Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cara Cerdas Mengajak Gen Z untuk Ngaji dan Berdakwah

Senin, 12 Januari 2026 | 04:06 WIB Last Updated 2026-01-11T21:06:57Z
Merangkul Hati, Menyentuh Makna, Menyalakan Cahaya Jiwa

TintaSiyasi.id -- Generasi Z hidup di zaman yang serba cepat, visual, dan penuh distraksi. Mereka tumbuh dalam dunia digital, terbiasa dengan kebebasan berekspresi, dan sangat peka terhadap ketidaktulusan. Mengajak Gen Z untuk ngaji dan berdakwah tidak bisa dengan cara lama semata—menggurui, menghakimi, atau menakut-nakuti.

Dakwah kepada Gen Z menuntut kecerdasan hati, kedalaman makna, dan kejujuran sikap. Bukan sekadar apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cara menyampaikannya.

1. Mulai dari Makna, Bukan Sekadar Hukum

Gen Z bukan generasi yang anti agama, tetapi generasi yang haus makna. Mereka bertanya mengapa, bukan hanya apa. Jika Islam hanya disajikan dalam bentuk larangan dan ancaman, maka yang muncul adalah jarak, bukan ketertarikan.

Ajarkan ngaji sebagai:

Jalan menemukan jati diri

Sumber ketenangan batin

Kompas moral di tengah dunia yang membingungkan

Pendekatan sufistik sangat relevan di sini. Islam hadir sebagai penyembuh luka batin, bukan sebagai palu pemukul kesalahan.

“Sesungguhnya dalam mengingat Allah, hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

2. Bangun Relasi, Bukan Sekadar Otoritas

Gen Z menolak figur yang merasa paling benar. Mereka menerima figur yang otentik dan mau mendengar. Maka sebelum mengajak mereka ngaji, bangunlah hubungan emosional.

Dakwah yang efektif dimulai dari:

Mendengarkan keresahan mereka

Menghargai pendapat mereka

Menjadi teman dialog, bukan hakim moral

Rasulullah ﷺ berdakwah dengan kedekatan dan empati. Beliau memahami manusia sebelum mengubah mereka.

3. Jadikan Ngaji sebagai Ruang Aman dan Menyenangkan

Bagi sebagian Gen Z, majelis ilmu terasa kaku dan menegangkan. Padahal Islam adalah agama yang membawa kegembiraan dan harapan.

Ciptakan ruang ngaji yang:

Santai tapi bermakna

Dialogis, bukan monolog

Mengizinkan bertanya tanpa dihakimi

Ngaji bukan ruang pamer kesalehan, melainkan ruang pulang bagi jiwa-jiwa yang lelah.

4. Gunakan Bahasa Mereka, Tanpa Mengorbankan Nilai

Gen Z hidup dengan meme, storytelling, video pendek, dan visual kuat. Dakwah harus hadir di ruang itu, bukan menjauhinya.

Gunakan:

Kisah nyata dan relevan

Analogi kehidupan sehari-hari

Konten digital yang jujur dan membumi

Namun ingat, menyesuaikan gaya bukan berarti menurunkan nilai. Substansi Islam tetap harus kokoh, meski kemasannya fleksibel.

5. Jadikan Dakwah sebagai Aksi Nyata, Bukan Sekadar Ceramah

Gen Z adalah generasi aksi. Mereka ingin melihat Islam bekerja dalam kehidupan nyata.

Libatkan mereka dalam:

Kegiatan sosial dan kemanusiaan

Program lingkungan dan kepedulian

Gerakan dakwah kreatif dan kolaboratif

Ketika Islam hadir sebagai solusi, bukan sekadar wacana, maka dakwah menjadi hidup.

6. Beri Peran, Bukan Hanya Perintah

Gen Z ingin dilibatkan, bukan disuruh. Mereka ingin dipercaya, bukan diawasi berlebihan.

Berikan mereka:

Ruang berkreasi dalam dakwah

Kesempatan memimpin dan berkontribusi

Apresiasi atas usaha, bukan hanya hasil

Dakwah bukan proyek elite, tetapi gerakan kolektif umat.

7. Tampilkan Islam yang Lembut, Inklusif, dan Berakhlak

Sufisme mengajarkan bahwa dakwah sejati lahir dari hati yang bersih dan penuh cinta. Gen Z sangat peka terhadap kekerasan simbolik—baik verbal maupun emosional.

Tampilkan Islam yang:

Menghargai perbedaan

Menjaga adab dalam perbedaan pendapat

Mengedepankan kasih sayang

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, melainkan ia menghiasinya.”
(HR. Muslim)

8. Jadilah Teladan, Bukan Sekadar Penceramah

Gen Z belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar.

Maka ajakan ngaji akan kuat jika:

Kita jujur dalam pekerjaan

Konsisten antara ucapan dan perbuatan

Rendah hati meski berilmu

Dakwah paling efektif adalah akhlak yang berjalan.

Penutup: Merangkul, Bukan Menghakimi

Mengajak Gen Z ngaji dan berdakwah bukan tentang memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan hati. Bukan tentang menguasai mimbar, tetapi menghidupkan makna.

Jika Islam hadir sebagai rumah yang hangat, Gen Z akan datang. Jika Islam dipraktikkan dengan cinta, Gen Z akan tinggal. Jika dakwah dilakukan dengan hikmah, Gen Z akan melanjutkan estafetnya.

Mari kita ajak Gen Z: Ngaji untuk mengenal diri. Dakwah untuk menebar cahaya, Islam untuk memanusiakan manusia.

Semoga Allah membimbing kita menjadi jembatan hidayah, bukan penghalang cahaya.

(Dr. Nasrul Syarif, M.Si, Penulis Buku Gizi Spititual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update