Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Maulid Nabi: Bukan Sekadar Peringatan Hari Kelahiran, Melainkan Penerapan Sunnahnya

Rabu, 02 September 2026 | 19:36 WIB Last Updated 2026-09-02T12:36:37Z


TintaSiyasi.id -- Ya Nabi salam alaika. Ya Rasul salam alaika. Ya Habib salam alaika. Sholawatullah alaika. Setiap memasuki bulan Rabiul Awwal, suasana kerinduan umat Islam kepada sosok Baginda Nabi SAW kian terasa. Maulid Nabi diperingati. Shalawat atas beliau bergema di penjuru negeri. Tabligh akbar digelar. Semua itu karena kecintaan umat sekaligus mengingatkan mereka akan keteladanan Nabi SAW. 

Tapi umat yang begitu ia cintai, nyatanya tak semua membalas cinta Sang Baginda. Perintahnya tak lagi diikuti. Larangannya  ditabrak sana-sini. Sunnah Rasulullah SAW hingga kini memang masih dipelajari. Disampaikan dalam khutbah, pengajian, dan pelajaran agama. Namun, tak lebih hanya memenuhi isi kepala. Sementara kaki, tangan, mata, dan telinga membebaskan diri dari itu semua. 

Seringkali sunnahnya dipandang sebelah mata. Ketinggalan zaman kata mereka. Muslim yang ingin menegakkannya disebut kembali ke zaman unta. Bahkan salah satu ajaran warisan Rasulullah SAW yaitu khilafah 'alaa minhajin nubuwwah, dikriminalisasi. Disebut ajaran setan, pemecah-belah persatuan. Padahal itu ajaran Islam. 

Miris. Di Hari Maulid Nabi, banyak lisan menyenandungkan shalawat, tapi hatinya enggan untuk taat. Tubuhnya menolak berbagai syariat. Padahal, hak Rasulullah SAW yang harus dipenuhi oleh umat Islam adalah ittiba' pada beliau. Tak hanya meyakini Muhammad SAW sebagai utusan-Nya, tapi mengikuti seluruh syariat yang beliau bawa. Pun melanjutkan jalan dakwah yang telah beliau rintis dan jaga. Maka peringatan Maulid Nabi SAW seharusnya menjadi momentum yang mendorong umat Islam untuk mencontoh beliau dalam penerapan syariat Islam di seluruh aspek kehidupan. 

Peringatan Maulid Nabi Belum Mampu Mendorong Umat Mencontoh Perilaku Beliau dalam Penerapan Syariat Islam

Setiap memasuki bulan Rabiul Awwal, kerinduan umat Islam kepada Baginda Rasulullah SAW kembali menggema dalam berbagai seremoni. Namun, ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan: Sejauh mana peringatan Maulid Nabi benar-benar mengubah kehidupan umat untuk mengikuti Rasulullah SAW?

Sebab, mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar menyebut namanya. Bukan pula hanya memperbanyak shalawat pada momentum Rabiul Awwal. Cinta kepada Rasulullah SAW semestinya melahirkan ittiba', yaitu mengikuti beliau dengan menjalankan apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang.

Rasulullah SAW seharusnya jadi teladan dalam semua aspek kehidupan. Namun sering kali keteladanan itu hanya ditempatkan dalam aspek ibadah individual dan akhlak pribadi. Padahal Rasulullah SAW bukan sekadar teladan dalam ibadah, kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan akhlak. Tetapi beliau juga merupakan pemimpin umat yang menerapkan syariat Allah dalam kehidupan masyarakat.

Beliau tidak hanya mengajarkan bagaimana seorang Muslim berwudhu dan shalat. Pun membangun masyarakat Islam, mengatur kehidupan sosial, menjalankan perekonomian, menegakkan keadilan, mengatur hubungan antarwarga, menjalankan pemerintahan, serta menerapkan hukum Allah dalam kehidupan.

Dengan demikian, jika Maulid Nabi hanya menghasilkan kecintaan emosional tanpa mendorong perubahan kehidupan agar semakin sesuai dengan syariat yang dibawa Rasulullah SAW, maka ada bagian penting dari makna Maulid yang belum tersentuh.

Lantas, mengapa saat ini aneka seremoni Maulid belum mampu mengantarkan umat untuk  meneladani Rasulullah secara kaffah? Persoalannya bukan semata-mata karena umat tidak mengetahui ajaran Islam.

Banyak umat Islam mengetahui bahwa shalat itu wajib, riba haram, zina dilarang, menutup aurat merupakan kewajiban. Pun mengetahui bahwa amanah, kejujuran, keadilan, dan kepedulian kepada sesama merupakan ajaran Islam. Namun, persoalan muncul ketika syariat Islam tidak menjadi dasar dalam mengatur seluruh aspek kehidupan.

