TintaSiyasi.id -- Krisis Eksistensial Palestina: Ketika Nasionalisme Tak Lagi Mampu Melawan IsraelKlaim provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, atas seluruh Tepi Barat secara terang-terangan melanggar Kesepakatan Oslo II 1995 dan membuktikan bahwa Solusi Dua Negara (Two-State Solution) bentukan Barat hanyalah ilusi semu.
Krisis Palestina bukanlah sekadar sengketa lahan biasa, melainkan ancaman eksistensial terhadap kesucian Islam akibat ambisi ekspansif Israel Raya melalui genosida dan penodaan Masjidil Aqsha.
Tragisnya, di tengah kejahatan yang tidak bisa ditoleransi ini, para penguasa Arab justru berkhianat dengan tunduk menemui Benjamin Netanyahu demi mematuhi agenda Barat.
Syariat Islam secara tegas menetapkan bahwa tanah kharajiyah yang dijajah wajib dibebaskan melalui mobilisasi jihad fii sabilillah. Namun, perjuangan tersebut tidak akan pernah sempurna di bawah sekat nasionalisme, sehingga penegakan kepemimpinan global dalam institusi Khilafah Islamiyah menjadi urgensi paling krusial sebagai satu-satunya komando sah untuk membebaskan bumi Palestina secara mutlak.
Saat ini, perlawanan rakyat di Gaza dan Tepi Barat berada pada fase Jihad Defensif (Jihad Difa'), di mana setiap individu wajib berjuang mempertahankan tanah air, harta, dan nyawa dari genosida serta penodaan Masjidil Aqsha. Namun, karena keterbatasan militer akibat blokade, kewajiban defensif ini secara syariat telah meluas menjadi Fardhu 'Ain bagi seluruh umat Islam dan tentara di negeri-negeri Muslim sekitarnya untuk memberikan bantuan militer penuh. Pada akhirnya, akar penjajahan Zionis hanya bisa dicabut secara permanen melalui transisi menuju mobilisasi militer skala besar yang terorganisasi di bawah komando resmi seorang Khalifah.
Umar bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayyubi, Dua Mahkota Sejarah Pembebasan Palestina
Pembebasan Palestina (khususnya Yerusalem/Al-Quds) dalam sejarah Islam mencatat dua nama besar yang memiliki karakter perjuangan yang berbeda, namun saling melengkapi secara historis, yaitu Khalifah Umar bin Khattab dan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.
Pertama, Perjuangan Khalifah Umar bin Khattab (Tahun 637 M)
Perjuangan Khalifah Umar bin Khattab ditandai dengan strategi militer yang matang, dipadukan dengan diplomasi damai dan keadilan Islam yang luar biasa. Palestina saat itu dikuasai oleh Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).
Umar bin Khattab mengirim pasukan Muslim di bawah komando panglima-panglima hebat seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Amr bin Ash, dan Syurahbil bin Hasanah. Pasukan Islam mengepung Yerusalem (saat itu bernama Aelia) selama berbulan-bulan hingga melemahkan pertahanan Romawi.
Sadar tidak bisa menang, pemimpin agama Yerusalem, Patriark Sophronius, menyatakan bersedia menyerahkan kota tersebut dengan syarat Khalifah Umar sendiri yang harus datang langsung untuk menerima kunci kota. Umar menyetujuinya dan melakukan perjalanan dari Madinah dengan sangat sederhana.
Ketika tiba, Umar menandatangani perjanjian yang menjamin keamanan bagi penduduk Kristen Yerusalem, perlindungan atas gereja-gereja mereka, dan kebebasan beragama. Umar bahkan menolak salat di dalam Gereja Makam Kudus agar umat Muslim di kemudian hari tidak merebut gereja tersebut untuk dijadikan masjid.
Kedua, Perjuangan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (Tahun 1187 M)
Berbeda dengan zaman Umar, Sultan Salahuddin Al-Ayyubi harus merebut kembali Palestina setelah dikuasai oleh Pasukan Salib (Crusaders) selama 88 tahun. Perjuangannya dipenuhi dengan jihad fisik, penyatuan umat, dan perang taktis.
Sebelum menyerang musuh, Salahuddin menyadari bahwa umat Islam saat itu terpecah-belah. Ia menghabiskan bertahun-tahun untuk menyatukan wilayah Mesir, Suriah, Yaman, dan Hijaz di bawah satu komando dan satu visi akidah yang kuat.
Pada Juli 1187 M, Salahuddin memimpin pasukan Muslim memenangkan Pertempuran Hattin yang sangat menentukan. Dengan taktik memotong jalur air pasukan Salib di tengah cuaca panas, Salahuddin berhasil menghancurkan kekuatan utama militer Kerajaan Salib Yerusalem.
Jalan menuju Yerusalem terbuka. Salahuddin mengepung kota tersebut. Pada 2 Oktober 1187 M (bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, malam Isra Mikraj), Yerusalem resmi menyerah.
Maka, menatap bumi Palestina hari ini bukanlah tentang meratapi kehancuran, melainkan tentang menjemput kembali janji kemenangan Allah. Penderitaan di Tepi Barat dan Gaza adalah panggilan sejarah bagi umat ini untuk segera mencopot sekat-sekat nasionalisme sekuler dan menyatukan saf.
Jalur diplomasi Barat terbukti gagal total, dan kini saatnya dunia Islam melahirkan kembali sosok-sosok pembebas selevel Umar bin Khattab dan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, yang bergerak di bawah satu komando institusi Khilafah Islamiyah demi menyapu bersih kezaliman Zionis dan mengembalikan kemuliaan Al-Quds untuk selamanya.
Oleh: Putri Rahmi DE, SST
Aktivis Muslimah