TintaSiyasi.id -- Setiap manusia yang diciptakan Allah SWT hadir ke muka bumi bukan tanpa maksud. Ia datang membawa fitrah, potensi, dan bekal ruhani yang telah ditanamkan sejak awal penciptaan. Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya (ahsani taqwīm), bukan hanya secara fisik, tetapi juga dari sisi akal, jiwa, dan kemampuan berkarya. Namun, potensi yang besar tidak serta-merta menjelma menjadi kebermanfaatan, kecuali bila ia dihidupkan, diarahkan, dan ditumbuhkan secara sadar.
Di sinilah pentingnya kesadaran untuk melepas potensi terbaik dalam diri—sebuah proses panjang yang menuntut kejujuran kepada diri sendiri, keberanian mengambil jalan hidup, dan kesungguhan dalam berproses.
Potensi: Amanah Ilahiyah dalam Diri Manusia
Potensi bukanlah kebetulan biologis. Ia adalah amanah Ilahiyah. Setiap kecerdasan, bakat, dan kecenderungan yang Allah titipkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Potensi yang dibiarkan tidur bukanlah bentuk kerendahan hati, melainkan sering kali tanda kelalaian.
Banyak manusia hidup jauh di bawah kapasitas sejatinya. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia tidak mengenal dirinya sendiri. Ia menjalani hidup sekadar mengikuti arus, tuntutan sosial, atau standar keberhasilan orang lain, tanpa pernah bertanya: “Untuk apa aku diciptakan dan di mana aku paling bermakna?”
Padahal, mengenal potensi diri adalah bagian dari ibadah tafakkur—merenungi tanda-tanda kebesaran Allah dalam diri manusia itu sendiri.
Passion: Getaran Jiwa yang Menghidupkan Talenta
Passion sering disalahpahami sebagai sekadar hobi atau kesenangan emosional. Padahal, passion sejatinya adalah kecenderungan mendalam jiwa yang membuat seseorang sanggup bertahan dalam proses panjang, menghadapi lelah, bahkan rela berkorban tanpa merasa terpaksa.
Passion adalah energi batin yang menghidupkan talenta. Tanpa passion, talenta menjadi dingin, kaku, dan kehilangan daya dorong. Ia ada, tetapi tidak pernah mencapai puncak ekspresinya. Sebaliknya, passion yang sejati akan:
Menghadirkan totalitas dalam berkarya
Menumbuhkan ketekunan jangka panjang
Melahirkan kualitas dan keunggulan alami
Ketika seseorang bekerja sesuai passion-nya, ia tidak sekadar “melakukan”, tetapi menghadirkan jiwa dalam setiap peran yang dijalani.
Ekspresi Tertinggi Talenta: Saat Diri Bertemu Makna
Ekspresi tertinggi dari talenta bukanlah popularitas, jabatan, atau materi semata. Ia adalah kondisi ketika apa yang dikerjakan selaras dengan siapa diri kita sebenarnya. Di titik inilah kerja berubah menjadi panggilan, dan aktivitas berubah menjadi kontribusi.
Orang yang telah menemukan ekspresi tertinggi talenta:
Tidak mudah lelah secara batin
Tidak kehilangan makna meski menghadapi kesulitan
Tidak terjebak pada pembuktian diri, karena ia sibuk memberi
Inilah bentuk keberhasilan yang sering luput dari ukuran dunia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah: hidup yang berdampak dan bermakna.
Passion yang Dituntun Iman: Dari Ambisi Menuju Ibadah
Namun, tidak semua passion membawa kebaikan. Passion yang tidak dituntun iman bisa berubah menjadi ambisi egoistik—mengejar pengakuan, kekuasaan, atau kepuasan diri semata. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar setiap kecenderungan jiwa diselaraskan dengan niat yang lurus dan nilai akhlak.
Ketika passion ditautkan dengan iman:
Karya berubah menjadi amal shalih
Profesi menjelma menjadi ladang pahala
Perjuangan menjadi jalan mendekat kepada Allah
Inilah rahasia mengapa orang-orang besar dalam sejarah Islam mampu bertahan dalam kesulitan: karena apa yang mereka kerjakan bukan sekadar sesuai kemampuan, tetapi sesuai panggilan iman.
Refleksi Diri: Menemukan Jalan Pengabdian
Untuk melepas potensi terbaik, setiap insan perlu melakukan refleksi jujur:
Di bidang apa hatiku merasa hidup dan bertumbuh?
Dalam peran apa aku mampu memberi manfaat paling besar?
Aktivitas apa yang jika aku tekuni, lelah terasa sebagai ibadah?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini bukan ditemukan dalam keramaian, tetapi dalam keheningan dan kedekatan dengan Allah. Sebab hanya dengan cahaya hidayah, seseorang mampu mengenali dirinya secara utuh.
Penutup: Potensi adalah Titipan, Passion adalah Kunci
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa lama kita ada, tetapi seberapa bermakna kehadiran kita. Potensi adalah titipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Passion adalah kunci untuk membuka pintu pengabdian. Dan kebermanfaatan adalah tujuan utama kehidupan seorang mukmin.
Maka jangan biarkan potensi terkurung oleh rasa takut dan keraguan. Jangan matikan passion dengan alasan kenyamanan. Beranilah berjalan di jalan yang Allah bukakan untukmu, meski pelan, selama ia mengarah kepada kebaikan.
Sebab ketika potensi terbaik dilepaskan dengan niat yang lurus, hidup bukan hanya dijalani, tetapi dihadirkan sebagai cahaya bagi sesama.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)