Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bencana Sumatera, UIY: Dampak Besar dari Keberpihakan Negara kepada Korporasi

Minggu, 21 Desember 2025 | 09:17 WIB Last Updated 2025-12-21T02:17:26Z

TintaSiyasi.id -- Terkait bencana di Sumatera, Cendikiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengatakan bencana ini adalah dampak langsung dari besarnya keberpihakan negara kepada korporasi swasta.

"Ini semua dampak langsung dari betapa negara ini telah begitu besar berpihak kepada korporasi swasta," ujarnya dalam program live discussion: Bencana Sumatera, Salah Siapa? di kanal YouTube UIY Offial, Ahad (7/12/2025).

Karena, katanya, para pemegang kekuasaan senantiasa terhubung dengan perusahaan-perusahaan swasta.

"Boleh di cek, siapa orang yang memegang tambang-tambang, batu bara itu? Orangnya bisa disebut kok. Yang punya sawit, nikel, siapa? Bisa disebut kok. Sementara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu makin kecil," ujarnya.

Misalnya saja, lanjutnya, perusahaan tambang batu bara BUMN, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) hanya mendapatkan lima persen keuntungan dari hasil produksi nasional yang mencapai 600 juta ton. 

"Coba bayangkan, ini negara punya perusahaan tetapi dia hanya dapat lima persen. Ini yang gila siapa? Yang gila  para birokrat itu, para pemimpin itu, yang menganaktirikan perusahaan negara," geramnya.

"Sekarang ini, itu orang-orang lagi cari cuan secuan-cuannya. Untuk apa? Untuk dia berkuasa lagi di periode berikutnya. Untuk bayar ini, bayar itu dan segala macamnya. Jadi, kekuasaan ini siklus gilanya itu money for power, power for money. Mereka sekarang sudah punya power, dan lagi cari duit, cara paling gampang, ya eksploitasi sumber daya alam" tambahnya lagi. 

Menurutnya, politik transaksional menjadi pangkal dari semua problematika yang terjadi, ditambah lagi, saat ini negara sedang dipimpin orang-orang serakah, telah terbukti begitu rupa, seperti bencana Sumatera, bukan hanya mendatangkan banjir air, namun juga lumpur dan gelondongan kayu.

"Ini negara hancur oleh karena pengpeng, penguasa yang merangkap pengusaha, penguasa yang merangkap pengusaha. Kalau mau diperbaiki ya, itu yang harus diperbaiki. Ini kapitalisme sedang berkolaborasi dengan demokrasi, demokrasi dengan kapitalisme, rusak negara ini, rusak! Kalau ini terus berlangsung, akan ada bencana yang lebih dahsyat daripada itu (bencana Sumatera). Kenapa? Karena kerakusan itu tidak pernah bisa dihentikan. Kerakusan itu hanya bisa dihentikan dengan apa? Kematian," jelasnya.

Ia melihat, selain aspek teknis seperti eksploitasi sumber daya alam yang ugal-ugalan, ada juga aspek politis terkait membuat kebijakan yang serampangan, serta aspek ideologis, inilah aspek yang paling fundamental. 

"Kenapa? Karena ini berurat pada persoalan-persoalan ideologis.
Jadi, saya ingin mengatakan begini, bahwa selama masih menggunakan sistem kapitalis ditambah dengan para politisi dan birokrasi yang rakus seperti itu, maka negeri ini enggak akan pernah beres," ungkapnya. 

Dalam Islam, jelasnya, tugas penguasa adalah riayah suunil ummah (mengurusi urusan umat), bukan justru berpihak pada korporasi swasta, corporate oriented (berorientasi korporat) yang imbasnya merugikan atau mengorbankan rakyatnya sendiri.

"Ini negara aneh, ada kementerian kehutanan, hutannya rusak, ada kementerian pertanian, pertaniannya rusak, ada kementrian pertambangan, tambangnya rusak," cetusnya.

Itulah yang terjadi, ucapnya, ketika negara hanya berfungsi sebagai regulator, padahal, negara seharusnya menjadi regulator sekaligus operator. 

"Jadi, tegakkanlah aturan yang baik dan itu bersumber dari dzat yang Maha Baik. Itulah Allah SWT dengan pemimpin yang amanah. Pemimpin yang mau tunduk kepada hukum Allah dan betul-betul mengurusi rakyat," pungkasnya.[]Tenira

Opini

×
Berita Terbaru Update