Tintasiyasi.id.com -- Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu pesat. Kini AI hadir dalam berbagai aktivitas, dari menulis dan menganalisis data hingga mendukung kesehatan, pendidikan, dan bisnis.
Kemajuan ini membawa banyak kemudahan. Namun, muncul pertanyaan: bagaimana jika teknologi yang diciptakan manusia berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia mengendalikannya?
Sejumlah pakar memperingatkan risiko AI, mulai dari kejahatan siber, manipulasi informasi, pencurian data, hingga kemungkinan agen AI bertindak semakin mandiri. Meski skenario AI mengambil alih internet belum menjadi kepastian, ancaman yang lebih nyata justru dapat muncul dari penyalahgunaan AI oleh manusia (DetikInet.com, Kamis, 1 Oktober 2026).
Lantas, apakah perkembangan AI harus dihentikan? Tidak sesederhana itu.Teknologi merupakan hasil kemampuan akal manusia. Ia dapat menjadi sarana kemudahan dan kemaslahatan, tetapi juga dapat digunakan untuk kerusakan.
Persoalannya bukan sekadar seberapa canggih AI, melainkan siapa yang mengembangkan, untuk kepentingan apa, dan nilai apa yang menjadi landasannya.
Di sinilah Islam memiliki pandangan yang khas.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk anti terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah memberikan manusia akal agar mampu memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya dan mengelola kehidupan.
Allah SWT berfirman:
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya.”
(QS. Al-Jatsiyah ayat 13)
Teknologi, termasuk AI, dapat dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat.
Namun, arah pemanfaatan teknologi dipengaruhi pemikiran dan nilai manusia. Teknologi yang sama dapat membawa kemaslahatan atau kerusakan.
AI dapat membantu dokter dan penelitian, tetapi juga dapat digunakan untuk penipuan, disinformasi, dan serangan siber.
Karena itu, manusia tidak cukup hanya menciptakan teknologi yang semakin pintar. Manusia juga membutuhkan aturan yang mampu mengarahkan kecerdasan tersebut.
Islam memandang seluruh aktivitas manusia harus terikat dengan hukum Allah. Kemajuan teknologi tidak boleh menjadi alasan mengabaikan halal dan haram, hak manusia, maupun kemaslahatan masyarakat.
Karena itu, yang penting bukan hanya alatnya, tetapi nilai yang mengarahkan penggunaannya.
Jika AI hanya diarahkan oleh kepentingan bisnis dan persaingan kekuasaan, teknologi dapat menjadi alat mengejar keuntungan atau dominasi, termasuk dalam peperangan dan pengawasan.
Maka solusi Islam bukan menolak AI, tetapi menempatkan teknologi di bawah kendali manusia yang memiliki akidah dan terikat syariat.
Kecerdasan adalah karunia Allah. Teknologi semestinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan, mengembangkan ilmu, dan mewujudkan kemaslahatan, bukan menzalimi atau merusak.
Negara juga bertanggung jawab memastikan teknologi bermanfaat bagi masyarakat, menjaga keamanan data, dan mencegah penyalahgunaan untuk kejahatan. Sebab AI yang semakin cerdas tanpa manusia bertakwa ibarat kendaraan berkecepatan tinggi tanpa arah.
Tantangan terbesar era AI bukan sekadar apakah mesin akan lebih pintar, tetapi apakah manusia masih mampu menentukan untuk apa kecerdasan itu digunakan.
Islam memberikan jawabannya: ilmu harus diarahkan oleh iman, teknologi digunakan untuk kemaslahatan, dan kehidupan berjalan dalam koridor syariat.
AI boleh semakin cerdas. Teknologi boleh semakin maju. Namun, jangan sampai manusia yang menciptakannya justru kehilangan arah.
Sebab yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan buatan yang semakin tinggi, tetapi manusia yang memiliki kecerdasan, akidah, dan ketundukan kepada Allah.[]
Oleh: Sera Alfi Hayunda, S.Pd
(Aktivis Muslimah)