Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aktivis: Menyelesaikan Stunting Harus Fundamental dan Menyeluruh

Kamis, 27 November 2025 | 13:04 WIB Last Updated 2025-11-27T06:04:31Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi persoalan stunting, Aktivis Muslimah Gresik, Nurul Syahida, S.H.I mengatakan menyelesaikan stunting harus fundamental dan menyeluruh.

"Menyelesaikan stunting haruslah dilakukan secara fundamental dan menyeluruh," tuturnya kepada Tintasiyasi.id (17/11/2025).

Tanggapan tersebut terkait Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Gresik yang berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik melakukan kegiatan sosial GUS (Gresik Urus Stunting) bertajuk “Cegah Stunting untuk Generasi Sehat, Cerdas, dan Produktif” di Gressmall, Rabu (22/10/2025). Program ini menjadi bentuk dukungan terhadap balita di Gresik yang memiliki berat badan belum ideal atau masuk kategori stunting.

Menurutnya, program GUS tidak cukup efektif untuk mencegah stunting. Ini karena ia menilai, stunting disebabkan oleh faktor multidimensi yang terutama terjadi akibat gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun oleh balita.

"Selain gizi buruk, lingkungan balita dibesarkan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi faktor penentu seorang balita berpotensi terkena stunting," jelasnya.

Terlebih menurutnya, stunting tidak akan selesai tuntas dengan menyolusi masalah-masalah cabangnya saja, semisal pemberian tambahan makanan, susu gratis, atau makan siang gratis.

"Stunting ada karena ada masalah utama yang mendasarinya sehingga harus ditangani dengan tepat dan benar," yakinnya.


Faktor Penyebab Stunting

Ia menyebut ada empat faktor penyebab stunting selain gizi buruk. "Pertama, praktik pengasuhan kurang baik. Kedua, terbatasnya layanan kesehatan selama masa kehamilan ibu. Ketiga, kurangnya akses keluarga ke makanan bergizi. Keempat, terbatasnya akses ke air bersih dan sanitasi," sebutnya.

Oleh karena itu, ia menjelaskan sebelum bicara penurunan stunting harus mencermati akar munculnya gizi buruk, sanitasi buruk, infrastruktur kesehatan yang kurang memadai, pendidikan atau literasi rendah, dan sebagainya.

"Selama beberapa hal di atas tidak jadi pembahasan maka sangat susah penanganan stunting akan bisa efektif," jelasnya.

Cara Mencegah Stunting

Ia menekankan cara mencegah stunting harus diliat dari akar masalah, tidak hanya dari cabangnya saja. "Dan akar persoalannya terletak pada sistem yang mengatur negara," tekannya.

Penyelesaian persoalan stunting yang terkesan lambat membuatnya yakin karena negara belum punya paradigma berpikir bahwa negara adalah pengatur rakyat, pengayom rakyat bertanggung jawab pada rakyat yang kelak akan dihisab Allah SWT.

"Coba kita perhatikan saat ini. Rakyat masih kesulitan mengakses makanan bergizi yang harganya murah, seperti sayuran dan buah-buahan. Kebijakan pangan, harga pangan yang murah masih jauh dari harapan, edukasi terkait gizi pada masyarakat juga rendah, negara juga kurang melakukan pengawasan dan pengontrolan berkala agar kebijakan negara seperti layanan kesehatan, akses pekerjaan, hingga sistem pendidikan, serta penggunaan anggaran dapat berjalan secara amanah," bebernya.

"Termasuk harusnya sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikelola oleh negara dan tidak boleh diserahkan kepada swasta. Sehingga hasilnya bisa digunakan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berupa sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan," lanjutnya.

Solusi Stunting

Ia menerangkan pencegahan stunting dapat dilakukan melalui penyelesaian multidimensi, di antaranya:

Pertama, negara menyediakan infrastruktur kesehatan yang memadai bagi seluruh warga. "Tidak boleh ada pembatasan akses layanan kesehatan bagi siapa pun. Orang kaya maupun miskin berhak terjamin akan kesehatannya, terutama ibu hamil dan balita. Dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), akses dan layanan kesehatan diberikan secara gratis, baik dalam rangka pemeriksaan, rawat jalan, perawatan intensif, pemberian nutrisi tambahan, ataupun vaksinasi," terangnya.

Kedua, negara menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. "Jika setiap kepala keluarga mudah mencari nafkah dengan kebijakan negara yang memberi kemudahan mendapat pekerjaan, para ayah tidak akan merasa waswas mencukupi kebutuhan pokok keluarganya," paparnya.

"Tercukupinya nafkah memungkinkan bagi keluarga mendapat asupan gizi dan nutrisi yang cukup, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Mereka juga tidak akan kesulitan mengakses makanan bergizi yang harganya mahal, seperti sayuran dan buah-buahan. Bahkan, negara bisa menetapkan kebijakan harga pangan yang murah," lanjutnya.

Ketiga, negara memberikan edukasi terkait gizi pada masyarakat. "Edukasi ini dapat berjalan efektif manakala faktor yang menjadi sebab terbatasnya akses makanan bergizi, seperti kemiskinan dapat terselesaikan dengan dua peran negara yang telah disebutkan sebelumnya," jelasnya.

"Jika negara menjamin pemenuhan pendidikan untuk seluruh warga, masyarakat akan memiliki kepekaan literasi dan mampu mencerap edukasi yang diberikan. Peningkatan SDM melalui layanan pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat sangat penting bagi keberlangsungan dan masa depan sebuah bangsa," bebernya.

Keempat, negara melakukan pengawasan dan pengontrolan berkala agar kebijakan negara seperti layanan kesehatan, akses pekerjaan, stabilitas harga pangan, hingga sistem pendidikan, serta penggunaan anggaran dapat berjalan secara amanah.

"Masalah stunting bukan hanya menjadi beban keluarga, melainkan merupakan tanggung jawab negara sebagai pelayan rakyat yang bertugas menjamin dan memenuhi kebutuhan mereka secara optimal. Stunting merupakan masalah sistemis yang multidimensi sehingga dibutuhkan solusi sistemis dan holistis," katanya.

"Semua itu bisa terwujud dengan paradigma kepemimpinan dan sistem yang mengikuti aturan Maha Pencipta, yaitu Islam kafah. Jika masih menggunakan paradigma kapitalisme, pencegahan stunting tidak akan berjalan efektif sebab fungsi negara dalam kacamata kapitalisme hanya sebagai regulator kebijakan, bukan pelayanan," tandasnya.[] Dewi Srimurtiningsih

Opini

×
Berita Terbaru Update