TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Bencana yang Tak Terdengar Ledakannya
Umat Islam hari ini tidak sedang kekurangan masjid. Tidak pula kekurangan dai, kajian, konten dakwah, bahkan gelar akademik keislaman. Namun, mengapa keberkahan terasa menjauh, keadilan terasa langka, dan ketenangan jiwa semakin sulit diraih?
Kita hidup di zaman ketika:
suara azan berkumandang, tetapi hati tidak tersentuh
ayat-ayat dibaca, tetapi tidak menggerakkan amal
Islam dibela di lisan, tapi ditinggalkan dalam kehidupan
Inilah bencana terbesar umat Islam saat ini:
bencana yang tidak menghancurkan bangunan, tetapi meruntuhkan makna.
1. Ketika Ilmu Tidak Lagi Mengantarkan kepada Allah
Ilmu dalam Islam bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya.
Namun hari ini, ilmu sering kehilangan ruhnya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).
Ayat ini menegaskan bahwa buah ilmu adalah khashyah (takut yang penuh cinta kepada Allah).
Apabila ilmu tidak melahirkan kerendahan hati, kejujuran, dan ketakwaan, maka ada yang salah dalam prosesnya.
Maka lahirlah fenomena:
orang berilmu tapi mudah meremehkan
orang paham agama tapi keras dan kering akhlak
orang pandai bicara surga, tetapi perilakunya melukai sesama
Ini bukan sekadar krisis moral, tetapi bencana epistemologis:
ilmu tercerabut dari iman, dan pengetahuan dipisahkan dari penyucian jiwa.
2. Agama yang Kehilangan Kedalaman Makna
Agama perlahan direduksi menjadi:
simbol identitas
alat perdebatan
komoditas popularitas
Islam tidak lagi dipahami sebagai jalan hidup menuju Allah, tetapi sebatas label sosial.
Masjid megah berdiri, tetapi kezaliman tetap berjalan. Kajian ramai, tetapi amanah semakin langka. Ayat dibacakan, tetapi kejujuran semakin mahal.
Inilah yang disebut bencana simbolik:
Islam tampak di permukaan, tetapi tidak membumi dalam perilaku.
Padahal Rasulullah Saw., diutus bukan sekadar untuk mengajarkan hukum, tetapi:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad).
3. Rusaknya Skala Prioritas Umat
Salah satu tanda kehancuran sebuah umat adalah ketika yang cabang diperebutkan, sementara yang pokok diabaikan.
Hari ini kita sering melihat:
keras dalam khilafiyah, lunak pada maksiat struktural
sibuk membela kelompok, lalai membela kebenaran
lantang di ruang publik, sunyi dalam munajat
Umat kehilangan timbangan nilai: Mana yang prinsip, mana yang sekunder, mana yang harus diperjuangkan, dan mana yang bisa ditoleransi.
Ini adalah bencana orientasi hidup ketika arah kiblat hati tidak lagi lurus menuju Allah.
4. Hilangnya Adab: Pertanda Runtuhnya Peradaban
Para ulama klasik selalu memulai pendidikan dengan adab.
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Pelajarilah adab sebelum ilmu.”
Namun hari ini:
murid mudah merendahkan guru
dai saling menjatuhkan
perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan
Padahal jatuhnya adab adalah awal runtuhnya peradaban, karena adab adalah pagar ilmu, dan akhlak adalah ruh dakwah.
Ketika adab hilang:
ilmu menjadi senjata
kebenaran berubah menjadi alat pembenaran
dakwah kehilangan kelembutannya
Inilah bencana akhlak kolektif yang paling berbahaya.
5. Cinta Dunia dan Takut Kehilangan Kenyamanan
Rasulullah Saw., telah memberi peringatan yang sangat jelas:
“Allah akan mencabut rasa takut dari musuh-musuhmu dan menanamkan wahn di dalam hatimu.”
Para sahabat bertanya: “Apakah wahn itu?”
Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).
Wahn bukan berarti miskin, tetapi terikat berlebihan pada dunia.
Takut kehilangan jabatan, popularitas, kenyamanan, dan pengakuan manusia.
Akibatnya:
kebenaran ditawar
prinsip dikompromikan
kezaliman didiamkan
Ini adalah bencana mentalitas, yang membuat umat besar secara jumlah, tetapi kecil dalam keberanian moral.
6. Bencana Terbesar Itu Ada di Dalam Diri Kita
Jika direnungkan dengan jujur, maka bencana terbesar umat Islam bukanlah musuh di luar, tetapi:
hati yang jauh dari Allah
akal yang tercerabut dari wahyu
jiwa yang lelah oleh dunia
Allah menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, bukan dari teriakan, bukan dari kemarahan, tetapi dari kesadaran dan taubat kolektif.
Penutup: Jalan Pulang Menuju Kejayaan yang Hakiki
Umat ini tidak kekurangan potensi, tetapi kehilangan arah.
Tidak miskin sumber daya, tetapi kering ruhani.
Maka jalan pulangnya adalah:
1. Menghidupkan kembali tauhid sebagai pusat kehidupan
2. Menjadikan ilmu sebagai jalan menuju adab dan khashyah
3. Menata ulang orientasi hidup: akhirat memimpin dunia
4. Menghadirkan dakwah yang menenangkan, bukan memecah
5. Memulai kebangkitan dari tazkiyatun nafs sebelum perubahan struktural
Ketika hati kembali hidup, akal kembali tunduk pada wahyu, dan amal kembali ikhlas karena Allah. Saat itulah umat ini akan bangkit tanpa perlu banyak teriak.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis dan Akademisi. Konsultan Pendidikan dan SDM