Ada satu pelajaran penting dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah: jangan pernah merasa bahwa amal saleh kita sudah cukup untuk menjamin surga, tetapi jangan pula berhenti beramal saleh karena mengharap rahmat-Nya.
Seorang mukmin sejati beribadah dengan sungguh-sungguh, memperbaiki amalnya, menjauhi maksiat, dan berusaha menyucikan hatinya. Namun, setelah semua itu dilakukan, ia tetap menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah, penuh kekurangan, dan senantiasa membutuhkan rahmat Allah.
Ia tidak menyombongkan salatnya, tidak membanggakan sedekahnya, tidak merasa lebih mulia karena ibadahnya, dan tidak memandang rendah orang lain yang masih bergelimang dosa.
Mengapa demikian?
Karena ia memahami bahwa kemampuan untuk beriman, kesempatan untuk beribadah, kekuatan untuk bertaubat, dan keinginan untuk melakukan kebaikan pun merupakan karunia Allah.
Amal saleh adalah jalan pengabdian kepada Allah, sedangkan rahmat-Nya merupakan karunia yang sangat kita harapkan untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Inilah keseimbangan spiritual yang harus dijaga oleh setiap muslim: beramal dengan sungguh-sungguh, berharap dengan penuh keyakinan, takut terhadap dosa, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.
1. Amal Saleh Tidak Membuat Kita Berhak Menuntut Surga dari Allah
Rasulullah SAW mengajarkan sebuah prinsip penting tentang hubungan antara amal manusia dan rahmat Allah.
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, termasuk beliau sendiri, kecuali apabila Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadanya.
Hadis ini bukan berarti amal saleh tidak penting. Sebaliknya, hadis ini mengajarkan agar kita tidak menjadikan amal sebagai alasan untuk menyombongkan diri di hadapan Allah.
Bayangkan seseorang yang rajin salat, tekun berpuasa, gemar bersedekah, dan senantiasa berzikir. Semua itu merupakan amal yang mulia. Namun, apakah ia dapat menjamin bahwa seluruh ibadahnya telah sempurna?
Apakah salatnya selalu khusyuk? Apakah sedekahnya benar-benar terbebas dari riya? Apakah puasanya terjaga dari perkataan dusta dan perbuatan tercela? Apakah seluruh hak sesama manusia telah ditunaikannya?
Belum tentu.
Manusia bisa melakukan amal yang tampak baik, tetapi masih menyimpan penyakit hati. Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih suci daripada orang lain.
Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya memperbanyak amal. Ia juga harus memperbaiki niat, menjaga keikhlasan, memperhatikan kesesuaian amal dengan syariat, dan memohon agar Allah menerima ibadahnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 286, bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat ini mengingatkan kita akan keluasan rahmat Allah dalam membimbing hamba-hamba-Nya.
Jangan pernah merasa besar karena amal yang kita kerjakan. Merasa besarlah terhadap rahmat Allah yang senantiasa kita butuhkan.
2. Amal Saleh Adalah Jalan, Rahmat Allah Adalah Karunia
Dalam memahami hubungan antara amal saleh dan rahmat Allah, kita perlu menghindari dua kesalahan.
Kesalahan pertama: merasa bahwa amal saleh sudah cukup untuk memastikan keselamatan akhirat.
Orang yang berpikir demikian berpotensi terperangkap dalam ujub, yaitu mengagumi diri sendiri karena ibadah dan kebaikan yang dilakukannya.
Ia merasa telah berbuat banyak untuk agama. Ia merasa lebih pantas masuk surga daripada orang lain. Bahkan, tanpa disadari, ia mulai menganggap ibadah sebagai sesuatu yang membuatnya lebih tinggi daripada sesama manusia.
Padahal, sebanyak apa pun amalnya, ia tetap membutuhkan ampunan dan rahmat Allah.
Kesalahan kedua: menganggap bahwa karena surga merupakan karunia Allah, amal saleh tidak lagi penting.
Ini juga merupakan pemahaman yang keliru.