Di sinilah kita berhadapan dengan sekularisme, yaitu pandangan yang memisahkan agama dari kehidupan publik dan pengaturan masyarakat. Dalam paradigma sekularisme, agama cenderung ditempatkan sebagai urusan privat: mengatur ibadah individu dan moral personal, sementara politik, ekonomi, hukum, pendidikan, pemerintahan, dan berbagai urusan publik diserahkan kepada aturan yang dibuat manusia.

Akibatnya, umat Islam menghadapi sebuah kontradiksi. Mereka mencintai Rasulullah SAW, tetapi sistem kehidupan yang dijalani tidak dibangun berdasarkan seluruh syariat yang beliau bawa. Di masjid, kita diajarkan untuk taat kepada Allah. Di majelis, kita diingatkan untuk mengikuti Rasulullah SAW. Namun ketika keluar dari masjid dan majelis, kehidupan kembali berjalan dengan aturan yang memisahkan agama dari pengaturan masyarakat.

Maka tidak mengherankan jika nilai-nilai Islam sering hanya menjadi keshalihan individual, sementara persoalan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan berjalan dengan paradigma yang tidak menjadikan wahyu sebagai sumber utama pengaturan.

Karena itu, permasalahan Maulid bukan sekadar bagaimana membuat peringatan semakin meriah, tetapi bagaimana menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai energi perubahan kehidupan. Peringatan Maulid Nabi SAW semestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar mengikuti Rasulullah SAW? Sudahkah sunnah beliau hadir dalam keluarga kita? Sudahkah syariat Allah menjadi pedoman dalam muamalah kita? Sudahkah kita menjadikan ajaran Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam persoalan ekonomi, pendidikan, hukum, politik, dan pemerintahan?

Sebab Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan Islam sebagai agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Islam yang beliau bawa adalah risalah yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Maka, jika kita benar-benar mencintai beliau, mari kita hadirkan keteladanan Rasulullah SAW bukan hanya di masjid, bukan hanya di majelis, bukan hanya dalam lantunan shalawat, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab cinta kepada Rasulullah SAW menuntut ittiba'. Dan ittiba' menuntut ketaatan kepada syariat yang beliau bawa.

Inilah yang semestinya menjadi ruh peringatan Maulid Nabi SAW. Dengan demikian, Maulid Nabi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum kebangkitan kesadaran umat untuk kembali meneladani Rasulullah SAW secara utuh.

Akibat jika Peringatan Maulid Nabi Hanya Jadi Seremoni

Jika peringatan Maulid Nabi SAW hanya berhenti pada seremonial—shalawat, spanduk, tabligh akbar, dan kemeriahan acara—tanpa melahirkan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah SAW dan kesungguhan menerapkan syariat yang beliau bawa, maka pesan utama Maulid menjadi kehilangan ruhnya.

Beberapa akibatnya antara lain:

Pertama, cinta kepada Nabi berhenti sebagai ucapan, bukan ketaatan. 

Cinta kepada Rasulullah SAW bukan sekadar memperbanyak pujian dan shalawat. Allah SWT berfirman: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali 'Imran: 31). Ayat ini menunjukkan bahwa ittiba’ merupakan bukti cinta. Jika seseorang mengaku mencintai Nabi, tetapi tidak peduli terhadap perintah dan larangan yang beliau bawa, maka cintanya belum terwujud secara nyata dalam kehidupan.

Kedua, maulid tidak mampu mengubah perilaku umat. 

Maulid seharusnya membuat umat bertanya: "Apa yang sudah berubah dalam hidupku setelah mengenal dan mengingat perjuangan Rasulullah?” Jika setelah Maulid seseorang tetap meninggalkan kewajiban, mempertahankan kemaksiatan, menganggap remeh sunnah, dan tidak peduli terhadap aturan Allah, maka peringatan tersebut hanya menjadi pengetahuan yang tidak melahirkan amal. Ilmu yang tidak diamalkan akhirnya hanya memenuhi kepala, tetapi tidak menggerakkan kaki untuk berjalan menuju ketaatan.

Ketiga, keteladanan Rasulullah SAW menjadi sekadar kisah masa lalu. 

Rasulullah SAW bukan hanya sosok yang kisah kelahirannya diceritakan setiap Rabiul Awwal. Beliau adalah uswah hasanah, teladan bagi kehidupan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ..." (QS. Al-Ahzab: 21). Ketika kehidupan Rasulullah hanya diposisikan sebagai sejarah yang dikagumi, tetapi tidak dijadikan teladan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga kehidupan bernegara, maka umat kehilangan dimensi penting dari keteladanan beliau.

Keempat, umat mudah memisahkan agama dari kehidupan. 

