Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Board of Peace, Ketua LBH: Upaya Pembenaran terhadap Kejahatan Perang Israel

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:42 WIB Last Updated 2026-01-31T08:42:31Z

TintaSiyasi.id -- Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat Chandra Purna Irawan menilai Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai upaya pembenaran terhadap kejahatan perang Israel.

 

“Board of Peace atau skema perdamaian sepihak yang dibentuk oleh Donald Trump pada hakikatnya dapat dipahami sebagai upaya pemutihan (legalises politik) sekaligus pembenaran terhadap kejahatan perang Israel," tuturnya kepada TintaSiyasi.ID pada Rabu (28/01/2026).

 

Lanjutnya, ia menjelaskan skema itu mengabaikan kejahatan yang telah terjadi dan memaksakan konsep perdamaian tanpa akuntabilitas hukum, sehingga membuka jalan bagi impunitas pelaku. “Alhasil, Board of Peace menutup mata terhadap berbagai pelanggaran serius hukum internasional,” tegas Chandra.

 

"Misalnya pembunuhan warga sipil, pendudukan wilayah secara ilegal, pembangunan permukiman ilegal, blokade berkepanjangan, penggunaan kelaparan sebagai senjata perang, serta pengusiran paksa penduduk sipil," terangnya.

 

"Dengan karakter demikian, Board of Peace bukan instrumen perdamaian, melainkan alat legitimasi politik atas kejahatan perang," tambahnya.

 

Adapun, ia menekankan secara hukum internasional, skema itu bertentangan langsung dengan Konvensi Jenewa IV, Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional (ICC), International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR), serta berbagai Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Palestina.

 

"Trump menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua dewan, dengan kekuasaan untuk mengesampingkan semua anggota, ia dapat menunjuk dewan eksekutif. Baru kali ini ada organisasi internasional yang dibentuk dan dikendalikan oleh seseorang," keluhnya.

 

Lebih lanjut, ia memaparkan salah satu program Donald Trumpt yakni Peace to Prosperity: A Vision to Improve the Lives of the Palestinian and Israeli People, di mana dalam proposal tersebut membahas terkait political framework dan economic framework.

 

"Secara singkat gambaran political framework yaitu terbentuknya dua negara yaitu Palestina dan Israel. Tetapi untuk negara Palestina akan dibuat demiliterisasi yaitu negara tanpa militer, apabila ada militer tentu akan membuat Israel menjadi merasa terancam,” ungkapnya.

 

Sedangkan Yerusalem, lanjut Chandra, akan menjadi ibu kota Israel, tetapi warga Palestina tetap diberikan hak mengunjungi.

 

Ia menambahkan, sementara untuk menghubuhkan Gaza dan Tepi Barat, akan dibuat terowongan bawah tanah tanpa harus mengganggu wilayah daratan yang diklaim Israel, mengingat Gaza dan Tepi Barat terpisah jauh.

 

"Hal ini terungkap dalam The Trump Peace Plan  yang menyatakan, ‘Transportation links would allow efficient movement between Gaza and the West Bank, as well as throughout a future Palestine. The plan does not call for uprooting any Israelis or Palestinians from their homes.’," ungkapnya.

 

Sedangkan economic framework, ia memandang rencana tersebut akan mengurangi kendala pertumbuhan ekonomi Palestina dengan membuka Tepi Barat dan Gaza ke pasar regional serta global. “Investasi besar dalam transportasi dan infrastruktur akan membantu Tepi Barat dan Gaza berintegrasi dengan ekonomi tetangga,” tambahnya.

 

"Investasi tahap awal untuk menghilangkan kendala terhadap pertumbuhan dan menargetkan proyek-proyek utama yang membangun momentum, menghasilkan pekerjaan, dan meningkatkan produk domestik bruto (PDB)," katanya.

 

"Anda jangan terpesona dengan proposal The Trump Peace Plan, apabila dibaca tampak manis, damai, menjanjikan kemakmuran, tetapi akan membuat orang lupa bahwa sesungguhnya Israel adalah perampok tanah Palestina,” ulasnya.

 

Chandra mempertanyakan, bagaimana mungkin dapat hidup berdampingan dengan perampok. “Bagaimana mungkin dapat hidup berdampingan dengan orang yang telah membunuh anggota keluarga? Apabila ada yang bersedia hidup berdampingan dengan perampok, pembunuh dan penjajah, mungkin orang tersebut gila atau putus asa," pungkasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update