Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ekoteologi Islam Kaffah: Jalan Tauhid Menyelamatkan Bumi dari Krisis Peradaban

Rabu, 28 Januari 2026 | 09:48 WIB Last Updated 2026-01-28T02:49:02Z

Pendahuluan

TintaSiyasi.id -- Krisis lingkungan global hari ini bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan konsekuensi langsung dari krisis cara pandang manusia terhadap kehidupan. Bumi rusak bukan karena takdir, tetapi karena hilangnya tauhid dalam mengelola alam. Ketika alam diposisikan hanya sebagai objek ekonomi, maka kehancuran hanyalah soal waktu.

Islam hadir sebagai agama kaffah, yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga relasi manusia dengan alam semesta. Di sinilah ekoteologi Islam menemukan maknanya sebagai kerangka ideologis dan teologis untuk menyelamatkan bumi.

Tauhid: Fondasi Teologis Ekoteologi Islam

Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi worldview hidup. Allah menegaskan: “Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. An-Nisa’: 126)

Ayat ini menegaskan satu prinsip utama: manusia bukan pemilik bumi, melainkan hanya pemegang amanah. Maka setiap tindakan eksploitasi yang merusak keseimbangan alam sejatinya adalah bentuk pengingkaran tauhid praktis.

Ekoteologi Islam berdiri di atas kesadaran bahwa:

Alam adalah ayat-ayat Allah yang hidup

Merusak alam berarti merusak tanda kebesaran-Nya

Menjaga alam adalah manifestasi keimanan

Manusia sebagai Khalifah: Amanah, Bukan Kekuasaan

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Makna khalifah sering disalahpahami sebagai legitimasi kekuasaan absolut manusia atas bumi. Padahal dalam perspektif Islam, khalifah adalah penanggung jawab moral dan spiritual, bukan penguasa rakus.

Ketika manusia berubah dari khalifah menjadi predator, maka:

Hutan berubah menjadi ladang keserakahan

Sungai menjadi tempat limbah

Bumi menjadi korban kerakusan sistem

Inilah kegagalan peradaban modern yang melepaskan etika dari pembangunan.

Larangan Fasad: Etika Lingkungan dalam Al-Qur’an

Islam secara tegas melarang perusakan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)

Fasad dalam ayat ini bersifat menyeluruh: ekologis, sosial, dan moral. Kerusakan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari kerusakan sistem ekonomi dan politik yang melahirkannya.

Maka, krisis iklim sejatinya adalah:

Krisis moral

Krisis spiritual

Krisis ideologi pembangunan

Mizan: Keseimbangan sebagai Hukum Kosmik

Allah menciptakan alam dengan mizan (keseimbangan): “Dan Dia meletakkan keseimbangan, agar kamu tidak melampaui batas.” (QS. Ar-Rahman: 7–8)

Islam menolak:

Konsumerisme

Israf dan tabdzir

Pembangunan tanpa batas

Ekoteologi Islam kaffah menuntut keadilan ekologis, bukan sekadar efisiensi ekonomi.

Fiqh Lingkungan: Islam sebagai Solusi Praktis

Islam bukan agama wacana, tetapi agama solusi:

Larangan berlebihan menggunakan air meski dalam ibadah

Menanam pohon sebagai sedekah jariyah

Perlindungan hewan dan habitatnya

Konsep hima dan harim sebagai kawasan konservasi

Ini membuktikan bahwa Islam telah lebih dahulu meletakkan dasar-dasar etika lingkungan jauh sebelum lahirnya gerakan ekologi modern.

Kritik Islam terhadap Ekologi Kapitalistik

Sistem kapitalisme global:

Menjadikan alam sebagai komoditas

Mengukur nilai dengan profit

Mengabaikan dampak jangka panjang

Islam berdiri sebagai antitesis:

Alam sebagai amanah

Pembangunan berbasis maslahah

Keberlanjutan sebagai tanggung jawab iman

Tanpa koreksi ideologis, kebijakan hijau hanya akan menjadi kosmetik ekologis.

Ekoteologi sebagai Narasi Dakwah Peradaban

Dakwah Islam hari ini harus mampu menjawab krisis zaman. Ekoteologi Islam bukan isu pinggiran, tetapi narasi dakwah strategis di era krisis iklim.

Menjaga bumi adalah:

Ibadah sosial

Manifestasi tauhid

Jalan taubat kolektif umat manusia

Penutup

Ekoteologi Islam kaffah menegaskan bahwa menyelamatkan bumi adalah bagian dari menyelamatkan iman. Tanpa tauhid, ekologi kehilangan ruh. Tanpa ekologi, tauhid kehilangan manifestasi sosialnya.

Islam tidak hanya menuntun manusia menuju keselamatan akhirat,
tetapi juga menjaga bumi agar tetap layak dihuni sebagai amanah Ilahi.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update