Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cinta Rasulullah, UIY: Harus Diwujudkan secara Nyata

Rabu, 02 September 2026 | 04:28 WIB Last Updated 2026-09-01T21:28:54Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengatakan bahwa cinta kepada Rasulullah saw. harus diwujudkan secara nyata, bukan sekadar pengakuan. “Cinta kepada Rasulullah saw. harus diwujudkan secara nyata, bukan sekadar pengakuan,” sebut UIY.

 

“Salah satu bentuk paling sederhana adalah memperbanyak selawat, sedangkan bukti cinta yang paling utama adalah itibak atau mengikuti Rasulullah saw.,” tegasnya.

 

“Maulid Nabi mestinya makin membuncah cinta kita kepada Nabi Muhammad saw. Itu akarnya,” ujar Ustaz Ismail dalam kanal YouTube UIY Official yang bertajuk Rahasia Penting di Balik Maulid Nabi, Rabu (26/08/2026).

 

Ia mengutip hadis riwayat Muslim tentang seorang Arab yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai hari kiamat.

 

“Ketika ditanya apa yang telah dipersiapkan untuk menghadapi hari kiamat, orang tersebut menjawab bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw. kemudian bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’,” kutip UIY.

 

Menurut UIY, hadis tersebut menunjukkan besarnya kedudukan cinta kepada Rasulullah saw. “Karena itu, Maulid Nabi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat kecintaan tersebut,” ujarnya.

 

“Kalau ada substansi penting dari Maulid Nabi, tak lain adalah bagaimana meningkatkan cinta kita kepada Nabi,” katanya.

 

Selawat

 

Ustaz Ismail menjelaskan, salah satu bukti kecintaan kepada Rasulullah saw. yang paling mudah dilakukan adalah memperbanyak selawat.

 

“Bukti cinta kita kepada Nabi yang paling sederhana adalah kegemaran kita untuk menyampaikan selawat kepadanya,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, selawat merupakan doa kepada Allah Swt. agar memuliakan Nabi Muhammad saw. Kemuliaan tersebut mencakup kehidupan dunia maupun akhirat.

 

“Lebih dari itu, amalan selawat juga memberikan kebaikan kepada orang yang mengamalkannya. Selawat Allah kepada hamba-Nya, kata dia, bermakna ampunan, rahmat, dan keberkahan,” ungkapnya.

 

Itibak

 

Selain selawat, UIY menekankan bahwa bukti cinta yang paling utama kepada Rasulullah saw. adalah itibak, yakni mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya.

 

“Paling utama tanda cinta kita kepada Nabi adalah itibak kita kepada Nabi. Dan itu sekaligus tanda atau bukti cinta kita kepada Allah Swt.,” katanya.

 

Ia mengaitkan hal tersebut dengan surah Ali Imran ayat 31 yang memerintahkan umat Islam mengikuti Rasulullah saw. sebagai bukti kecintaan kepada Allah Swt. “Itibak tidak cukup hanya dalam bentuk ibadah tertentu, tetapi harus tercermin dalam cara berpikir dan perilaku seorang Muslim,” sebutnya.

 

“Itibak kepada Nabi yang tampak pada dua unsur penting pada diri kita, yaitu cara berpikir dan perilaku,” jelasnya.

 

Ia menilai, seorang Muslim semestinya menjadikan Islam sebagai dasar dalam menentukan cara berpikir dan bertindak.

 

“Seorang Muslim mestinya berpikir dan berperilaku berdasarkan ajaran Islam. Perilakunya tergantung pemikirannya, pemikirannya tergantung kepada pemahamannya. Pemahamannya itu mestinya dituntunkan oleh kecintaannya,” katanya.

 

Dalam paparannya, UIY menyinggung Michael Hart melalui bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.

 

“Hart menempatkan Nabi Muhammad saw. sebagai tokoh paling berpengaruh dalam Sejarah,” katanya.

 

Menurutnya, umat Islam seharusnya tidak hanya mengagumi Rasulullah saw., tetapi juga mengikuti ajarannya.

 

“Kalau kita ini sebagai seorang Muslim tidak kagum kepada Nabi Muhammad, kalah kita dibanding Michael Hart. Tetapi kalau kita hanya kagum saja, tidak itibak, sama kita dengan Michael Hart,” ujarnya.

 

Karena itu, ia menilai kecintaan kepada Rasulullah saw. harus diwujudkan secara menyeluruh, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

 

“Bagaimana kita bisa berharap nanti akan bersama Nabi di akhirat? Itu pertanyaan fundamental. Karena itulah itibak kepada Nabi ini harus menjadi tema utama dari Maulid,” tegasnya.

 

Ia menambahkan, keteladanan Rasulullah saw. tidak semestinya hanya dibicarakan dalam momentum Maulid, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Harus diwujudkan atau diimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan, utamanya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” pungkasnya.[] Aini


 

Opini

×
Berita Terbaru Update