Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cendekiawan: Ada Ketimpangan Ekstrem Penguasaan Kekayaan Alam Nasional

Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:39 WIB Last Updated 2026-10-27T07:39:30Z


TintaSiyasi.id —  Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyoroti ketimpangan ekstrem dalam penguasaan kekayaan alam nasional, di mana kepemilikan saham yang relatif kecil pada swasta seperti Adaro mampu mendatangkan dividen fantastis hingga Rp2,7 triliun per tahun bagi seorang pengusaha.

 

"Coba lihat data terbuka dari Adaro, perusahaan publik itu. Garibaldi Thohir kepemilikan sahamnya cuma 6,4 persen, kecil kan di bawah 10 persen? Tapi jangan ditanya berapa dividennya, mencapai Rp2,7 triliun!" ujarnya di kanal YouTube UIY Official, Ini Dia Cara Keluar dari Jerat Utang dan Pajak, pada Selasa (20/10/2026).

 

Ia menegaskan bahwa Adaro dalam satu bulan saja sudah mengantongi lebih dari Rp200 miliar dan satu hari sekitar Rp7 miliar hanya dari batu bara. "Dari angka ini saja kita bisa mengerti mengapa margin raksasa batu bara itu habis dinikmati oleh segelintir orang," bebernya.

 

Lebih lanjut, UIY menjelaskan bahwa total produksi tahunan batu bara saat ini mencapai 800 juta ton per tahun, sebanyak 600 juta ton dialokasikan untuk ekspor setelah dikurangi kewajiban DMO (Domestic Market Obligation) sebesar 25 persen.

 

“Dengan selisih harga jual internasional dan biaya produksi mencapai 100 dolar AS per ton serta memperhitungkan potongan pajak 20 persen, estimasi potensi keuntungan bersih yang dihasilkan dari komoditas ini mampu menyentuh angka 45 miliar dolar AS atau setara Rp765 triliun per tahun,” bebernya.

 

"Jadi sebenarnya sangat besar, ini baru dari batu bara tapi ternyata sumber daya yang melimpah ini harusnya dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat nyatanya lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang, mengapa? Karena lebih dari 90 persen produksi batu bara nasional berada tangan swasta," ungkapnya.

 

"Sementara produksi BUMN hanya sekitar 5 persen. BUMN batu bara PT Bukit Asam, Tbk memproduksi kurang lebih 50 juta ton per tahun, maka dari sini kita bisa mengerti mengapa margin sangat besar itu dinikmati oleh segelintir orang," tambahnya.[] Taufan

 

 

Opini

×
Berita Terbaru Update