“Salah satu bentuk paling
sederhana adalah memperbanyak selawat, sedangkan bukti cinta yang paling utama
adalah itibak atau mengikuti Rasulullah saw.,” tegasnya.
“Maulid Nabi mestinya makin
membuncah cinta kita kepada Nabi Muhammad saw. Itu akarnya,” ujar Ustaz Ismail
dalam kanal YouTube UIY Official yang bertajuk Rahasia Penting di
Balik Maulid Nabi, Rabu (26/08/2026).
Ia mengutip hadis riwayat Muslim
tentang seorang Arab yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai hari kiamat.
“Ketika ditanya apa yang telah
dipersiapkan untuk menghadapi hari kiamat, orang tersebut menjawab bahwa ia
mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw. kemudian bersabda, ‘Engkau
akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’,” kutip UIY.
Menurut UIY, hadis tersebut
menunjukkan besarnya kedudukan cinta kepada Rasulullah saw. “Karena itu, Maulid
Nabi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat kecintaan tersebut,” ujarnya.
“Kalau ada substansi penting dari
Maulid Nabi, tak lain adalah bagaimana meningkatkan cinta kita kepada Nabi,”
katanya.
Selawat
Ustaz Ismail menjelaskan, salah
satu bukti kecintaan kepada Rasulullah saw. yang paling mudah dilakukan adalah
memperbanyak selawat.
“Bukti cinta kita kepada Nabi
yang paling sederhana adalah kegemaran kita untuk menyampaikan selawat
kepadanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selawat merupakan
doa kepada Allah Swt. agar memuliakan Nabi Muhammad saw. Kemuliaan tersebut
mencakup kehidupan dunia maupun akhirat.
“Lebih dari itu, amalan selawat
juga memberikan kebaikan kepada orang yang mengamalkannya. Selawat Allah kepada
hamba-Nya, kata dia, bermakna ampunan, rahmat, dan keberkahan,” ungkapnya.
Itibak
Selain selawat, UIY menekankan
bahwa bukti cinta yang paling utama kepada Rasulullah saw. adalah itibak, yakni
mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya.
“Paling utama tanda cinta kita
kepada Nabi adalah itibak kita kepada Nabi. Dan itu sekaligus tanda atau bukti
cinta kita kepada Allah Swt.,” katanya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan
surah Ali Imran ayat 31 yang memerintahkan umat Islam mengikuti Rasulullah saw.
sebagai bukti kecintaan kepada Allah Swt. “Itibak tidak cukup hanya dalam
bentuk ibadah tertentu, tetapi harus tercermin dalam cara berpikir dan perilaku
seorang Muslim,” sebutnya.
“Itibak kepada Nabi yang tampak
pada dua unsur penting pada diri kita, yaitu cara berpikir dan perilaku,”
jelasnya.
Ia menilai, seorang Muslim
semestinya menjadikan Islam sebagai dasar dalam menentukan cara berpikir dan
bertindak.
“Seorang Muslim mestinya berpikir
dan berperilaku berdasarkan ajaran Islam. Perilakunya tergantung pemikirannya,
pemikirannya tergantung kepada pemahamannya. Pemahamannya itu mestinya
dituntunkan oleh kecintaannya,” katanya.
Dalam paparannya, UIY menyinggung
Michael Hart melalui bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential
Persons in History.
“Hart menempatkan Nabi Muhammad
saw. sebagai tokoh paling berpengaruh dalam Sejarah,” katanya.
Menurutnya, umat Islam seharusnya
tidak hanya mengagumi Rasulullah saw., tetapi juga mengikuti ajarannya.
“Kalau kita ini sebagai seorang Muslim
tidak kagum kepada Nabi Muhammad, kalah kita dibanding Michael Hart. Tetapi
kalau kita hanya kagum saja, tidak itibak, sama kita dengan Michael Hart,”
ujarnya.
Karena itu, ia menilai kecintaan
kepada Rasulullah saw. harus diwujudkan secara menyeluruh, termasuk dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Bagaimana kita bisa berharap
nanti akan bersama Nabi di akhirat? Itu pertanyaan fundamental. Karena itulah
itibak kepada Nabi ini harus menjadi tema utama dari Maulid,” tegasnya.
Ia menambahkan, keteladanan
Rasulullah saw. tidak semestinya hanya dibicarakan dalam momentum Maulid,
tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harus diwujudkan atau
diimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan, utamanya dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara,” pungkasnya.[] Aini