Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Isra Mikraj, Syakban, dan Persiapan Menyambut Ramadhan: Jalan Ruhani Menuju Kedewasaan Iman

Jumat, 23 Januari 2026 | 11:12 WIB Last Updated 2026-01-23T04:12:24Z
Pendahuluan

TintaSiyasi.id -- Dalam kalender ruhani seorang mukmin, Allah ﷻ tidak menghadirkan waktu secara kebetulan. Setiap momentum memiliki makna, hikmah, dan pesan pendidikan iman. Isra’ Mi’raj, bulan Sya’ban, dan Ramadhan adalah rangkaian ilahiah yang saling terhubung, membentuk sebuah kurikulum ruhani bagi umat Islam: dari penguatan iman, penyucian jiwa, hingga puncak ketakwaan.

Barang siapa memahami rangkaian ini dengan hati yang hidup, maka Ramadhan tidak akan datang sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai titik balik kehidupan.

Isra Mikraj: Fondasi Spiritual dan Kesadaran Ilahiah

Isra’ Mikraj bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi pilar transformasi ruhani umat Islam. Di malam agung itu, Rasulullah ﷺ “diangkat” bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan peradaban.

Allah ﷻ berfirman:

 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”
(QS. Al-Isra’: 1)

Dari Isra’ Mi’raj, umat Islam menerima shalat, tiang agama dan mi’rajnya orang beriman. Artinya, sebelum Ramadhan diwajibkan, shalat ditegakkan lebih dahulu. Ini mengandung pesan besar:

Puasa tanpa shalat adalah jasad tanpa ruh.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa:

Perubahan hidup dimulai dari hubungan vertikal dengan Allah

Kesuksesan dunia tidak berarti tanpa kedekatan ruhani

Shalat adalah tolok ukur kualitas iman dan kesiapan Ramadhan

Bulan Sya’ban: Bulan Pembersihan dan Persiapan Jiwa

Jika Isra’ Mi’raj adalah fondasi iman, maka Sya’ban adalah ruang latihan dan pemurnian. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada bulan ini.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

 ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan.”
(HR. An-Nasa’i)

Sya’ban adalah bulan:

Menghidupkan sunnah puasa

Membersihkan hati dari penyakit batin

Melatih konsistensi ibadah sebelum Ramadhan

Para ulama menyebut:

 Sya’ban bagi Ramadhan seperti latihan sebelum pertandingan besar.

Maka siapa yang malas di Sya’ban, ia akan terengah-engah di Ramadhan.

Malam Nisfu Sya’ban: Evaluasi Takdir dan Penyucian Hati

Di antara keutamaan Sya’ban adalah malam Nisfu Sya’ban, malam di mana Allah membuka pintu ampunan-Nya seluas-luasnya, kecuali bagi:

Orang yang syirik

Orang yang menyimpan dendam dan permusuhan

Rasulullah ﷺ bersabda:

 يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَىٰ خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban…”
(HR. Ibnu Majah)

Pesan moralnya jelas:
Ramadhan tidak akan menyinari hati yang masih gelap oleh dendam dan iri.

Ramadhan: Buah dari Kesadaran Isra’ Mi’raj dan Latihan Sya’ban

Ramadhan bukan awal, melainkan puncak perjalanan. Ia adalah panen dari:

Kesadaran shalat (Isra’ Mi’raj)

Disiplin ibadah (Sya’ban)

Kebersihan hati dan niat

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa…”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan Ramadhan bukan lapar dan haus, melainkan lahirnya manusia bertakwa, matang secara spiritual dan sosial.

Persiapan Ramadhan: Tiga Pilar Utama

1. Persiapan Iman

Memperbaiki shalat

Menghidupkan dzikir

Menguatkan tauhid dan keikhlasan

2. Persiapan Jiwa

Membersihkan hati dari iri, dengki, dan dendam

Memperbanyak istighfar dan taubat

Melatih sabar dan pengendalian diri

3. Persiapan Amal

Membiasakan tilawah Al-Qur’an

Melatih sedekah

Mengatur waktu ibadah sejak Sya’ban

Penutup: Jangan Sambut Ramadhan dengan Jiwa yang Lalai

Isra’ Mi’raj mendidik kita tegak dalam shalat,
Sya’ban melatih kita bersih dalam hati,
Ramadhan menghendaki kita matang dalam takwa.

Maka sungguh merugi orang yang:

Mengagungkan Isra’ Mi’raj tapi meninggalkan shalat

Memasuki Sya’ban tanpa taubat

Datang ke Ramadhan tanpa persiapan ruhani

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang siap secara iman, jiwa, dan amal, sehingga Ramadhan benar-benar mengubah hidup kita, bukan sekadar berlalu dalam kalender.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si, (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update