Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hiduplah Sesuai Kemampuan Anda dan Tetaplah Fokus

Senin, 12 Januari 2026 | 04:15 WIB Last Updated 2026-01-11T21:15:34Z
Refleksi Kehidupan untuk Menemukan Ketenangan dan Keberkahan

Pendahuluan: Di Tengah Hiruk-Pikuk Zaman

TintaSiyasi.id -- Kita hidup di zaman yang penuh kebisingan—bukan hanya kebisingan suara, tetapi kebisingan keinginan. Standar hidup sering diukur dari apa yang tampak, bukan dari apa yang bernilai. Manusia berlomba mengejar citra, mengejar pengakuan, bahkan mengejar kebahagiaan yang ditentukan oleh orang lain. Akibatnya, banyak jiwa kelelahan, hati gersang, dan hidup kehilangan arah.

Di sinilah pesan sederhana namun mendalam itu relevan dan menyelamatkan: hiduplah sesuai kemampuan Anda dan tetaplah fokus. Ia bukan ajakan untuk pasrah tanpa ikhtiar, melainkan seruan untuk hidup dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan ketundukan kepada Allah SWT.

1. Memahami Kemampuan Diri: Jalan Menuju Kematangan Ruhani

Kemampuan bukan semata soal materi. Ia mencakup kapasitas fisik, mental, spiritual, dan sosial. Allah menciptakan manusia dengan kadar yang berbeda-beda, dan di situlah keadilan-Nya. Ketika seseorang memaksakan diri melampaui kapasitasnya, yang muncul bukan kemuliaan, melainkan penderitaan.

Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Hidup sesuai kemampuan berarti jujur pada diri sendiri, tidak terjebak pada ilusi, serta berani berkata “cukup” ketika cukup. Ini bukan kelemahan, melainkan kedewasaan iman. Sebab orang yang dewasa secara ruhani tidak mengukur dirinya dengan timbangan manusia, tetapi dengan penilaian Allah.

2. Qana’ah: Kekayaan Hati yang Membebaskan

Salah satu buah dari hidup sesuai kemampuan adalah qana’ah. Ia bukan anti-kemajuan, tetapi anti-keserakahan. Qana’ah membebaskan jiwa dari penjara perbandingan. Orang yang qana’ah bekerja dengan sungguh-sungguh, namun hatinya tenang karena tidak bergantung pada hasil semata.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Dengan qana’ah, hidup menjadi ringan. Beban berkurang, syukur bertambah, dan keberkahan mengalir. Inilah kekayaan sejati—kaya hati yang menenangkan.

3. Fokus: Seni Menjaga Arah di Jalan Panjang

Fokus adalah anugerah yang langka. Banyak orang sibuk, tetapi tidak produktif. Banyak bergerak, tetapi tidak sampai. Sebab fokusnya tercerai-berai. Dalam Islam, fokus berakar pada niat yang lurus dan istiqamah.

Allah SWT berfirman: “Maka tetaplah engkau di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud: 112)

Fokus menuntut keberanian untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak penting, dan kesabaran untuk menuntaskan yang utama. Fokus juga berarti menyadari peran kita saat ini—sebagai hamba, sebagai orang tua, sebagai pendidik, sebagai pelayan umat—dan menjalankannya dengan penuh amanah.

4. Antara Ambisi Dunia dan Amanah Akhirat

Islam tidak mematikan ambisi, tetapi mengarahkannya. Ambisi tanpa iman melahirkan kegelisahan. Ambisi dengan iman melahirkan karya dan keberkahan. Hiduplah sesuai kemampuan hari ini, namun tingkatkan kapasitas diri esok hari melalui ilmu, akhlak, dan kedekatan dengan Allah.

Jangan sibuk mengejar apa yang belum tentu menjadi bagian kita, hingga lalai menjaga apa yang jelas menjadi amanah kita. Fokuslah pada kualitas amal, bukan sekadar kuantitas capaian. Karena di akhirat kelak, yang ditanya bukan seberapa tinggi posisi kita, tetapi seberapa lurus niat dan seberapa ikhlas usaha kita.

5. Penutup: Tenanglah, Anda Sedang Berjalan di Jalan Anda

Wahai saudaraku, tidak semua yang berkilau harus dimiliki. Tidak semua yang viral harus diikuti. Setiap orang memiliki lintasan hidupnya sendiri. Maka tenanglah, hiduplah sesuai kemampuan Anda. Di sanalah Allah menurunkan ketenangan dan keberkahan. Tetaplah fokus, karena fokus adalah bukti kesungguhan dan tanda pertolongan Allah sedang mendekat.

Hidup sederhana dengan arah yang jelas
lebih mulia daripada hidup gemerlap tanpa tujuan.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang qana’ah, niat yang ikhlas, langkah yang istiqamah, dan fokus yang mengantarkan pada ridha-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update