TintaSiyasi.id -- Merespons kondisi perekonomian dunia yang terus bergejolak, Analis Ekonom dari Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan, stabilitas bukan dari perang dagang tetapi sistem mata uang berbasis emas perak.
"Stabilitas itu bukan dari perang tarif tetapi dari sistem mata uang berbasis emas perak yang tahan inflasi dan anti manipulasi politik global," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan, ekonomi dunia seperti toxic relationship, mengalami pertumbuh tetapi tipis, dikisaran 2,3 sampai 2,6 persen, angka ini jauh dibawah rata-rata sebelum pandemi, kita dibilang "tumbuh" tetapi realitasnya tensi dagang naik, harga kebutuhan melonjak dan proteksionis ada dimana-mana .
"Ini memang lagi masa sulit atau sebenarnya sistemnya yang emang sudah expired? Coba lihat rivalitas hari ini disatu sisi ada kapitalisme liberal barat yang makin proteksionis dikit-dikit tarif impor naik, dikit-dikit sanksi, disisi yang lain ada state kapitalisme Cina yang agresif lewat investasi infrastruktur di Asia Afrika," ungkapnya.
Sebenarnya, ia mengatakan, perang dagang dengan beda operator, Barat dengan kapitalis yang dikendalikan swasta atau korporasi. Cina itu kapitalis yang dikendalikan negara, dua-duanya tetap kapitalisme yang haus ekspansi, dampaknya isu dedolarisasi makin kencang.
"Negara-negara mulai gerah sama dominasi dolar bukan karena dolarnya ambruk tetapi karena mereka capek disetir kebijakan moneter Amerika Serikat, kita ini ada ditengah baku hantam gajah-gajah besar," jelasnya.
Ia mengutip pernyataan Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam nizamul iqtisadi fenomena ini makin kebaca polanya, beliau sudah lama mengingatkan kalau kapitalisme cacat sejak dalam pikiran karena fokusnya cuma pada produksi atau pertumbuhan bukan distribusi.
"Dalam perspektif ini krisis dan ketegangan global itu niscaya karena landasannya adalah keserakahan dan hegemoni. Islam menawarkan model yang beda total dimana ekonomi bukan soal siapa yang paling dominan tetapi soal memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhan dasarnya," paparnya.
"Tidak ada lagi monopoli sumber daya alam oleh oligarki atau negara lewat skema kapitalistik karena dalam Islam sumber daya alam adalah kepemilikan umum yang manfaatnya wajib kembali ke rakyat," lanjutnya.
Sehingga, ia bertanya, apakah kapitalisme liberal bakal ambruk atau mungkin ini saatnya sistem ekonomi Islam mulai dilirik sebagai solusi nyata vukan sekedar alternatif moral.
"Angka 2 persen pertumbuhan itu bukan sekadar statistik itu alaram buat kita untuk mulai mikir ulang model ekonomi macam apa yang lebih adil dan stabil buat masa depan," pungkasnya. [] Alfia