Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jalan Hidup Seorang Muslim: Manhaj Ruhani Menuju Ridha Ilahi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:06 WIB Last Updated 2026-01-11T21:07:11Z
Pendahuluan: Hidup yang Tidak Netral

TintaSiyasi.id — Seorang muslim tidak pernah hidup dalam keadaan netral. Sejak ia mengucapkan dua kalimat syahadat, sejak itu pula hidupnya terikat oleh satu ikatan suci: ikatan penghambaan kepada Allah ﷻ. Ia berjalan dalam kehidupan dunia dengan jalan tertentu, hidup dengan kehidupan yang khas dalam corak yang khusus, bukan karena keinginan hawa nafsu, tetapi karena keyakinannya yang mendalam terhadap aqidah Islam dan kewajiban untuk taat kepada perintah serta larangan Allah.

Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi jalan hidup yang utuh. Ia mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya, bahkan dengan dirinya sendiri. Dalam perspektif sufistik, hidup seorang muslim adalah perjalanan ruhani (sulūk) menuju Allah, di mana dunia hanyalah hamparan ujian dan ladang amal.

Aqidah: Akar Kehidupan Ruhani

Dalam tasawuf, aqidah bukan sekadar keyakinan intelektual, melainkan cahaya yang menancap di dalam hati. Aqidah yang benar akan melahirkan rasa muraqabah (merasa diawasi Allah), khauf (takut kepada-Nya), dan raja’ (harap akan rahmat-Nya). Dari sinilah lahir kehidupan yang khas dan berbeda.

Seorang muslim yang lurus aqidahnya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana. Ia memahami firman Allah:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)

Kesadaran inilah yang membuat setiap aktivitasnya—bekerja, berkeluarga, bermasyarakat—bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Inilah rahasia mengapa seorang muslim sejati memiliki ketenangan batin, meski hidupnya sederhana.

Ketaatan: Jalan Cinta Seorang Hamba

Ketaatan dalam pandangan sufistik bukanlah paksaan hukum, melainkan buah cinta. Orang yang mengenal Allah akan mudah taat kepada-Nya. Sebagaimana dikatakan para arif billah: “Barang siapa mengenal Allah, niscaya ia mencintai-Nya. Dan barang siapa mencintai-Nya, niscaya ia taat kepada-Nya.”

Perintah dan larangan Allah bukan untuk membatasi manusia, tetapi untuk memelihara fitrah ruhani. Shalat menjaga jiwa dari kekosongan, puasa membersihkan hati dari dominasi nafsu, zakat menyucikan harta, dan seluruh hukum Islam menjaga keseimbangan antara jasad dan ruh.

Dalam kacamata tasawuf, maksiat bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi penggelapan hati. Sebaliknya, ketaatan adalah cahaya yang menenangkan batin. Maka tidak heran jika para salihin lebih takut pada dosa kecil daripada kehilangan dunia seluruhnya.

Berpegang Teguh pada Hukum Islam di Tengah Zaman yang Goncang

Zaman terus berubah. Nilai-nilai bergeser. Kebenaran sering dikaburkan oleh opini dan kepentingan. Di tengah arus ini, seorang muslim dipanggil untuk istiqamah, tetap berpegang pada hukum-hukum Islam meski harus tampak berbeda.

Dalam tasawuf, istiqamah lebih utama daripada seribu karamah. Sebab istiqamah adalah bukti bahwa hati telah terpaut pada Allah, bukan pada pujian manusia. 

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.”
(HR. Muslim)

Istiqamah inilah yang menjadikan hidup seorang muslim memiliki pola yang khas: jujur ketika yang lain menipu, sabar ketika yang lain marah, rendah hati ketika yang lain membanggakan diri.

Hidup dalam Dunia, Tapi Tidak Diperbudak Dunia

Tasawuf tidak mengajarkan meninggalkan dunia, tetapi meletakkan dunia di tangan, bukan di hati. Seorang muslim boleh kaya, berilmu, dan berpengaruh, namun hatinya tetap tunduk dan bergantung kepada Allah.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa cinta dunia adalah pangkal kelalaian, sedangkan zuhud adalah kebebasan ruh. Zuhud bukan berarti tidak memiliki, tetapi tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.

Maka seorang muslim berjalan di pasar, di kantor, di ladang, atau di ruang digital, namun hatinya tetap berada di hadapan Allah. Inilah rahasia hidup yang penuh berkah.

Akhir Perjalanan: Ridha Allah dan Ketenangan Abadi

Tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidup seorang muslim bukanlah dunia, bukan pula sekadar surga, tetapi ridha Allah ﷻ. Ridha inilah puncak kebahagiaan ruhani. Ketika Allah ridha, maka hati akan tenang, meski dunia tidak selalu ramah.

Allah berfirman: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28)

Inilah akhir perjalanan seorang muslim: kembali kepada Allah dengan hati yang bersih, iman yang utuh, dan amal yang ikhlas.

Penutup: Menjadi Muslim yang Sadar Jalan

Hidup ini singkat. Waktu berjalan tanpa kompromi. Maka beruntunglah orang yang sadar bahwa dirinya sedang berjalan—bukan berjalan tanpa arah, tetapi berjalan di atas jalan Islam, jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, yang hidupnya bercorak Islam, yang matinya dalam husnul khatimah, dan yang perjalanannya berujung pada perjumpaan dengan-Nya dalam keadaan diridhai.

“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update