Seremonial yang tidak disertai kesadaran untuk menjalankan syariat dapat melahirkan cara pandang bahwa agama cukup hadir di masjid, majelis taklim, peringatan hari besar, atau ritual pribadi, sementara urusan kehidupan lainnya diserahkan kepada aturan manusia. Padahal Rasulullah SAW membawa Islam sebagai risalah yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh—akidah, ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, ekonomi, pendidikan, sosial, hingga persoalan pemerintahan. Karena itu, mencintai Rasulullah semestinya juga berarti mencintai risalah yang beliau perjuangkan.

Kelima, perjuangan Rasulullah SAW menjadi tidak tersambung. 

Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan shalat dan akhlak individual. Beliau juga membangun masyarakat Islam, menegakkan hukum Allah, mengatur urusan rakyat, dan memimpin umat. Maka, jika Maulid hanya menonjolkan sisi kelembutan, kasih sayang, dan akhlak beliau, tetapi mengabaikan perjuangan dakwah dan aspek kepemimpinan beliau, gambaran tentang Rasulullah SAW menjadi tidak utuh. Jadilah kita mengenang sosoknya, tetapi tidak mengikuti jalan perjuangannya.

Keenam, kesenjangan antara shalawat dan kehidupan semakin lebar. 

Inilah yang paling menyedihkan. Lisan mengucapkan: “Ya Nabi salam alaika…”
Tetapi kehidupan justru berkata: “Tidak dengan syariatmu.” Lisan bershalawat, tetapi mata dibiarkan melihat yang haram. Lisan memuji Rasulullah, tetapi perintahnya diabaikan. Lisan mengatakan cinta Nabi, tetapi sunnahnya dianggap kuno. Lisan mengagungkan perjuangan beliau, tetapi dakwah untuk melanjutkan risalahnya justru ditinggalkan. Tentu, ini bukan berarti shalawat tidak penting. Shalawat sangat mulia. Namun shalawat semestinya menjadi pintu yang mengantarkan hati kepada kecintaan, kemudian kecintaan melahirkan ittiba’, dan ittiba’ melahirkan ketaatan.

Ketujuh, momentum Maulid kehilangan daya transformasinya.

Seharusnya setelah Maulid ada sesuatu yang berubah: dari tahu menjadi mau, dari mau menjadi taat, dari taat menjadi istiqamah, dan dari istiqamah menjadi perjuangan untuk menghadirkan Islam dalam kehidupan.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya: Apakah kita sudah memperingati Maulid Nabi?" Tetapi: “Apakah setelah Maulid kita semakin dekat dengan sunnah beliau? “Apakah kita semakin taat kepada Allah?” “Apakah kita semakin peduli terhadap persoalan umat?” Serta “Apakah kita semakin bersungguh-sungguh memperjuangkan tegaknya kehidupan yang diatur oleh syariat Allah?”

Pada akhirnya, Maulid Nabi SAW jangan sampai hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran beliau, tetapi tidak menjadi momentum untuk menghidupkan risalah beliau. Sebab Rasulullah SAW tidak membutuhkan sekadar dikenang. Beliau harus diikuti.

Bukan hanya namanya yang kita agungkan, tetapi ajarannya kita perjuangkan.Bukan hanya shalawat yang kita lantunkan, tetapi sunnahnya kita hidupkan. Dan bukan hanya kisah perjuangannya yang kita ceritakan, tetapi jalan dakwahnya kita lanjutkan dengan cara yang benar, damai, dan sesuai tuntunan syariat. Itulah cinta yang memiliki bukti. Itulah Maulid yang memiliki makna. Dan itulah kerinduan kepada Rasulullah SAW yang semestinya melahirkan perubahan.

Strategi Umat Islam Rayakan Maulid Nabi Menuju Penerapan Syariat Islam

Dari penjelasan sebelumnya, maka strategi merayakan Maulid Nabi dapat diarahkan bukan sekadar pada aspek seremonial, tetapi menjadi momentum perubahan diri dan kesadaran umat untuk semakin mencintai, menaati, dan meneladani Rasulullah SAW. Strateginya antara lain: 

Pertama, mengubah Maulid dari sekadar seremonial menjadi momentum muhasabah. 

Maulid jangan berhenti pada kemeriahan acara, lantunan shalawat, atau tabligh akbar. Jadikan momentum ini untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sudahkah kecintaanku kepada Rasulullah SAW dibuktikan dengan ketaatan kepada seluruh ajaran yang beliau bawa?”

Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian”
(QS. Ali 'Imran: 31). Cinta kepada Rasulullah SAW harus melahirkan ittiba', bukan sekadar kekaguman.

Kedua, menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. 

