Hikmah Ibnu Athaillah As-Sakandari
TintaSiyasi.id -- Dalam salah satu inti ajaran tasawufnya, Ibnu Athaillah memberikan panduan agung:
“Jadilah orang yang bergantung kepada sifat-sifat Allah, dan nyatakanlah sifat-sifat kehambaan dalam dirimu.”
Ini bukan sekadar kalimat — tetapi peta jalan ruhani bagi siapa pun yang ingin dekat dengan Allah, ingin hidup dengan ketenangan, dan ingin merasakan pertolongan Ilahi di setiap keadaan.
Karena banyak manusia hidup seolah-olah ia Tuhan bagi dirinya sendiri: merasa mampu, merasa cukup, merasa kuasa, merasa memiliki kendali atas takdir.
Padahal manusia itu lemah, terbatas, serba bergantung.
Maka hikmah ini mengajak kita kembali ke posisi yang benar:
Allah dengan sifat keagungan-Nya, dan kita dengan sifat kehambaan kita.
1. Bergantunglah Pada Sifat-Sifat Ilahi
Apa maksudnya bergantung kepada sifat-sifat Allah?
Artinya: jadikan sifat-sifat Allah sebagai sandaran hati, sumber keyakinan, dan tumpuan harapan.
Karena:
• Rezeki tidak datang dari pekerjaan → tetapi dari Allah Al-Razzāq.
• Kesembuhan bukan dari obat → tetapi dari Allah Al-Syāfī.
• Perlindungan bukan dari kekuatan → tetapi dari Allah Al-Hafīẓ.
• Keberhasilan bukan dari kecerdasan → tetapi dari Allah Al-Fatḥ.
Jika engkau memahami sifat Allah, engkau akan mencintai-Nya.
Jika engkau yakin pada sifat Allah, engkau akan tenang dalam hidup.
Ketika engkau dilanda masalah dan berkata:
“Cukup Allah bagiku, Dia Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Mengatur.”
Maka saat itu engkau benar-benar bersandar — bukan pada makhluk, bukan pada dirimu, tetapi pada Sumber Segala Kekuatan.
2. Realisasikan Sifat Kehambaan Dalam Dirimu
Setelah hati bergantung pada sifat Allah, tugas selanjutnya adalah merealisasikan sifat hamba:
Rendah hati (tawadhu’)
Tidak sombong atas usaha dan ilmu
Tidak merasa paling benar atau paling suci
Mengakui kelemahan, bukan menampik takdir
Bersabar dengan ujian dan bersyukur dengan nikmat
Ibnu Athaillah mengingatkan:
“Sifat hamba adalah butuh, lemah, dan bergantung. Jika engkau merasa kuat dan mampu tanpa Allah, engkau sudah keluar dari batas kehambaan.”
Banyak orang jatuh bukan karena musibah, tetapi karena merasa mampu tanpa Allah.
3. Ketika Dua Prinsip Ini Bersatu — Datanglah Ketenangan dan Pertolongan Allah
Jika seseorang benar-benar bersandar pada sifat Allah dan menampilkan sifat kehambaannya, maka ia akan hidup dalam kondisi yang disebut para sufi sebagai:
الطمأنينة بالله — ketenangan bersama Allah.
Tidak gelisah dengan sebab.
Tidak panik dengan perubahan keadaan.
Tidak runtuh karena kegagalan sementara.
Karena ia tahu:
Yang mengatur hidupnya bukan makhluk, tetapi Allah Yang Maha Bijaksana.
4. Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Jika engkau miskin atau sedang kesulitan rezeki
→ Realisasikan sifat hamba: sabar, syukur, doa
→ Bergantung pada sifat Allah: Ar-Razzāq dan Al-Mughni
Jika engkau sakit
→ Realisasikan sifat hamba: tawakal, pasrah, ridha
→ Bergantung pada sifat Allah: As-Syāfī
Jika engkau bingung dalam pilihan hidup
→ Realisasikan sifat hamba: istikharah, tenang, tidak tergesa-gesa
→ Bergantung pada sifat Allah: Al-Hādī (Yang Memberi Petunjuk)
Jika engkau dizalimi atau diperlakukan tidak adil
→ Realisasikan sifat hamba: sabar, menjaga lisan, tidak emosional
→ Bergantung pada sifat Allah: Al-Adl dan An-Nasīr (Yang Maha Penolong)
5. Hakikatnya: Allah Maha Sempurna — Kita Hamba yang Nada
Tugas kita bukan menjadi kuat, tetapi merealisasikan ketergantungan kepada Yang Maha Kuat.
Tugas kita bukan menguasai hidup, tetapi mengikuti aturan dan takdir Yang Maha Mengatur.
Jika Allah dekat di hati — maka dunia terasa ringan.
Jika Allah menjadi tempat kembali — maka tidak ada kehilangan yang menyakitkan.
Jika Allah menjadi tujuan — maka hidup menemukan makna terdalamnya.
Penutup Hikmah
Ibnu Athaillah seolah berbisik dalam hati:
“Jika engkau menjadi hamba yang benar, maka Tuhanmu akan menjadi Penolong yang nyata.”
Dan ketika seorang hamba sadar bahwa ia hanyalah hamba —
di situlah ia menjadi lebih mulia dari raja, lebih kuat dari penguasa, dan lebih tenang daripada seluruh manusia.
Karena sandarannya bukan dunia — tetapi Allah Rabbul ‘Alamin.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)