Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ironi Tanah Para Nabi: Anaknya Dipenjara, Tanahnya Dibelenggu Angkara

Minggu, 13 September 2026 | 17:48 WIB Last Updated 2026-09-13T10:48:25Z

Tintasiyasi.id.com -- Empat ribu tiga ratus tujuh puluh sembilan. Itu adalah angka yang dipegang Israel laknatullah dalam melanggar perjanjian gencatan senjata di Gaza sejak disepakati pada 10 Oktober 2025, per Agustus 2026 ini. 

Pelanggaran tersebut dilakukan Israel dengan pongahnya hingga mensyahidkan 1.286 warga Palestina dan melukai setidaknya 4.257 orang (Astroawani, 24-08-2026). 

Tak cukup prestasi kelam yang berhasil ditorehkan oleh Israel itu, entitas keji ini juga terus menangkapi anak-anak Palestina dan memasukkan mereka ke penjara seperti Megiddo dan Ofer, penjara yang bila dimasuki tahanan, belum tentu bisa keluar dalam kondisi yang sama. 

Penangkapan anak-anak yang tak memerlukan dakwaan atau persidangan apa pun, tentu dilakukan dalam rangka menghancurkan masa depan mereka, persis seperti entitas Yahudi ini menghancurkan rumah-rumah dan masa kecil mereka (Kompas,28-08-2026).

Tanah Nabi Dicederai

Bulan Rabiulawal yang diperingati sebagai bulan kelahiran manusia paling mulia yang pernah menginjakkan kakinya di tanah mulia ini, rasanya ternodai dengan kabar-kabar berkenaan dengan kondisi umatnya yang diperangi oleh musuh-musuh-Nya. 

Darah yang tertumpah. Tanah yang terjajah. Sayangnya tak cukup menggetarkan singgasana para penguasa Muslim nan mewah dan megah untuk segera mengusir para penjajah dari tanah kharijiyah.
Ingin rasanya menutup mata dari fakta ini, namun ironi selalu menemukan celah untuk merasuk ke dalam hati manusia yang masih ada nurani. 

Memenjarakan anak-anak yang merupakan penerus perjuangan penjagaan tanah umat tentu adalah pelanggaran yang tak bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Ada ibu yang kehilangan buah hati yang dicintai. Ada kakek yang tak tahu kabar keturunannya di balik jeruji. 

Ada saudara yang terpisah dari belahan jiwa serahimnya. Bahkan laporan dari berbagai organisasi advokasi HAM di Palestina, salah satunya Palestinian Center for Prisoner's Advocacy menyorot kondisi para tahanan di penjara Israel yang rentan tak mendapatkan akses makanan dan perawatan medis yang layak. 

Menahan tanpa dakwaan legal adalah sebuah dosa, namun entitas laknat ini malah menambah daftar dosanya dengan mendiskriminasi para tahanan tak bersalah itu.
Lagi-lagi, seluruh realitas pilu ini amatlah tak layak terjadi di belahan bumi mana pun, terlebih di tanah yang menjadi saksi kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw. atas nabiyullah lainnya. 

Hanya saja, fakta ini adalah sebuah keniscayaan di dalam peradaban yang dikomandoi oleh sekularisme. Nyawa manusia tak ada harganya bila dibandingkan dengan ambisi bengis kaum kafir dalam menguasai dunia, termasuk di dalamnya adalah kaum muslimin.

Meniti Kembali Jalan Nabi
Baginda Nabi Muhammad saw. sebagaimana yang disebut oleh Allah swt. adalah uswah hasanah yang sepatutnya diteladani oleh kaum muslimin dalam setiap aspek kehidupan di dunia. 

Itu pula yang telah dilakukan oleh para sahabat beliau yang mulia dan dilanjutkan oleh generasi Muslim yang gemilang catatan sejarahnya. Sebut saja khalifah ketiga umat, Umar bin Khattab RA., di bawah kekuasaannyalah tanah Baitulmaqdis pertama kali takluk dan selalu berada dalam penjagaan Islam, hingga dirampas oleh tentara salibis. 

Kemudian naiklah nama Salahuddin al Ayyubi sebagai sosok yang mengembalikan tanah Baitulmaqdis ke pangkuan Islam, setelah berhasil menumpas dan mengalahkan pasukan salib. 

Lalu ketika umat ini mulai lalai dalam penerapan syariat Islam secara total dalam sendi bernegara, para pembenci mulai berkonspirasi untuk merebut kembali tanah Baitulmaqdis dengan menyokong dibentuknya gerakan zionisme. 

Namun di bawah Daulah Utsmaniyah pada masa kekhilafahan Khalifah Abdul Hamid II, yang sejatinya merupakan masa "sekaratnya" negara terakhir umat ini, niat buruk para konspirator itu berhasil digagalkan. Maka, ketika Daulah ini telah tiada, kaum kafir dengan leluasa kembali menggeregoti tanah Baitulmaqdis, berikut menggenosida rakyat di dalamnya.

Apa yang dilakukan oleh Umar, Salahuddin, hingga Abdul Hamid II sejatinya adalah jalan yang digariskan oleh Nabi saw. dalam menjaga setiap jengkal tanah Islam. Seluruh syariat terterap. Militer siap. Pasukan sigap. Barisan umat tegap. Fa Insyaallah para penjajah tak lama akan segera tiarap di hadapan peradaban Islam yang mulia.[]

Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update