Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Proyek 200 Juta Rekening, HILMI: Beraroma Akuisisi Nasabah

Sabtu, 12 September 2026 | 14:34 WIB Last Updated 2026-09-12T07:34:39Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai rencana pemerintah mengalokasikan anggaran Rp11 triliun demi membagikan saldo awal Rp50.000 kepada 200 juta rekening warga lebih beraroma akuisisi nasabah perbankan ketimbang inklusi keuangan yang substansial.

 

“Rencana pemerintah mengalokasikan anggaran Rp11 triliun demi membagikan saldo awal Rp50.000 kepada 200 juta rekening warga lebih beraroma akuisisi nasabah perbankan ketimbang inklusi keuangan yang substansial,” tutur HILMI.

 

“Persoalan mendasarnya bukan sekadar selisih hitung aritmetika Rp1 triliun dari 200 juta rekening, melainkan kekeliruan menyamakan antara inklusi keuangan dan inklusi perbankan,” tandas HILMI dalam rilis Letter to Intellectuals No. 020 bertajuk Membangun Infrastruktur & Literasi Keuangan: Rp11 Triliun untuk 200 Juta Rekening: Inklusi Keuangan atau Inklusi Perbankan? pada Kamis (10/09/2026).

 

HILMI membeberkan bahwa data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia sebenarnya sudah sangat tinggi, yakni mencapai 93,61 persen.

 

“Angka tersebut bahkan telah melampaui target RPJMN 2025–2029. Oleh karena itu, memaksakan pembukaan rekening baru bagi puluhan juta warga yang sudah memiliki rekening bank terkesan pemborosan anggaran,” imbuhnya.

 

“Orang yang sudah memiliki rekening di bank tidak menjadi lebih terinklusi hanya karena memperoleh satu rekening tambahan dari proyek pemerintah ini,” ujarnya kepada TintaSiyasi.ID.

 

HILMI menyoroti pihak yang paling banyak diuntungkan dari proyek triliunan itu. “Bagi rakyat, saldo Rp50.000 relatif kecil dan bisa langsung habis tersedot biaya,” sebutnya.

 

Namun bagi perbankan yang ditunjuk, menurut HILMI akan mendapatkan basis data nasabah raksasa, potensi dana murah (CASA), hingga peluang transaksi digital tanpa perlu keluar biaya akuisisi pasar.

 

“Negara pada dasarnya membantu membiayai proses akuisisi nasabah perbankan secara masif menggunakan APBN,” ulasnya.

 

Jika tujuannya hanya membangun infrastruktur pembayaran negara (Government-to-Citizen e-Payment Infrastructure), HILMI menyatakan pemerintah seharusnya cukup menautkan NIK warga ke rekening yang sudah ada tanpa perlu membukakan rekening baru secara paksa.

 

“Jangan membungkus proyek infrastruktur pembayaran negara semata-mata dengan jargon inklusi keuangan jika yang terjadi sekadar menambah daftar nomor rekening,” urainya.

 

“Keberhasilan inklusi keuangan tidak boleh diukur dari berapa juta rekening yang berhasil dibuka, melainkan dari meningkatnya kemampuan rakyat dalam mengelola keuangan secara produktif dan mandiri,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update