Allah memerintahkan manusia untuk beriman, beramal saleh, menaati-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Amal saleh merupakan bagian penting dari jalan menuju keselamatan.
Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 97:
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“bahwa siapa saja yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, akan Allah berikan kehidupan yang baik dan balasan sesuai dengan amal terbaik yang mereka kerjakan.” ( QS. An-Nahl : 97 )
Dengan demikian, hubungan antara amal dan rahmat bukanlah hubungan yang saling meniadakan.
Kita beramal karena Allah memerintahkannya. Kita berharap pahala karena Allah menjanjikannya. Kita memohon ampunan karena menyadari banyaknya kekurangan. Dan kita mengharapkan surga karena percaya pada rahmat serta janji-Nya.
Kita tidak meninggalkan amal demi mengharap rahmat, dan kita tidak meninggalkan harapan kepada rahmat-Nya hanya karena merasa telah banyak beramal.
Inilah keseimbangan iman yang benar.
3. Bahaya Ujub: Ketika Hamba Terpesona oleh Amal Sendiri
Dalam perjalanan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, salah satu penyakit hati yang harus diwaspadai adalah ujub.
Ujub adalah perasaan kagum terhadap diri sendiri karena kelebihan, kebaikan, atau amal yang dimiliki, sehingga seseorang lupa bahwa semua itu berlangsung berkat karunia Allah.
Orang yang terjangkit ujub mungkin berkata dalam hatinya:
"Aku sudah beribadah bertahun-tahun."
"Aku telah menghabiskan banyak waktu untuk berdakwah."
"Aku telah bersedekah kepada banyak orang."
"Aku lebih memahami agama daripada mereka."
Pernyataan-pernyataan tersebut bisa menjadi berbahaya apabila melahirkan kesombongan, merendahkan orang lain, atau membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan ampunan Allah.
Dalam karya-karya tasawuf, termasuk pembahasan tentang penyakit hati dalam tradisi Al-Ghazali, perhatian terhadap kebersihan batin merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Seseorang tidak hanya perlu membersihkan tubuh dan memperbaiki perilaku lahiriah, tetapi juga harus membersihkan hati dari kesombongan, riya, hasad, dan kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri.
Cobalah kita renungkan.
Siapakah yang memberikan kita kehidupan sehingga dapat beribadah?
Siapakah yang menggerakkan hati kita untuk mengenal agama?
Siapakah yang memberikan kesehatan sehingga kita mampu berdiri dalam salat?
Siapakah yang membuka jalan sehingga kita dapat bersedekah, mengaji, berdakwah, dan menolong sesama?
Semuanya berlangsung dalam kekuasaan dan ketetapan Allah, dengan tetap disertai tanggung jawab serta ikhtiar manusia.
Karena itu, ketika berhasil melakukan kebaikan, seorang mukmin bersyukur. Ketika menemukan kekurangan dalam amalnya, ia memperbaiki diri. Ketika berbuat dosa, ia segera bertobat.
Ia tidak menggunakan amalnya untuk meninggikan diri, tetapi menjadikannya alasan untuk semakin bersyukur kepada Allah.
Semakin banyak amal seseorang, semestinya semakin dalam kerendahan hatinya. Semakin dekat ia kepada Allah, semestinya semakin besar kesadarannya bahwa ia membutuhkan pertolongan-Nya.
4. Menggantungkan Harapan kepada Allah: Makna Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in
Setiap muslim membaca Surah Al-Fatihah dalam salatnya.
Di antara kandungan terpentingnya adalah pernyataan bahwa hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.
Kalimat ini mengandung dua prinsip besar kehidupan seorang mukmin.
Pertama, hanya Allah yang menjadi tujuan ibadah kita.
Kita salat bukan untuk mendapatkan pujian manusia. Kita bersedekah bukan agar dianggap dermawan. Kita berdakwah bukan sekadar untuk memperoleh popularitas.
Seluruh pengabdian harus diarahkan kepada Allah dengan mengikuti tuntunan syariat-Nya.
Kedua, kita senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.
