TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Mengapa Banyak yang Sukses, tetapi Tidak Bahagia?
Kita hidup di zaman paradoks.
Kesempatan terbuka lebar, teknologi semakin canggih, pendidikan semakin tinggi. Namun anehnya, kegelisahan justru semakin meluas. Banyak yang tampak sukses di luar, tetapi rapuh di dalam. Banyak yang mencapai puncak karier, tetapi kehilangan makna hidup.
Pertanyaannya bukan lagi “mengapa kita gagal?”
Melainkan: “apakah pondasi hidup kita sudah benar?”
Sebab dalam hukum kehidupan, bangunan yang tinggi tidak akan berdiri lama jika pondasinya rapuh. Kesuksesan yang sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang arah, proses, dan nilai.
Di sinilah Islam datang bukan sekadar memberi motivasi, tetapi memberi landasan eksistensial bagi kesuksesan manusia.
1. Tauhid: Arah Utama Semua Kesuksesan
Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi kompas kehidupan. Ia menentukan:
kepada siapa hidup ini dipersembahkan
untuk apa usaha dijalankan
dan bagaimana keberhasilan dimaknai.
Orang yang bertauhid:
tidak menyembah jabatan
tidak menuhankan harta
tidak menggantungkan jiwa pada manusia.
Allah Swt., berfirman:
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.”
(QS. Fathir: 10).
Tauhid membebaskan manusia dari perbudakan modern:
perbudakan target, perbudakan validasi, perbudakan pengakuan sosial.
Kesuksesan tanpa tauhid melahirkan kesombongan.
Tauhid tanpa kesuksesan melahirkan ketenangan.
Tauhid dengan kesuksesan melahirkan keberkahan.
2. Niat: Menghidupkan Nilai dalam Setiap Langkah
Dalam Islam, nilai amal tidak ditentukan oleh besarnya capaian, tetapi oleh kemurnian niat.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Niat menjadikan:
pekerjaan dunia bernilai ibadah
aktivitas rutin bernilai dakwah
usaha ekonomi bernilai jihad
Orang yang niatnya lurus:
tidak mudah patah saat gagal
tidak lupa diri saat berhasil
tidak putus asa saat diremehkan.
Karena ia bekerja bukan semata untuk dilihat manusia, tetapi untuk dinilai Allah.
3. Ilmu: Cahaya yang Menuntun Kesuksesan
Islam tidak pernah memisahkan kesuksesan dari ilmu. Ilmu adalah cahaya yang menuntun amal agar tepat arah dan benar cara.
Allah Saw., menegaskan:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11).
Tanpa ilmu:
semangat berubah menjadi kesalahan
keikhlasan berubah menjadi kesesatan
keberanian berubah menjadi kehancuran.
Namun, ilmu dalam Islam bukan sekadar pengetahuan teknis, melainkan ilmu yang melahirkan hikmah dan tanggung jawab moral.
4. Adab: Pondasi yang Sering Dilupakan
Inilah krisis terbesar umat hari ini: ilmu diburu, adab ditinggalkan.
Padahal para ulama salaf menegaskan:
“Kami belajar adab sebelum belajar ilmu.”
Adab melahirkan:
kerendahan hati dalam keberhasilan
kesabaran dalam ujian
kejujuran dalam persaingan
kesantunan dalam perbedaan.
Banyak orang jatuh bukan karena kurang pintar, tetapi karena kehilangan adab saat berada di atas.
Ilmu menaikkan derajat, adab menjaga agar derajat itu tidak menjatuhkan.
5. Istiqamah: Rahasia Kemenangan Jangka Panjang
Kesuksesan dalam Islam tidak identik dengan kecepatan, tetapi dengan ketekunan.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu walaupun sedikit.”
Istiqamah adalah kekuatan sunyi:
tidak viral
tidak sensasional
tetapi konsisten dan tahan uji.
Peradaban besar tidak lahir dari semangat sesaat, melainkan dari komitmen panjang yang dijaga dengan kesabaran.
6. Tawakal: Puncak Ketenangan Orang Beriman
Tawakal bukan menyerah, tetapi berserah setelah berjuang.
Orang yang bertawakal:
bekerja maksimal tanpa cemas berlebihan
menerima hasil tanpa menyalahkan takdir
tetap berusaha meski dunia tak berpihak.
Allah Swt., berfirman:
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3).
Tawakal melahirkan jiwa merdeka:
tidak diperbudak hasil, tidak ditindas kegagalan.
Penutup: Kesuksesan yang Menyelamatkan
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang apa yang kita raih, tetapi siapa kita ketika meraihnya.
Islam mengajarkan bahwa kesuksesan harus:
meluruskan iman
menenangkan jiwa
menumbuhkan manfaat
dan mengantarkan keselamatan akhirat.
Apabila hidup dibangun di atas: tauhid yang lurus, niat yang ikhlas, ilmu yang benar, adab yang kokoh, istiqamah yang panjang, dan tawakal yang mendalam, maka apa pun profesi dan posisi kita, kita sedang berjalan menuju kesuksesan yang diridhai Allah.
Karena puncak keberhasilan bukan saat dipuji manusia, tetapi saat dipanggil Allah dengan penuh cinta:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28).
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo