TintaSiyasi.id -- “Mencintai Nabi Saw., adalah mencintai Al-Qur’an, mencintai sunnah, dan menolak segala yang merusak agama yang beliau perjuangkan dengan darah, air mata, dan doa.”
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan parameter keimanan. Cinta kepada Rasulullah Saw., bukanlah slogan, bukan pula hanya ritual seremonial yang berulang setiap musim maulid. Cinta sejati adalah komitmen hidup, sikap ideologis, dan pilihan jalan dalam setiap aspek kehidupan.
Sebab Nabi Muhammad Saw., tidak hadir hanya untuk dicintai, tetapi untuk ditaati dan diikuti.
Cinta Nabi Saw., Tidak Pernah Kosong dari Konsekuensi
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan standar cinta yang tegas dan objektif:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ
“Katakanlah (Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.”
(QS. Ali ‘Imran: 31).
Ayat ini mengajarkan bahwa cinta tanpa ittiba’ adalah ilusi. Mengaku mencintai Nabi Saw., tetapi tidak mencintai Al-Qur’an yang beliau bawa, tidak memuliakan sunnah yang beliau wariskan, dan justru membiarkan agama ini dirusak adalah kontradiksi spiritual.
Mencintai Al-Qur’an: Mencintai Jalan Hidup Nabi Saw.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan atau hiasan rumah. Ia adalah manhaj hidup yang Rasulullah Saw., perjuangkan sepanjang hidupnya. Demi Al-Qur’an, beliau dicaci, diboikot, dilukai, bahkan diusir dari tanah kelahirannya.
Maka mencintai Nabi Saw., berarti:
Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber berpikir, bukan hanya sumber dalil.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai standar benar-salah, bukan opini mayoritas.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman peradaban, bukan sekadar simbol kesalehan personal.
Umat ini tidak akan bangkit dengan jargon “Islam rahmatan lil ‘alamin” jika Al-Qur’an hanya dibaca, tetapi tidak ditaati.
Mencintai Sunnah: Menghidupkan Jejak Nabi Saw.
Sunnah Nabi Saw., adalah penjelas Al-Qur’an sekaligus wajah praktis Islam. Mengaku cinta Nabi Saw., tetapi meremehkan sunnah, atau lebih buruk lagi menganggap sunnah sebagai penghalang kemajuan adalah bentuk ketidakjujuran iman.
Rasulullah Saw., bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnahku.”
Maka mencintai Nabi Saw., berarti:
Membela sunnah dari distorsi dan pengaburan.
Mengamalkan sunnah dalam akhlak, ibadah, muamalah, dan kepemimpinan.
Menjadikan sunnah sebagai solusi kehidupan, bukan sekadar tradisi.
Menolak Segala yang Merusak Agama: Bukti Cinta yang Paling Berat
Cinta sejati selalu punya sikap tegas. Rasulullah Saw., tidak hanya mengajarkan kasih sayang, tetapi juga keteguhan prinsip. Beliau lembut kepada manusia, tetapi keras terhadap kebatilan.
Maka mencintai Nabi Saw., berarti berani:
Menolak pemikiran yang merusak akidah.
Melawan praktik kezaliman yang dibungkus agama.
Mengkritisi sistem, budaya, dan kebijakan yang menjauhkan umat dari Islam yang kaffah.
Diam terhadap kerusakan agama bukanlah toleransi, melainkan pengkhianatan cinta.
Agama Ini Dibangun dengan Darah, Air Mata, dan Doa
Islam tidak lahir dari ruang nyaman. Ia ditegakkan dengan:
Darah para syuhada
Air mata orang-orang yang terzalimi
Doa panjang Rasulullah Saw., di sepertiga malam.
Maka, sungguh ironis jika hari ini Islam diperlakukan secara dangkal, dipelintir demi kepentingan sesaat atau dijadikan alat legitimasi hawa nafsu.
Cinta kepada Nabi Saw., menuntut kita untuk menjaga kemurnian agama ini, sebagaimana beliau menjaganya dengan seluruh hidupnya.
Penutup: Cinta yang Membentuk Peradaban
Mencintai Nabi Saw., bukan sekadar urusan hati, tetapi tanggung jawab peradaban. Dari cinta itulah lahir:
Keberanian bersikap
Kejernihan berpikir
Keteguhan memegang kebenaran
Jika umat ini sungguh mencintai Nabi Saw., maka Islam tidak akan menjadi asing di tengah kaum Muslimin sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang jujur dalam cinta, istiqamah dalam sunnah, dan tegas menjaga agama Nabi-Nya Saw.
اللهم ارزقنا حب نبيك واتباع سنته والثبات على دينك
“Ya Allah, karuniakan kepada kami cinta kepada Nabi-Mu, kekuatan mengikuti sunnahnya, dan keteguhan menjaga agama-Mu.”
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarna UIT Lirboyo