Kita membutuhkan pertolongan-Nya untuk memulai kebaikan, mempertahankan keistiqamahan, memperbaiki niat, menghindari kemaksiatan, dan mengakhiri kehidupan dalam keadaan beriman.
Bahkan, setelah melakukan amal saleh, kita masih membutuhkan pertolongan Allah agar amal tersebut diterima.
Di sinilah letak pentingnya tawakal.
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah sembari melakukan ikhtiar yang dibenarkan oleh syariat.
Seorang petani tetap menanam, menyiram, dan merawat tanamannya, tetapi ia tidak menganggap dirinya sebagai penguasa yang menentukan seluruh hasil panen.
Demikian pula seorang mukmin. Ia beribadah dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menganggap amalnya sebagai sesuatu yang membuatnya mandiri dari Allah.
Tangan kita bekerja, kaki kita melangkah, akal kita berpikir, dan hati kita bertawakal kepada Allah.
Inilah penghambaan yang utuh.
Perlu pula dipahami bahwa menggantungkan harapan kepada amal tidak otomatis berarti syirik. Seorang muslim yang berharap pahala Allah berdasarkan amal salehnya tidak melakukan kesyirikan. Yang harus diwaspadai adalah ketika amal melahirkan ujub, kesombongan, atau keyakinan bahwa dirinya tidak lagi membutuhkan rahmat Allah.
5. Pelajaran dari Pembunuh Seratus Jiwa: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Salah satu kisah paling menggugah dalam hadis sahih adalah kisah seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang.
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.
Laki-laki tersebut telah melakukan dosa yang sangat besar. Namun, pada suatu ketika, ia ingin bertobat dan mencari jalan untuk kembali kepada Allah.
Ia bertanya kepada seorang ahli ibadah tentang kemungkinan memperoleh ampunan. Ahli ibadah itu menjawab bahwa dosanya tidak dapat diampuni. Jawaban tersebut membuatnya membunuh ahli ibadah itu, sehingga jumlah korbannya menjadi seratus orang.
Meskipun demikian, keinginannya untuk mencari jalan pertobatan belum padam.
Ia kemudian menemui seorang berilmu. Orang tersebut menjelaskan bahwa tidak ada alasan baginya untuk berputus asa dari rahmat Allah. Ia menyarankan agar laki-laki itu meninggalkan lingkungan buruknya dan pergi menuju suatu tempat yang dihuni orang-orang saleh untuk beribadah kepada Allah.
Laki-laki itu pun berangkat.
Dalam perjalanan, ia meninggal dunia.
Kemudian terjadi peristiwa yang menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah. Malaikat rahmat dan malaikat azab memperdebatkan nasibnya. Allah memerintahkan agar jarak antara tempat asalnya dan tempat tujuannya diukur. Ternyata, ia lebih dekat kepada tempat yang ditujunya, sehingga ia termasuk orang yang memperoleh rahmat Allah.
Perhatikan baik-baik pelajaran dari kisah ini.
Apakah laki-laki tersebut memperoleh rahmat Allah karena ia tidak perlu melakukan apa-apa?
Tidak. Ia telah menunjukkan kesungguhan untuk bertobat. Ia mencari orang berilmu, menerima nasihat yang benar, meninggalkan lingkungan buruk, dan berusaha menuju lingkungan yang lebih baik.
Namun, kisah tersebut mengajarkan bahwa dosa masa lalu yang sangat besar tidak boleh membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah.
Pertobatan yang tulus dapat mengubah arah kehidupan seseorang.
Barangkali selama ini ada orang yang merasa dirinya terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Ia pernah melakukan dosa besar. Ia pernah menyakiti orang lain. Ia pernah jauh dari agama.
Lalu ia berkata, "Apakah Allah masih mau menerima diriku?"
Kisah pembunuh seratus jiwa memberikan pelajaran yang sangat kuat: jangan menutup pintu pertobatan yang telah Allah buka.
