Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gabung Board of Peace, Benarkah demi Perdamaian atau Jebakan Maut?

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:17 WIB Last Updated 2026-01-30T04:17:11Z

TintaSiyasi.id -- Direktur Indonesia Justice Monitor Agung Wisnuwardana mempertanyakan terkait bergabungnya Indonesia ke Board of Peace besutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, apakah itu benar demi perdamaian atau justru jebakan maut.

"Presiden Prabowo baru saja menandatangani bergabungnya Indonesia ke Board of Peace di Davos, tetapi tunggu dulu benarkah ini untuk perdamaian? Atau justru jebakan maut," tanyanya di akun TikTok agung.wisnuwardana, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan BoP disebut jebakan maut. Pertama, struktur Donal Trump menjadi Chairman seumur hidup dengan hak veto mutlak. "Suara Indonesia? Suara negeri muslim lainnya? Semua bisa mentah di tangan satu orang ini," ujarnya.

Kedua, iuran keanggotaan 16 triliun rupiah. "Bayangkan uang sebanyak itu hanya untuk duduk di meja yang dikendalikan oleh mereka yang selama ini menyuplai senjata bagi penjajah Israel, ini bukan diplomasi kemanusiaan, ini jebakan dengan kata diplomasi transaksional," ungkapnya. 

Ia mengingatkan rekam jejak Amerika Serikat terkait perjanjian perdamaian."Perjanjian Oslo sampai Abraham Accords semuanya adalah perjanjian damai palsu, yang justru memperluas pemukiman ilegal Israel plus menjadikan Gaza porak poranda, jauh dari kata pembebasan dan sekarang mereka menawarkan new Gaza dengan gedung pencakar langit dan pusat wisata," jelasnya.

Sehingga, BoP ini adalah strategi penyuapan mereka ingin negeri-negeri muslim menukar hak kedaulatan dengan tumpukan semen dan beton, mereka bicara rekonstruksi tetapi bungkam soal penjajahan.

"Kita harus bicara pembebasan total Palestina karena Palestina adalah tanah wakaf umat Islam, haram hukumnya diserahkan sejengkal pun kepada agresor Zionis yang disupport Amerika Serikat," jelasnya. 

Sehingga, upaya untuk membebaskan Palestina artinya menghapuskan penjajahan dari akarnya bukan sekadar membangun apartemen diatas penderitaan rakyat Gaza.

Bantuan kemanusiaan saja tidak cukup kita butuh transformasi kekuatan politik solusi hakiki adalah penyatuan kekuatan militer dan politik umat Islam dalam naungan khilāfah Islamiah," paparnya. 

Ia menambahkan, hanya dengan persatuan inilah perintah jihad untuk mengusir penjajah bisa dijalankan secara sistematis bukan sekadar mengirim truk makanan yang harus mengemis izin masuk dari penjajah, tetapi mengirimkan kekuatan yang disegani dunia untuk membebaskan Gaza Alaqsha Palestina.

"Jangan biarkan narasi damai membuat kita lupa pada penjajahan yang masih berlangsung, Indonesia harus tetap kritis dan harus keluar dari Board of Peace dan buat seluruh kekuatan umat terus suarakan pembebasan total Palestina, berjuang sampai kemenangan itu tiba," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update