Perayaan Maulid harus menjadi titik awal untuk memperbaiki perilaku. Sunnah Rasulullah SAW tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus diamalkan. Mulai dari perkara personal—akhlak, ibadah, muamalah, keluarga, pendidikan—hingga kepedulian terhadap persoalan umat. Dengan demikian, Maulid melahirkan pertanyaan praktis: “Apa satu syariat Rasulullah yang hari ini akan saya perjuangkan untuk saya taati?”

Ketiga, mengkaji sirah Nabi secara utuh, bukan hanya sisi akhlaknya. 

Rasulullah SAW bukan hanya teladan dalam kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang. Beliau juga merupakan Rasul sekaligus pemimpin umat yang membawa risalah Islam untuk mengatur kehidupan. Karena itu, kajian Maulid perlu menghadirkan sirah secara utuh: bagaimana Rasulullah SAW membina para sahabat, membangun masyarakat Islam, menerapkan hukum Allah, mengatur kehidupan masyarakat, menyelesaikan persoalan umat, dan mendakwahkan Islam. Dengan memahami perjalanan beliau secara utuh, umat tidak akan menyempitkan keteladanan Nabi hanya pada akhlak individual.

Keempat, menjadikan Maulid sebagai momentum meningkatkan pemahaman terhadap syariat. 

Kecintaan kepada Nabi akan semakin kuat ketika umat memahami bahwa seluruh ajaran yang beliau bawa adalah petunjuk dari Allah SWT. Allah berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah" (QS. Al-Hasyr: 7). Maka acara Maulid dapat diisi dengan kajian tentang fikih kehidupan, ekonomi Islam, hukum keluarga, pendidikan Islam, politik Islam, pergaulan, hingga persoalan umat, sehingga kecintaan kepada Nabi memiliki landasan ilmu.

Kelima, membangun kesadaran bahwa Islam adalah risalah yang sempurna. 

Umat perlu memahami bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam perkara ibadah ritual, tetapi juga memberikan petunjuk dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dan pemerintahan. Allah SWT berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu...” (QS. Al-Ma'idah: 3). Karena itu, semangat Maulid semestinya mendorong umat untuk mempelajari dan memperjuangkan penerapan ajaran Islam secara menyeluruh, bukan memilih sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya.

Keenam, menghidupkan dakwah sebagai bukti cinta kepada Rasulullah SAW. 

Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan Islam kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Beliau berdakwah, membina umat, menghadapi berbagai tantangan, dan memperjuangkan tegaknya kehidupan yang berlandaskan wahyu. Maka mencintai beliau berarti meneruskan aktivitas dakwah sesuai kemampuan dan tuntunan syariat. Dakwah dilakukan dengan ilmu, hikmah, argumentasi yang baik, kesabaran, dan akhlak mulia, bukan dengan kebencian, kekerasan, atau tindakan melanggar hukum.

Ketujuh, menjadikan majelis Maulid sebagai ruang pembinaan umat. 

Jangan sampai setelah acara selesai, semangat umat ikut selesai. Dari satu majelis Maulid dapat dilanjutkan dengan: halaqah kajian rutin; pembinaan keluarga Muslim; kajian sirah dan fikih; program membaca dan mengkaji Al-Qur'an; pembinaan generasi muda; gerakan kepedulian terhadap umat; serta aktivitas dakwah yang berkelanjutan. Dengan demikian, Maulid menjadi pintu masuk menuju perubahan, bukan sekadar acara tahunan.

Kedelapan, mengukur keberhasilan Maulid dari perubahan setelahnya. 

Ukuran keberhasilan Maulid bukan seberapa meriah panggungnya, seberapa banyak orang hadir, atau seberapa panjang shalawat dilantunkan. Ukuran terpentingnya adalah: Apakah setelah Maulid kita semakin taat? Apakah shalat semakin baik? Apakah muamalah semakin sesuai syariat? Apakah aurat semakin dijaga? Apakah keluarga semakin dibina dengan Islam? Apakah kemaksiatan semakin ditinggalkan? Apakah dakwah semakin kuat? Apakah kepedulian terhadap persoalan umat semakin tumbuh? Jika semua itu terjadi, maka Maulid benar-benar menjadi momentum ittiba' kepada Rasulullah SAW.

Dengan demikian, cinta Nabi tidak boleh berhenti di lisan. Ia harus turun ke hati, bergerak menjadi ketaatan, lalu hadir dalam kehidupan. Jangan hanya merayakan hari kelahiran Rasulullah SAW. Rayakan dengan menghidupkan risalah yang beliau bawa. Karena bukti cinta yang paling nyata bukan sekadar mengatakan “Ya Habib salam 'alaika”, tetapi berusaha menjadikan kehidupan kita tunduk kepada Allah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. []

Oleh: Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. dan Puspita Satyawati

Opini

×
Berita Terbaru Update