Selama seseorang masih hidup, ia harus berusaha kembali kepada Allah, menyesali dosanya, meninggalkan kemaksiatan, dan memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkannya.
Jika dosanya berkaitan dengan hak manusia, ia juga harus berusaha menyelesaikan hak tersebut sesuai kemampuannya.
Jangan biarkan dosa masa lalu membuatmu kehilangan harapan terhadap masa depan yang lebih baik bersama Allah.
6. Pelajaran dari Perempuan yang Memberi Minum Seekor Anjing
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW menceritakan tentang seorang perempuan yang memberi minum seekor anjing yang kehausan.
Perempuan itu melihat anjing yang sangat kehausan. Ia kemudian mengambil air dan memberikan minum kepada hewan tersebut.
Allah mengampuninya karena perbuatan itu.
Kisah ini menunjukkan bahwa rahmat Allah sangat luas dan bahwa kebaikan yang mungkin dipandang kecil oleh manusia dapat memiliki nilai besar di sisi-Nya.
Namun, kita tidak boleh menyederhanakan kisah ini dengan mengatakan bahwa seseorang pasti masuk surga hanya karena melakukan satu kebaikan, tanpa memperhatikan seluruh persoalan iman, pertobatan, dan kehidupan manusia.
Pelajaran utamanya adalah bahwa Allah mengetahui keikhlasan, belas kasih, dan nilai suatu perbuatan dengan pengetahuan yang sempurna.
Manusia sering menilai kebaikan berdasarkan ukuran lahiriah. Kita mungkin menganggap bahwa memberi sedikit air kepada seekor hewan merupakan perbuatan yang sederhana.
Namun, Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati orang yang melakukannya.
Bisa jadi, suatu perbuatan yang terlihat kecil dilakukan dengan keikhlasan yang mendalam, sedangkan perbuatan besar tercampuri oleh keinginan untuk dipuji.
Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan.
Senyum yang tulus, bantuan kepada orang yang kesulitan, perhatian kepada orang tua, pemberian makan kepada orang lapar, dan pertolongan kepada makhluk yang lemah adalah kesempatan untuk meraih rida Allah.
Tentu saja, kebaikan tersebut harus dipahami sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban agama.
Jangan meremehkan kebaikan yang kecil, sebab kita tidak mengetahui kebaikan mana yang Allah terima dan menjadi sebab turunnya rahmat-Nya kepada kita.
7. Apakah Mengandalkan Amal Sendiri Termasuk Kesyirikan?
Persoalan ini perlu dijelaskan dengan cermat agar kita tidak mudah menjatuhkan penilaian terhadap keimanan seseorang.
Dalam teks yang menjadi bahan renungan kita, terdapat anggapan bahwa menggantungkan harapan kepada amal merupakan bentuk kesyirikan.
Pernyataan tersebut perlu diperinci.
Berharap memperoleh pahala dan surga karena beriman serta beramal saleh bukanlah kesyirikan. Al-Qur'an sendiri menjelaskan balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Akan tetapi, apabila seseorang merasa bahwa amalnya sepenuhnya merupakan hasil kekuatan dirinya sendiri, kemudian ia membanggakan diri dan melupakan karunia Allah, sikap itu dapat mengantarkannya kepada ujub dan kesombongan.
Adapun kesyirikan memiliki pengertian dan ketentuan tersendiri dalam akidah Islam. Karena itu, tidak tepat menyebut setiap bentuk ketergantungan kepada amal sebagai syirik tanpa penjelasan lebih lanjut.
Seorang muslim semestinya memiliki tiga sikap batin.
Pertama, khauf: takut kepada Allah, takut terhadap dosa, dan takut jika amalnya tidak diterima.
Kedua, raja': berharap kepada ampunan, rahmat, rida, dan surga Allah.
Ketiga, mahabbah: mencintai Allah sehingga ia beribadah bukan sekadar karena menginginkan pahala atau takut terhadap hukuman, tetapi juga karena menyadari bahwa Allah layak dicintai dan ditaati.
Ketiganya saling melengkapi.
