"Coba lihat data terbuka
dari Adaro, perusahaan publik itu. Garibaldi Thohir kepemilikan sahamnya cuma
6,4 persen, kecil kan di bawah 10 persen? Tapi jangan ditanya berapa
dividennya, mencapai Rp2,7 triliun!" ujarnya di kanal YouTube UIY Official,
Ini Dia Cara Keluar dari Jerat Utang dan Pajak, pada Selasa
(20/10/2026).
Ia menegaskan bahwa Adaro dalam
satu bulan saja sudah mengantongi lebih dari Rp200 miliar dan satu hari sekitar
Rp7 miliar hanya dari batu bara. "Dari angka ini saja kita bisa mengerti
mengapa margin raksasa batu bara itu habis dinikmati oleh segelintir
orang," bebernya.
Lebih lanjut, UIY menjelaskan
bahwa total produksi tahunan batu bara saat ini mencapai 800 juta ton per
tahun, sebanyak 600 juta ton dialokasikan untuk ekspor setelah dikurangi
kewajiban DMO (Domestic Market Obligation) sebesar 25 persen.
“Dengan selisih harga jual
internasional dan biaya produksi mencapai 100 dolar AS per ton serta
memperhitungkan potongan pajak 20 persen, estimasi potensi keuntungan bersih
yang dihasilkan dari komoditas ini mampu menyentuh angka 45 miliar dolar AS
atau setara Rp765 triliun per tahun,” bebernya.
"Jadi sebenarnya sangat
besar, ini baru dari batu bara tapi ternyata sumber daya yang melimpah ini
harusnya dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat nyatanya lebih
banyak dinikmati oleh segelintir orang, mengapa? Karena lebih dari 90 persen
produksi batu bara nasional berada tangan swasta," ungkapnya.
"Sementara produksi BUMN
hanya sekitar 5 persen. BUMN batu bara PT Bukit Asam, Tbk memproduksi kurang
lebih 50 juta ton per tahun, maka dari sini kita bisa mengerti mengapa margin
sangat besar itu dinikmati oleh segelintir orang," tambahnya.[] Taufan
