Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Kritik Objektif kepada Penguasa Adalah Manivestasi Keimanan

Rabu, 16 September 2026 | 21:03 WIB Last Updated 2026-09-16T14:03:17Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa menyampaikan kritik objektif terhadap kebijakan penguasa bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan manifestasi keimanan yang luhur demi menyelamatkan kemaslahatan publik dari kerugian sistemis.

 

“Menyampaikan kritik objektif terhadap kebijakan penguasa bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan manifestasi keimanan yang luhur demi menyelamatkan kemaslahatan publik dari kerugian sistemis,” tutur HILMI.

 

“Rasulullah saw. secara tegas menyatakan bahwa agama adalah nasihat, termasuk nasihat kepada para pemimpin kaum Muslimin, bahkan menyebut perkataan yang adil di hadapan penguasa zalim sebagai jihad paling utama,” tandas HILMI dalam rilis Letter to Intellectuals No. 021 bertajuk Sabar dan Takwa Tak Hanya untuk Rakyat: Kekuasaan, Kritik, dan Kewajiban Negara Membangun Sistem yang Mau Mendengar pada Senin (14/09/2026).

 

HILMI mengecam praktik stigmatisasi terhadap para pengkritik kebijakan, seperti pelabelan antek asing, tidak nasionalis, atau anjuran sinis untuk pindah kewarganegaraan. Respons semacam itu dinilai sebagai bentuk kepanikan nirsubstansi.

 

“Jika kritik salah, bantahlah secara ilmiah dengan data. Namun jika kritik itu benar, yang wajib diubah adalah kebijakannya, bukan malah membungkam atau mempertanyakan kewarganegaraan pengkritiknya,” katanya kepada TintaSiyasi.ID.

 

Keterlambatan mendengar kritik publik, lanjut HILMI, telah terbukti memicu malapetaka kebijakan pada sejumlah program berskala masif. “Pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, insiden keracunan massal yang memakan ribuan korban baru direspons setelah sistem dapur bermasalah di berbagai daerah,” jelas HILMI.

 

Masalah serupa juga disebut HILMI membayangi tata kelola Koperasi Desa Merah Putih, ambisi IKN, hingga pembengkakan biaya (cost overrun) megaproyek kereta cepat Whoosh dari taksiran awal 5,5 miliar dolar AS melambung menjadi 7,3 miliar dolar AS yang kini membebani keuangan negara.

 

“Koreksi asumsi di atas kertas jauh lebih murah daripada membongkar beton yang sudah terlanjur berdiri dan menumpuk utang,” paparnya.

 

HILMI mengingatkan agar perumusan kebijakan berlandaskan bukti nyata (evidence-based policy), bukan memanipulasi bukti dan riset hanya demi membenarkan target politik segelintir elite (policy-based evidence).

 

“Transparansi sebelum keputusan diambil merupakan amanah syariat untuk memastikan kebijakan negara semata-mata berorientasi pada kemaslahatan rakyat banyak,” jelas HILMI.

 

“Sudah semestinya para pejabat berhenti berlindung di balik ego kekuasaan dan segera memeriksa kembali setiap asumsi proyek yang dipaksakan sebelum penyesalan datang terlambat,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update