Takut tanpa harapan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam keputusasaan. Harapan tanpa rasa takut dapat membuatnya meremehkan dosa. Cinta tanpa ketaatan yang benar dapat berubah menjadi pengakuan kosong.
Adapun cinta yang tulus mendorong seseorang untuk menaati Allah, menjaga syariat-Nya, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Dalam perjalanan spiritual, keseimbangan inilah yang perlu dipelihara.
8. Pandangan Al-Ghazali: Membersihkan Hati dari Kesombongan Spiritual
Dalam tradisi tasawuf, perhatian terhadap amal lahiriah harus disertai perhatian terhadap keadaan batin.
Imam Al-Ghazali, melalui karya-karyanya seperti Ihya' Ulumuddin, membahas pentingnya keikhlasan, muhasabah, pengendalian hawa nafsu, dan penyucian hati.
Seseorang bisa saja melakukan ibadah yang benar secara lahiriah, tetapi masih harus berjuang membersihkan hatinya dari penyakit-penyakit batin.
Karena itu, seorang penempuh jalan menuju Allah tidak cukup bertanya:
"Berapa banyak ibadah yang telah saya lakukan?"
Ia juga perlu bertanya:
"Apakah ibadah ini menjadikan saya semakin ikhlas?"
"Apakah saya semakin rendah hati atau justru semakin sombong?"
"Apakah saya semakin menyayangi sesama atau semakin mudah merendahkan mereka?"
"Apakah saya semakin takut kepada dosa atau justru semakin berani menganggap diri saya suci?"
"Apakah saya semakin bergantung kepada Allah atau semakin mengagumi diri sendiri?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari muhasabah.
Tujuan muhasabah bukan membuat manusia membenci dirinya sendiri atau kehilangan harapan, melainkan membantunya mengenali kekurangan agar dapat memperbaikinya.
Orang yang mengenal kelemahan dirinya akan lebih mudah memohon pertolongan Allah.
Sebaliknya, orang yang merasa dirinya telah mencapai kesempurnaan cenderung sulit menerima nasihat.
Di sinilah pentingnya tazkiyatun nafs: membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.
Semakin bersih hati seseorang, semestinya semakin besar rasa syukurnya, semakin lembut sikapnya, dan semakin kuat komitmennya untuk menaati Allah.
9. Bagaimana Seharusnya Seorang Mukmin Menjalani Hidup?
Setelah memahami hakikat amal dan rahmat Allah, kita perlu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
A. Beramal dengan sungguh-sungguh
Jangan menjadikan rahmat Allah sebagai alasan untuk bermalas-malasan dalam beribadah.
Salatlah dengan sebaik-baiknya. Tunaikan kewajiban. Perbanyak amal saleh. Bekerjalah dengan jujur. Bantulah orang yang membutuhkan. Jauhilah kezaliman.
Lakukan semua itu karena Allah memerintahkannya.
B. Jangan membanggakan amal
Setelah berbuat baik, jangan merasa diri paling suci.
Jangan menggunakan ibadah untuk merendahkan orang lain. Jangan merasa bahwa orang yang berbeda dengan kita pasti lebih buruk.
Setiap orang memiliki perjalanan, ujian, dan kekurangan yang tidak seluruhnya kita ketahui.
C. Memohon agar amal diterima
Setelah beribadah, biasakanlah memohon kepada Allah agar amal kita diterima.
Sebab, melakukan amal dan memperoleh penerimaan Allah adalah dua perkara yang perlu dibedakan.
Kita bertanggung jawab untuk beramal sebaik mungkin, sedangkan penerimaan amal berada dalam kekuasaan Allah.
D. Segera bertobat ketika berbuat dosa
Jangan menunggu sampai merasa menjadi manusia yang sempurna untuk kembali kepada Allah.
Justru karena kita memiliki kekurangan, kita membutuhkan pertobatan.
Jangan pula menjadikan rahmat Allah sebagai alasan untuk terus-menerus melakukan dosa tanpa penyesalan.
Pertobatan yang tulus menuntut kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki diri.
