang Allah ridai. Ketika ketaatan didahulukan, perasaan akan mengikuti, bukan memimpin.
.
Dzikir menenangkan hati
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Bukan curhat tanpa arah, bukan melampiaskan emosi, tapi kembali kepada Allah.
.
.
Perempuan yang matang bukanlah yang tidak punya perasaan, tapi yang mampu menguasai perasaannya. Islam membentuk perempuan yang kuat jiwanya, tenang hatinya, dan kokoh imannya—bukan perempuan yang menjadi tawanan emosinya sendiri.
.
Ketika perasaan tunduk pada iman, perempuan tidak hancur. Ia justru dimuliakan

#Perempuan #Perasaan

Opini

×
Berita Terbaru Update