TintaSiyasi.id -- Musim Panen Berdarah
Bagi petani Palestina, musim panen zaitun yang seharusnya menjadi momen keberkahan namun kali ini panen berubah menjadi ajang pertaruhan nyawa. Sedikitnya 200 serangan dilancarkan oleh pemukim ilegal Israel dengan dukungan pasukan IDF, mengakibatkan satu warga Palestina tewas, 120 orang terluka, dan lebih dari 2.500 pohon zaitun rusak parah.
Kekerasan brutal ini meluas hingga menyasar elemen internasional, termasuk jurnalis foto asal Amerika Serikat, Heidi Levine, yang mengalami patah tulang rusuk dan tulang belakang akibat dipukuli secara brutal. Menanggapi eskalasi tersebut, Sekretaris Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak penyelidikan resmi, sementara Uni Eropa melayangkan kecaman keras yang dikritik publik masih sebatas retorika tanpa tindakan nyata di lapangan.
Sistemik dan brutalnya agresi Israel di Palestina mulai dari penghancuran ekonomi dan akar budaya lewat perusakan kebun zaitun guna mengusir penduduk asli, hingga pembungkaman jurnalis agar kekejaman mereka tidak terekspos dunia menunjukkan kegagalan total sistem politik internasional saat ini.
Kepedulian semu Amerika Serikat yang hanya muncul saat warga negaranya atau diplomat Uni Eropa terserang, serta kecaman mandul Uni Eropa tanpa tindakan nyata, membuktikan bahwa hukum internasional dan diplomasi Barat adalah ilusi yang tidak akan pernah menyelamatkan Palestina.
Pangkal utama dari langgengnya penderitaan ini bukanlah karena kurangnya simpati warga dunia, melainkan akibat pengkhianatan para penguasa Muslim, khususnya di negara-negara Arab.
Para penguasa tersebut telah memutus ikatan akidah umat dengan memilih berdiam diri, membatasi tentara mereka di barak, bahkan bertindak sebagai kaki tangan kepentingan imperialisme AS dan entitas Israel.
Thariqah Pembebasan Palestina
Solusi tunggal untuk mencabut penjajahan ini tidak akan lahir dari meja perundingan PBB, melainkan melalui urgensi tegaknya kepemimpinan politik tunggal umat Islam, yang akan memobilisasi kekuatan militer secara nyata demi membebaskan Palestina.
Pembebasan Palestina melalui pengiriman tentara Proses ini dimulai dari tahap tatsqif (pembinaan), yaitu menanamkan kesadaran ideologis bahwa persoalan Palestina adalah urusan akidah seluruh umat Islam, sekaligus membongkar pengkhianatan para penguasa Muslim yang menahan tentara mereka di barak.
Langkah ini dilanjutkan dengan tahap tafa'ul (berinteraksi dengan umat) guna membentuk opini umum dan menjalankan aktivitas thalabun nusrah, yaitu menggalang dukungan dari para pemegang kekuatan riil di negeri-negeri Muslim.
Ketika para pemilik kekuatan ini sadar dan menyerahkan kekuasaannya demi tegaknya institusi Khilafah (istilamul hukmi), barulah komando jihad dapat dijalankan secara legal. Khalifah yang telah dibaiat akan melakukan mobilisasi umum (al-isti'far al-'am), menyatukan seluruh kekuatan militer kaum Muslimin yang selama ini terfragmentasi oleh sekat negara bangsa (nation-state), dan mengirimkan pasukan reguler yang terorganisir untuk membebaskan tanah Palestina secara fisik, sekaligus menghentikan dominasi imperialisme Barat di dunia Islam.
Jejak Sejarah Pembebasan Palestina: Keteladanan Umar dan Jaminan Keamanan Baitul Maqdis
Pembebasan pertama Palestina dalam sejarah Islam terjadi secara damai pada tahun 637 M (16 H) di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Setelah pasukan Muslim memenangkan Pertempuran Yarmuk melawan Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), wilayah Yerusalem berhasil dikepung. Pemimpin spiritual kota tersebut, Patriark Sophronius, sepakat untuk menyerahkan kekuasaan dengan syarat bahwa kunci kota harus diterima langsung oleh Khalifah Umar sendiri.
Menanggapi permintaan itu, Khalifah Umar melakukan perjalanan dari Madinah dengan penuh kesederhanaan dan setibanya di sana, beliau mengeluarkan Ketetapan Umar (Al-Uhdah Al-Umariyyah). Dokumen bersejarah ini menjamin penuh keamanan jiwa, harta, kebebasan beragama, serta perlindungan tempat ibadah bagi seluruh penduduk non-Muslim. Di bawah keadilan pemerintahan Islam, Khalifah Umar kemudian membersihkan kompleks Masjidil Aqsa yang sempat telantar, memulihkan fungsi Baitul Maqdis sebagai pusat peradaban yang suci, dan mengakhiri era diskriminasi agama di tanah tersebut.
Kekejaman sistematis pemukim ilegal di kebun-kebun zaitun tepi Barat hari ini adalah bukti nyata bahwa penderitaan Palestina tidak akan pernah berakhir selama umat Islam terus berharap pada ilusi diplomasi Barat dan PBB. Sejarah telah menorehkan tinta emas bahwa Baitul Maqdis hanya dapat dibebaskan dan dilindungi dengan kemuliaan Islam, sebagaimana dicontohkan secara damai oleh Khalifah Umar bin Khattab melalui kepemimpinan politik yang berdaulat.
Oleh karena itu, mengakhiri penjajahan zionis bukan lagi sekadar retorika kecaman, melainkan sebuah kewajiban mendesak bagi umat untuk menyatukan barisan, mencopot sekat negara-bangsa, dan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang akan mengomandoi militer kaum Muslim demi mengembalikan kedamaian hakiki di tanah para nabi.[]
Putri Rahmi DE
Aktivis Muslimah