E. Terus berharap kepada Allah
Ketika mengalami kegagalan, jangan berputus asa.
Ketika merasa banyak dosa, jangan berhenti berdoa.
Ketika amal terasa sedikit, jangan meninggalkan kebaikan.
Ketika menghadapi kesulitan, jangan kehilangan kepercayaan kepada pertolongan Allah.
Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan membawa amal, mengakui kekurangan, dan menggantungkan harapannya kepada rahmat-Nya.
10. Renungan Sufistik: Jangan Sampai Amal Menjadi Hijab
Ada sebuah renungan yang layak kita bawa ke dalam kehidupan.
Terkadang, dosa membuat manusia merasa rendah di hadapan Allah. Ia menangis, menyesal, dan memohon ampunan.
Sebaliknya, amal saleh terkadang membuat seseorang merasa tinggi di hadapan manusia.
Tentu saja, bukan berarti dosa lebih baik daripada amal saleh. Dosa tetap harus dijauhi dan ditobati, sedangkan amal saleh harus terus dilakukan.
Namun, renungan ini mengingatkan kita bahwa amal yang tidak disertai keikhlasan dapat menjadi jalan menuju kesombongan, sedangkan kesadaran atas dosa dapat menjadi awal pertobatan yang tulus.
Karena itu, jangan hanya memperhatikan banyaknya amal. Perhatikan pula keadaan hati yang menyertai amal tersebut.
Jangan hanya bangga karena mampu berdiri lama dalam salat. Perhatikan apakah salat itu menjadikan kita semakin menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Jangan hanya bangga karena mampu memberikan sedekah yang besar. Perhatikan apakah sedekah itu menjadikan kita semakin rendah hati.
Jangan hanya bangga karena mampu menyampaikan banyak nasihat agama. Perhatikan apakah kita juga bersedia menerima nasihat ketika orang lain mengingatkan kekurangan kita.
Jangan hanya bangga karena dikenal sebagai orang saleh. Berusahalah agar kehidupan kita benar-benar mencerminkan kejujuran, kasih sayang, amanah, dan ketakwaan.
Inilah perjalanan panjang penyucian jiwa.
Seorang hamba tidak pernah berhenti memperbaiki diri selama masih diberi kesempatan hidup.
Ia berusaha menaati Allah, tetapi tidak merasa telah sempurna. Ia berusaha menjauhi dosa, tetapi tidak merasa kebal terhadap godaan. Ia berusaha mendekat kepada Allah, tetapi tidak pernah menganggap dirinya tidak lagi membutuhkan pertolongan-Nya.
Jangan jadikan amal sebagai alasan untuk merasa aman dari murka Allah. Jadikan amal sebagai bentuk penghambaan, dan jadikan rahmat Allah sebagai harapan yang senantiasa menyertai perjalananmu.
11. Doa Seorang Hamba yang Mengharapkan Rahmat Allah
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kami datang kepada-Mu dengan membawa iman yang kami harapkan tetap Engkau jaga, amal yang kami harapkan Engkau terima, dan dosa-dosa yang kami harapkan Engkau ampuni.
Ya Allah, jangan biarkan kami tertipu oleh amal kami sendiri.
Jauhkanlah hati kami dari riya, ujub, kesombongan, dan perasaan bahwa diri kami lebih baik daripada orang lain.
Jika kami melakukan kebaikan, ajarkanlah kami untuk bersyukur. Jika kami melakukan kesalahan, bimbinglah kami untuk bertobat. Jika kami memperoleh kelebihan, lindungilah kami dari kesombongan. Jika kami mengalami kesulitan, kuatkanlah hati kami untuk tetap berharap kepada-Mu.
Ya Allah, jadikanlah ibadah kami sebagai bukti ketaatan, bukan alasan untuk membanggakan diri.
Jadikanlah ilmu kami sebagai jalan menuju kerendahan hati, bukan alat untuk merendahkan orang lain.
Jadikanlah dakwah kami sebagai jalan untuk mengajak manusia kepada kebaikan, bukan sarana untuk mencari pujian.
