Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI Sodorkan Lima Reformasi Berbasis Syariat bagi Arah Pendidikan Nasional

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:42 WIB Last Updated 2026-10-18T08:42:12Z

TintaSiyasi.id — Menyikapi karut-marut arah pendidikan nasional, Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyodorkan lima langkah reformasi. “(Ini) lima langkah reformasi mendasar bagi arah pendidikan nasional,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

Pertama, pemerintah harus mengutamakan ketuntasan kompetensi literasi dan numerasi dasar siswa secara riil ketimbang sekadar mengejar formalitas kenaikan kelas.

 

Kedua, mengembangkan sistem penilaian autentik berbasis portofolio dan proyek nyata yang dapat diverifikasi langsung di lapangan.

 

Ketiga, membuka ruang pengakuan kredibel bagi proses belajar sepanjang hayat di luar bangku sekolah formal, sebagaimana kisah sukses mantan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti.

 

Keempat, menanamkan adab dan integritas lewat keteladanan konkret para pengajar, rektor, hingga pejabat negara, bukan sekadar menjadikannya bahan hafalan ujian.

 

Kelima, mengubah indikator keberhasilan kampus agar dinilai dari sumbangsih karakter dan kemaslahatan sosial lulusannya, bukan pabrik pencetak ijazah.

 

Pendidikan Sekuler

 

HILMI menegaskan bahwa krisis moral, maraknya korupsi, hingga plagiarisme di kalangan terdidik berakar dari sistem pendidikan sekuler yang memisahkan penguasaan ilmu pengetahuan dari fondasi adab dan ketakwaan kepada Allah Swt.

 

“Kepintaran intelektual tidak pernah otomatis melahirkan kebijaksanaan moral, sehingga orang cerdas yang niradab justru memanfaatkan ilmunya untuk mengeksploitasi sesama,” jelasnya.

 

“Islam memuliakan derajat orang yang berilmu sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, namun syariat tidak pernah memisahkan ilmu dari tuntunan iman, akhlak, dan amal kebajikan,” tandas HILMI pada Kamis (15/10/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 030 bertajuk Negeri Seribu Gelar, Krisis Ilmu dan Adab: Menggugat Orientasi Pendidikan Indonesia: Antara Ijazah, Kompetensi, dan Integritas, HILMI menguraikan kriteria pemimpin amanah merujuk Surah Al-Qashash ayat 26 yang memadukan kekuatan kapasitas (al-qawiyyu) dan sifat terpercaya (al-amin).

 

“Pendidikan Islam bertugas mencetak manusia yang paham tujuan penciptaannya, cakap berpikir rasional, serta berani memikul tanggung jawab sosial,” paparnya.

 

“Keberhasilan pendidikan tidak boleh lagi diukur dari tingginya gaji alumni atau banyaknya gelar yang disandang, melainkan dari seberapa besar ilmunya mencegah kerusakan di bumi,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI menyerukan perombakan total cara pandang bangsa agar beralih dari sekadar berburu gelar menuju pembentukan insan yang bertakwa.

 

“Negara yang bermartabat bukanlah pemilik sarjana terbanyak, melainkan negara yang sanggup mengubah ilmu menjadi pelayanan dan kekuasaan menjadi kemaslahatan bagi umat,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update