Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kemerdekaan Hakiki untuk Palestina Bukan Sebuah Kemustahilan

Kamis, 27 November 2025 | 14:02 WIB Last Updated 2025-11-27T07:03:03Z

TintaSiyasi.id -- Pemberitaan dan semangat umat terkait Palestina mulai redup tak seperti pada saat awal 7 Oktober 2023 lalu, ke manakah perginya semangat umat yang dahulu mewarnai sosial media, dan seruan boikot serta aksi-aksi yang sering dilakukan? Seakan segala upaya telah dilakukan, namun tetap tak mampu membebaskan mereka dari jerat para penjajah yang berkuasa atas mereka. Redupnya pemberitaan tentang Gaza dan Palestina seakan karena penderitaan mereka telah surut, tidak lagi ada pembantaian, tidak ada lagi genosida. Nyatanya derita itu tidak henti-hentinya menimpa mereka sampai saat ini bahkan sampai detik ini. Dilansir dari detiknews.com (16/11/2025), hujan deras telah mengguyur Gaza sejak jumat 14/11/2025 lalu, kini tempat pengungsian warga Gaza Palestina terendam banjir dan barang-barang warga Gaza menjadi basah, tenda pengungsian roboh, bahkan ada dari mereka yang berlindung di bawah bangunan-bangunan yang hancur, padahal bangunan tersebut rentan untuk runtuh menimpa mereka, di sisi lain bantuan dari luar sulit untuk masuk karena pemerintah Israel tetap memperketat perbatasan jalur bantuan kemanusiaan, meski sedang dalam kesepakatan gencatan senjata. 

Terjebak Solusi Parsial

Kedinginan, kelaparan, dan tempat pengungsian yang jauh dari kata layak saat ini tengah mereka rasakan. Nyatanya kesepakatan gencatan senjata bukanlah sebuah angin segar, namun hanya janji manis palsu yang tidak dapat dipercaya. Bantuan dari luar tetap dihalangi untuk bisa masuk dan berulangkali bahkan baru-baru ini Israel laknatullah melangggar gencatan sejata dengan membombardir jalur Gaza yang telah menewaskan 28 orang pada hari Rabu 19/11/2025 (Sindonews.com, 20/11/2025). Jika upaya berupa bantuan kemanusiaan sulit untuk ditembus, gencatan senjata mudah dilanggar oleh Zionis dan solusi dua negara tidak akan pernah terjadi, karena sesungguhnya solusi dua negara ini adalah legalisasi penjajahan oleh Israel, karena seluruh wilayah Palestina—termasuk yang diduduki oleh Zionis Yahudi adalah milik kaum Muslim. Seluruh wilayah Palestina adalah tanah kharaj karena masuk ke dalam kekuasaan Islam lewat penaklukan di era Umar bin al-Khaththab ra. 

Kini, setelah Zionis Yahudi menduduki secara paksa wilayah Palestina, sekaligus mengusir dengan membunuhi penduduknya, mereka menginginkan eksistensinya diakui. Bahkan mereka ingin agar semua wilayah Palestina juga diakui secara sah sebagai milik mereka. Maka dari itu, pengakuan atas solusi dua negara sama hakikatnya dengan mengakui semua perampasan dan kekejaman Israel terhadap Palestina. Dukungan para pemimpin Arab dan Negara Muslim atas solusi dua negara menunjukkan sikap tunduk dan kehinaan mereka di hadapan penjajah. Sikap ini juga menunjukkan kerelaan mereka atas keberlangsungan penjajahan atas Palestina. Mereka seperti buta dan tuli terhadap kewajiban menolong sesama Muslim. Nabi Saw. bersabda: “Tidaklah seseorang (Muslim) menelantarkan seorang Muslim lainnya di tempat di mana kehormatannya dilanggar dan direndahkan, melainkan Allah akan menelantarkan dia di tempat di mana dia sangat ingin mendapatkan pertolongan”. (HR Abu Dawud, Ahmad, dan yang lainnya).

Maka satu-satunya cara untuk merebut kembali tanah Palestina yang telah menjadi milik warga Palestina itu sendiri hanyalah dengan memerangi Zionis Israel hingga mereka mundur dan tidak berani lagi melakukan perlawanan terhadap warga Palestina. Lantas bagaimana cara melawan Zionis, sedangkan dibaliknya terdapat dukungan besar dari Amerika? Kepala Negara-negara lainnyapun mulai pro dengan Zionis dan meski kontrapun mereka benar-benar merasa lemah dan berputus asa untuk dapat melawan. 

Islam Menjamin Solusi Hakiki

Umat masih belum melirik bagaimana cara Islam menyudahi penderitaan yang terjadi di Palestina khususnya di Jalur Gaza. Sehingga wajar jika kemerdekaan Palestina sulit untuk digapai. Solusi hakiki hanyalah jihad dan Khilafah, dua solusi ini, tidak mustahil utuk diwujudkan, karena khilafah adalah janji Allah dan bisyarah Rasulullah. Tegaknya khilafah akan dapat merealisasikan jihad dan komando langsung oleh seorang khalifah, sebagaimana sabda Nabi Saw.:

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

"Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya." (HR Muslim).

Makna ”Al-Imâm Junnat[un]” dijelaskan oleh Imam an-Nawawi:“Maksudnya, Imam (Khalifah) itu ibarat tameng. Dia mencegah musuh untuk menyerang (menyakiti) kaum Muslim, juga mencegah masyarakat untuk saling menyerang satu sama lain. Dia pun melindungi keutuhan Islam. Dia disegani oleh masyarakat dan mereka pun takut terhadap kekuatannya.” (Syarh an-Nawawi ’alaa Muslim, 12/541). 

Khilafah adalah negara yang terbebas dari ketundukan terhadap negara kafir penjajah, dia memiliki kekuatan besar, karena ideologi Islam yang mereka terapkan aturannya berasal dari Allah SWT. Maka hanya dengan khilafahlah yang akan melindungi kehormatan seluruh kaum Muslimin bukan hanya di Palestina, namun di seluruh dunia, karena sejatinya Islam memandang bahwa kaum Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan satu tubuh. Jika ideologi kapitalisme yang diterapkan saat ini yang menjadi penyebabkan terpecah-pecahnya kaum Muslim dengan nation state, maka khilafahlah yang akan menyatukan mereka dalam satu kepemimpinan dan satu komando jihad dengan mengerahkan segala potensi kaum Muslim dari aspek sumber daya alam yang melimpah ruah, kekuatan persenjataan yang besar dan jumlah mereka yang sangat banyak. Itulah kekuatan yang akan mengalahkan Zionis laknatullah dan musuh-musuh Islam hingga ke akarnya. 

Tegaknya khilafah dapat diwujudkan dengan cara diperjuangkan sesuai metode dakwah Rasulullah dengan konsisten dan selalu menghadirkan penuh keyakinan terhadap janji Allah dan Bisyarah Rasulullah. Hadis dari Hudzaifah ra. yang berkata bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

 تَكُوْنُ النُّبُوَّة فِيْكُمْ مَا شَاء اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُم يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاء أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُم تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ 

Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar).[]


Lailatul Hidayah
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update