Ya Allah, kami tidak mengandalkan amal kami untuk merasa cukup. Kami menyadari kelemahan kami dan memohon agar Engkau melimpahkan rahmat serta ampunan-Mu kepada kami.
Bimbinglah kami agar tetap istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat.
Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan kaum muslimin.
Anugerahkanlah kepada kami husnul khatimah dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu.
Amin ya Rabbal 'alamin.
Penutup: Beramallah, tetapi Jangan Pernah Merasa Cukup
Saudaraku, perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan untuk membuktikan bahwa kita pantas menyombongkan diri karena amal.
Perjalanan ini adalah perjalanan penghambaan.
Kita beribadah karena Allah adalah Tuhan kita. Kita menaati-Nya karena Dia memerintahkan kebaikan. Kita menjauhi larangan-Nya karena ingin menjaga diri dari keburukan. Kita bertobat karena mengakui kelemahan. Kita berharap kepada-Nya karena mengetahui bahwa rahmat-Nya sangat luas.
Jangan pernah meninggalkan amal saleh. Namun, jangan pula membanggakan amal saleh seolah-olah kita tidak lagi membutuhkan Allah.
Ingatlah kisah pembunuh seratus jiwa yang bertobat, dan kisah perempuan yang memberi minum seekor anjing. Keduanya mengingatkan kita akan luasnya rahmat Allah, sekaligus pentingnya ketulusan dan kesungguhan dalam berbuat baik.
Maka, marilah kita memperbanyak amal tanpa ujub, bertobat tanpa berputus asa, beribadah tanpa mencari pujian, dan berharap tanpa meremehkan kewajiban.
Beramallah seolah-olah waktu hidupmu sangat terbatas. Bertobatlah seolah-olah engkau menyadari betapa banyak kekuranganmu. Berharaplah kepada Allah dengan keyakinan akan keluasan rahmat-Nya. Dan hiduplah dengan hati yang senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya.
Sebab, orang yang mengenal Allah tidak akan menjadikan amalnya sebagai alasan untuk menyombongkan diri. Ia akan menjadikan setiap amal sebagai kesempatan untuk semakin bersyukur, semakin bertobat, semakin ikhlas, dan semakin dekat kepada-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas dalam beramal, rendah hati dalam ketaatan, bersungguh-sungguh dalam pertobatan, dan senantiasa memperoleh rahmat serta rida-Nya. Amin.
Catatan dalil dan sumber
Untuk menjaga ketepatan pesan keagamaan, beberapa hal perlu ditegaskan:
1. Hadis tentang amal dan rahmat Allah: Diriwayatkan dalam Sahih Muslim, Kitab Sifat Orang Munafik dan Hukum tentang Mereka, hadis nomor 2816 dalam penomoran yang umum digunakan. Hadis ini mengajarkan bahwa keselamatan tidak diperoleh dengan mengandalkan amal semata, melainkan dengan rahmat Allah.
2. Kisah pembunuh seratus jiwa: Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Kisah ini menegaskan luasnya ampunan Allah dan pentingnya kesungguhan bertobat.
3. Kisah perempuan yang memberi minum anjing: Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Kisah ini mengajarkan keutamaan kasih sayang dan kebaikan terhadap makhluk hidup.
4. Al-Ghazali: Pembahasan mengenai keikhlasan, ujub, penyakit hati, dan penyucian jiwa dapat dipelajari lebih lanjut dalam Ihya' Ulumuddin.
5. Kisah ahli ibadah yang ditimbang amalnya lalu dilemparkan ke neraka: Kisah tersebut tidak boleh dinisbatkan sebagai hadis sahih tanpa sumber dan verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, kisah tersebut tidak dijadikan landasan utama artikel ini.
Inti ajaran: Amal saleh tetap wajib diupayakan, sedangkan rahmat Allah senantiasa diharapkan. Jangan membanggakan amal, jangan meremehkan dosa, dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Pengasuh Pesantren Digital dan Entreprenuership Fikrul Mustanir.
