Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Penuhilah Hatimu dengan Zikir dan Ingatkanlah Akan Hari Kebangkitan

Sabtu, 06 Desember 2025 | 03:49 WIB Last Updated 2025-12-05T20:49:29Z
Nasihat Al-Jailani dalam Fathur Rabbani

TintaSiyasi.id -- Dalam salah satu nasihat emas Sayyid Abdul Qadir al-Jailani dalam Fathur Rabbani, beliau berkata:

“Penuhilah hatimu dengan zikir dan ingatkanlah hatimu akan hari kebangkitan. Renungkanlah alam kubur yang pasti setiap orang akan lalui.”

Kalimat ini bukan sekadar susunan kata, tetapi pintu penyadaran—sebuah ketukan halus kepada hati yang lalai, yang sering terbuai dunia hingga lupa perjalanan panjang setelah kematian.

1. Zikir: Cahaya yang Menjaga Hati dari Kekosongan

Hati manusia ibarat rumah. Bila tidak diisi dengan cahaya zikir, maka akan dipenuhi oleh gelapnya kelalaian, gelombang hawa nafsu, dan suara dunia yang tak pernah redup.

Allah berfirman:

> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Zikir bukan sekadar lafaz di lisan—subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah—tetapi hadirnya kesadaran bahwa Allah melihat, mendengar, dan menyertai hamba-Nya.

Jika hati penuh dengan nama Allah, maka hati akan hidup. Sebaliknya, jika hati kosong dari zikir, maka ia akan mati meski pemiliknya berdiri, berjalan, dan bernapas.

Wali-wali Allah menjadi mulia bukan karena pakaian zahid, bukan karena suara lantang, bukan karena popularitas; tetapi karena hatinya selalu terhubung dengan Allah.

2. Ingatlah Hari Kebangkitan: Hari Saat Semua Tabir Terbuka

Al-Jailani mengingatkan: hari kebangkitan bukan sekadar konsep, tetapi kepastian yang akan datang.

Hari itu bukan hari biasa, melainkan:

Hari ketika mata tidak lagi dapat berbohong.

Hari ketika lidah tidak bisa lagi berdusta.

Hari ketika amalan menjadi saksi, bukan angan-angan.

Allah menggambarkan:

 يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari ketika segala rahasia akan dibongkar.” (QS. Ath-Thariq: 9)

Berapa banyak amal yang tampak kecil tetapi ditulis besar, karena ikhlas?

Berapa banyak amal tampak besar tetapi menjadi debu karena riya?

Mengingat hari kebangkitan menjadikan langkah hati lurus, pandangan hidup jernih, dan tujuan kehidupan terarah.

3. Merenungkan Alam Kubur: Gerbang Menuju Akhirat

Al-Jailani menuntun kita untuk merenungi bukan hanya kematian, tetapi alam kubur—tempat sunyi yang menjadi awal perjalanan baru.

Setiap manusia akan melewati tempat ini:

Entah dalam kelapangan sebesar matahari,

atau dalam sempit yang menghimpit tulang belulang.

Di sana:

Tidak ada gelar.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada pengikut.

Tidak ada pujian atau sanjungan.

Yang menemani hanyalah amal, keimanan, dan zikir yang selama ini disimpan di hati.

Imam Ali berkata:

 “Manusia tidur, dan ketika mati barulah mereka terbangun.”

Maka siapa yang hidup tanpa tujuan, akan terkejut di hari ketika seluruh pintu taubat tertutup.

4. Menghidupkan Hati dengan Muhasabah

Nasehat ini mengajak kita memperlambat langkah dunia, untuk menundukkan hati dan bertanya:

Apa yang telah kupersiapkan untuk malam pertama di kubur?

Apa yang telah kubawa untuk berjumpa dengan Allah?

Apakah zikirku hanya bunyi atau sudah menjadi cahaya?

Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menghidupkan kesadaran.

Karena hati yang sadar akan mati, akan hidup dengan cara terbaik.

Penutup

Semoga kita menjadi hamba yang:

Hidup dengan zikir,

Berjalan dengan kesadaran akhirat,

Dan kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.

Doa

اللهم اجعل قلوبنا عامرة بذكرك،
واجعلنا من الذين يستعدون ليوم لقائك،
ولا تجعلنا من الغافلين،
وارزقنا حسن الخاتمة،
وارحمنا إذا صرنا إلى التراب وحدنا،
يا أرحم الراحمين.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update